Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro.

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro.

Menristek: Fintech Bantu Pemulihan Ekonomi dan Dibutuhkan UMKM

Jumat, 20 November 2020 | 23:45 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Industri financial technology (fintech), termasuk fintech p2p lending dinilai banyak membantu pemulihan perekonomian di Indonesia. Peran fintech juga sangat dibutuhkan untuk mendorong upaya memperkuat UMKM.

Hal itu disampaikan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro saat menjadi pembicara kunci pada acara virtual Investree Conference (I-Con) 2020, Jumat (20/11). Menurut dia, peran positif dari fintech tersebut perlu terus didukung dan diawasi dengan baik.

"Fintech itu sangat membantu upaya pemulihan ekonomi, dan terutama fintech sangat dibutuhkan dalam penguatan UMKM. Dimana UMKM harus dilengkapi oleh teknologi digital dan bagian dari teknologi digital selain masalah akses pasar adalah akses pembiayaan oleh fintech lending," ujar Bambang.

Dia mengemukakan, peluang untuk berkembangnya fintech kedepan begitu luar biasa. Tantangannya adalah pada berbagai pihak, termasuk pelaku bisnis maupun pemerintah harus siap dengan perubahan budaya organisasi kerja. Hal itu perlu didukung aspek infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.

"Jika bisa mengatasi tantangan tersebut, kita punya peluang luar biasa. Karena kesempatan berbisnis akan lebih besar. Big data misalnya bisa membuat scope dari marketing kita bisa lebih luas. Kita bisa lebih tahu strategi penjualan kita yang sesuai dengan kebiasaan pengguna. Lalu mengurangi biaya, serta membantu OJK untuk mendorong inklusi keuangan," ucap Bambang.

Dia menjelaskan, kelebihan lain dari big data yang dikolaborasikan dengan artificial intelligence (AI) bahkan mampu menyederhanakan proses credit scoring pada fintech lending. Sehingga analisa kredit juga bisa lebih cepat dan akurat. Alhasil, inklusi keuangan dan ekonomi secara umum akan ikut terbantu.

Menurut dia, banyak ditemui UMKM yang datang ke jasa keuangan konvensional sulit menembus proses verifikasi dan membutuhkan biaya yang besar. Hal yang sama juga dirasakan penyelenggara jasa keuangan konvensional yang mesti melakukan proses verifikasi dan tidak menutup kemungkinan perlu mengeluarkan banyak biaya.

Di sisi  lain, kehadiran koperasi juga belum mampu menjawab solusi. Karena besaran pembiayaan yang dibutuhkan UMKM terkadang terbatas atau tidak bisa dipenuhi pihak koperasi. Padahal, perlu bagi UMKM menjalankan bisnis yang lebih besar untuk bisa naik tingkat. "Jadi tidak bisa mengandalkan koperasi," kata Bambang.

Dia menilai, fintech lending bisa melakukan mitigasi dengan digital rekam jejak (footprint) yang sudah teridentifikasi pada big data. Bahkan dengan AI, fintech lending sudah bisa terlihat dan menentukan tingkat risiko UMKM. Hal itu menjadi keunggulan fintech lending, sehingga mampu memudahkan pemberi pinjaman (lender) untuk kemudian menyalurkan pembiayaan.

"Termasuk juga pada akhirnya mendorong untuk orang untuk lebih berani melakukan pinjaman, dengan tetap menjaga kehati-hatian. Karena satu sisi pinjaman diperlukan untuk menggulirkan ekonomi, tapi memberikan pinjaman yang tidak berhati-hati atau terlalu besar akan berbahaya juga bagi jasa keuangan," tutur dia.

Dengan proses bisnis tersebut, Bambang memaparkan, fintech lending mampu memberi nilai tambah bruto untuk tujuan produktif selama tahun 2018-2019 kurang lebih sebesar Rp 45 triliun. Di periode yang sama, kontribusi atas tujuan konsumtif sebagai pendorong daya beli tercatat sekitar Rp 35 triliun.

Namun demikian, dia menegaskan, pengawasan dan pengaturan bisa terus diakomodasi tanpa melibas inovasi yang diusung fintech, terutama fintech lending. Karena bukan tidak mungkin pasar gelap atau shadow banking muncul dan mengancam industri secara umum serta masyarakat.

Pada kesempatan sama, Deputi Komisioner OJK Institute dan Keuangan Digital OJK Imansyah mengakui bahwa fintech lending tumbuh dengan cepat. Kehadiran fintech lending pun menjadi pelengkap penyedia dana bagi UMKM atau masyarakat yang membutuhkan.

"Tren positif dari fintech lending tentu OJK apresiasi. OJK dan regulator lain tentu tetap memfasilitasi secara akomodatif untuk perkembangan berbagai platform fintech yang ada," tegas dia.

Dia menerangkan, fintech diatur secara rasional. Maksudnya, pengaturan yang dilakukan adalah dengan menyeimbangan antara inovasi yang diusung serta terkait mitigasi risiko. Dari sisi inovasi adalah yang terkait dengan pembiayaan UMKM, literasi dan inklusi keuangan. Sedangkan sisi mitigasi risiko membahas mengenai perlindungan konsumen, risiko operasional, risiko cyber, dan risiko-risiko lain.

"Posisi OJK, adalah memastikan sektor jasa keuangan di Indonesia tetap stabil. Nah itu juga menjadi concern anggota KSSK lain yakni Kemenkeu, BI, LPS, dan OJK sendiri, paling tidak koridor yang kita lakukan adalah membuat regulasi yang jelas terkait dengan fintech," tandas Imansyah.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN