Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua OJK Wimboh Santoso. Sumber: BSTV

Ketua OJK Wimboh Santoso. Sumber: BSTV

OJK: Ekonomi Digital Percepat Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 10 Juni 2021 | 19:53 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, ekonomi digital akan mempercepat laju pertumbuhan ekonomi nasional, seiring  berkembangnya berbagai platform digital, termasuk di sektor jasa keuangan.

“Banyak sekali platform digital yang berkembang di sektor keuangan. Dan, ini semua akan mendukung mempercepat pertumbuhan ekonomi kita di masa digital ini. Ini juga memperkuat daya saing kita sehingga Indonesia ini akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Wimboh  saat memberikan keterangan pers usai Rapat Terbatas mengenai Hilirisasi Ekonomi Digital yang dipimpin  Presiden  Joko Widodo (Jokowi), di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (10/6/2021).

Ia mengatakan, potensi ekonomi digital Indonesia juga ditunjang oleh jumlah penduduk yang mencapai 272 juta jiwa dan wilayah Nusantara yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Ia berharap para penyedia layanan digital dari dalam negeri mampu menangkap potensi tersebut sehingga tidak diambil oleh bangsa lain.

“Kami yakin ini suatu momentum yang harus kita dorong dan kita kembangkan, sehingga nanti yang menjadi backbone perekonomian kita ke depan adalah perekonomian yang berbasis digital,” ujarnya.

Ia  memaparkan, sejak tahun 2017, OJK telah mencanangkan percepatan transformasi digital di sektor jasa keuangan.

“Ini semua kebijakan OJK sejak tahun 2017 sudah kita canangkan untuk mempercepat mentransformasi bisnis sektor keuangan ini ke arah digital. Karena apa? Karena ini persaingan global, mau tidak mau harus berbasis digital,” ujarnya.

Menurut Wimboh, OJK telah memiliki rencana induk (masterplan) untuk mendigitalisasi sektor jasa keuangan, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan digitalisasi ekonomi nasional.

“Kita ketahui bahwa sekarang ini orang kalau mau transfer uang enggak usah pergi ke bank. Ini bentuk dari produk digital di perbankan. Di samping itu, kita kalau mau kredit sekarang sudah kita arahkan terutama kredit-kredit yang mikro, kecil, menengah tidak usah harus datang secara fisik,” jelas Wimboh.

Digitalisasi, lanjutnya, akan mempermudah dan memberikan pelayanan yang lebih baik, murah, cepat, serta dapat menjangkau kawasan yang lebih jauh.

“Kita yakin dengan digital ini sektor keuangan akan menjangkau nasabah yang lebih banyak lagi, bahkan dengan ongkos yang lebih murah. Ini akan memberikan sumbangan ya pertumbuhan ekonomi kita yang lebih cepat dan lebih besar.” ujarnya.

Wimboh juga mengungkapkan berbagai jasa keuangan berbasis digital atau fintech terus tumbuh dan berkembang. Salah satunya, yang saat ini marak, adalah jasa peminjaman melalui fintech peer to peer (P2P) lending atau fintech lending.

“Sekarang ini lending tidak hanya diberikan oleh lembaga keuangan maupun oleh bank tapi bisa dilakukan oleh peer to peer. Jumlah yang diberikan pinjaman melalui P2P ini sudah besar sekali, yaitu Rp194,1 triliun,” katanya.

Sampai saat ini, total jumlah penyelenggara  fintech lending yang terdaftar dan berizin di OJK telah mencapai sekitar 146 perusahaan. Selain itu, masih terdapat entitas yang belum terdaftar dan berizin.

“Yang ilegal banyak sekali dan tentunya akan kami tertibkan untuk semua itu memenuhi peraturan,” ujar Wimboh. Selain fintech lending, ungkap Wimboh, terdapat juga jas penawaran efek melalui layanan urun dana berbasis digital atau securities crowdfunding.

“Jadi anak-anak muda yang belum mempunyai credit record di bank ya silakan mengeluarkan surat utang melalui pasar modal yang kita sebut securities crowdfunding, terutama apabila sudah mempunyai proyek-proyek terutama  proyek dengan pemerintah,” kata Wimboh.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN