Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dana Syariah

Dana Syariah

Pembiayaan Syariah, Alternatif Memproduktifkan Dana Saat Pandemi

Jumat, 16 Oktober 2020 | 16:30 WIB
Windarto

Jakarta,Investor.id-Pandemi Covid-19 membuat teknologi digital semakin banyak digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk kebutuhan keuangan. Keberadaan perusahaan financial technology (fintech) menjadi solusi kebutuhan keuangan atau modal bagi masyarakat. Fintech juga berperan sebagai komplementer dan bisa berkolaborasi dengan lembaga keuangan lain dalam rangka melayani masyarakat yang belum terjangkau layanan atau belum mendapatkan akses untuk mendapatkan modal dari lembaga keuangan tersebut. Melalui teknologi informasi, fintech turut menggerakkan aktivitas ekonomi dan mendorong inklusi keuangan.

Sebagian besar bisnis fintech merupakan peer to peer (P2P) financing, dan hanya sedikit yang berbasis syariah. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Agustus 2020, ada 157 perusahaan fintech yang terdaftar, 12 di antaranya berprinsip syariah. Aset keseluruhan fintech tercatat sebesar Rp 3,18 triliun dengan pertumbuhan dari Januari-Agustus 2020 (year to date) sebesar 4,92%. Sementara aset pembiayaan syariah tercatat sebesar Rp 64,97 miliar dengan pertumbuhan 28,36%.

Jumlah pelaku fintech syariah yang masih sedikit menjadi potensi menarik dan punya ruang untuk bertumbuh lebih besar. Hal ini pula yang membuat PT Dana Syariah Indonesia (Dana Syariah) bisa berkembang cukup cepat sejak terdaftar di OJK pada 2018. Fintech syariah yang fokus menggarap bisnis pembiayaan properti ini dalam dua tahun mencatat pertumbuhan signifikan hingga 300%. “Hingga saat ini (Oktober), kami sudah menyalurkan pembiayaan mencapai Rp 800 miliar, dan itu sudah 1.000 proyek yang kami danai,” tutur Founder dan Presiden Direktur Dana Syariah Taufiq Aljufri.

Founder dan Presiden Direktur PT Dana Syariah Indonesia (Dana Syariah) Taufiq Aljufri : Tahun ini optimistis pembiayaan mencapai Rp 1 triliun.
Founder dan Presiden Direktur PT Dana Syariah Indonesia (Dana Syariah) Taufiq Aljufri : Tahun ini optimistis pembiayaan mencapai Rp 1 triliun.

Disampaikan Taufiq, kenaikan signifikan tersebut tidak terlepas dari tren syariah yang berkembang di masyarakat. Tidak saja dalam menggunakan produk-produk halal seperti busana, makanan, wisata, termasuk keuangan.

Kondisi pandemi rupanya tidak terlalu berdampak terhadap bisnis Dana Syariah. Hal ini karena perusahaan memilih para developer (pengembang) sebagai target debitur (borrower) yang dibiayai. Penyaluran pun diberikan hanya pada pengembang yang sudah memiliki pembeli untuk properti yang dibangun. Kebijakan itulah yang membuat Dana Syariah relatif tidak terlalu terpengaruh dengan adanya pandemi.

Dengan menggunakan skema syariah, lanjut Taufiq, ada beberapa kelebihan dibandingkan skema konvensional, antara lain menjunjung tinggi asas transparansi, asas kejujuran, asas keadilan, asas tidak saling menzhalimi antar pihak yang bertransaksi. “Dengan asas keadilan yang seperti itu maka tidak ada pihak yang diuntungkan di atas kerugian pihak lain, dan tidak ada perlakuan yang sepihak atau represif kepada pihak lain. Jadi kondisi pandemi ini membuktikan bahwa potensi perselisihan antara para pihak sudah diantisipasi pada skema syariah. Artinya para pihak sudah lebih siap terhadap kondisi yang menguntungkan maupun yang kurang menguntungkan,” paparnya.

Dana Syariah pun terbilang selektif dalam menyalurkan pembiayaan. Pertama, melakukan credit scoring bekerja sama dengan Pefindo untuk melakukan pengecekan terhadap calon debitur. Cara ini untuk melihat rekam jejak pengembang tersebut terkait pinjam meminjam yang dilakukan sebelumnya. Kedua, memastikan properti yang akan dibiayai tersebut sudah ada pembeli atau pemesannya, dibuktikan misalnya dengan surat pemesanan, booking fee, atau down payment. Jika belum ada, Dana Syariah tidak akan memberikan pembiayaan. Ketiga, Dana Syariah pun memastikan properti tersebut legal secara fisik, juga aman secara legalitas. Hal ini untuk menghindari terjadi sengketa di kemudian hari, misalnya karena perizinan atau tanahnya kena gusur dsb.

Prinsip kehati-hatian yang diterapkan Dana Syariah dalam memilih debitur ini terbukti dari tingkat keberhasilan (TKB) atau kolektibilitas yang berada di atas angka 99%, dan tingkat wan prestasi (TWB) atau non performing finance di bawah 1%. Menurut Taufiq, hal tersebut menunjukkan bahwa skema syariah lebih bagus dalam menangani situasi jika terjadi default. Ada kondisi-kondisi yang sudah disiapkan dari awal secara transparan dan secara etika bisnis menjunjung asas keadilan antara penerima pembiayaan dan pemberi pembiayaan. Dengan pencapaian bagus hingga Oktober tersebut, Taufiq optimistis pembiayaan yang disalurkan hingga akhir tahun ini bisa mencapai Rp 1 triliun.

Proyek-proyek yang sudah dibiayai Dana Syariah tersebar di berbagai kota seperti Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Medan, Lampung, Makassar, dan Denpasar. Plafon pembiayaan yang diberikan untuk satu pengembang senilai Rp 300 juta-Rp 2 miliar. Plafon pembiayaan tersebut bisa dipakai untuk membangun beberapa unit properti, bisa hunian atau ruko. Saat ini, tutur Taufiq, melalui asosiasi fintech, sedang diusulkan kepada OJK agar plafon pembiayaan yang bisa diberikan oleh fintech dinaikkan hingga mencapai Rp 5 miliar atau bahkan Rp 10 miliar. Penambahan plafon pembiayaan tersebut bisa meningkatkan skala bisnis dan jenis proyek properti yang dibiayai ke depan.

 

Pendanaan Menarik

Bisnis P2P financing memberi ruang secara terbuka buat masyarakat untuk berpartisipasi sebagai pemberi dana (pendana) atau crowdfunding, yang kemudian diproduktifkan melalui perputaran dana yang disalurkan. Dana Syariah memiliki keunikan, perusahaan fintech syariah dengan fokus pembiayaan properti. Menurut Taufiq, ada beberapa alasan mengapa Dana Syariah memilih properti sebagai fokus bisnisnya. Pertama, dari sisi keunggulan, properti menjanjikan keuntungan paling tinggi dibandingkan bisnis P2P financing lainnya. Kedua, properti yang dibiayai tersebut bisa dijadikan agunan atau jaminan atas pembiayaan yang diterima pengembang. “Dari sisi karakter, properti tidak berpindah-pindah, dan nilainya cenderung meningkat terus, berbeda dengan kendaraan yang bisa berpindah-pindah dan nilainya cenderung turun. Jadi secara jaminan lebih aman,” lanjut Taufiq.

Saat ini yang tercatat sebagai member Dana Syariah lebih dari 129 ribu orang, dan yang sudah terbilang sebagai pendana sebanyak 50 ribu orang, selebihnya masuk kategori wait and see. Syarat bergabung menjadi pendana di Dana Syariah terbilang mudah, individu maupun lembaga bisa mendaftarkan diri dan menyetorkan dana senilai Rp 1 juta. Nantinya, dana tersebut bisa digunakan untuk membiayai proyek-proyek yang ditawarkan.

Hal yang menarik, dari jumlah pendana yang tergabung di Dana Syariah, 70% merupakan kelompok milenial. Dengan mengunduh aplikasi melalui Google Play dan App Store, yang semula tidak terpikir melakukan pendanaan pada pembiayaan properti, ternyata dengan uang Rp 1 juta sudah bisa ikut. Konsep syariah yang berlaku secara universal dan menjunjung etika bisnis, juga membuka kesempatan bagi non muslim turut berpartisipasi sebagai pendana. Setidaknya ada 15% pendana berasal dari kalangan ini.

Berapa keuntungan yang diterima pendana? Imbal hasil yang diberikan tergantung kesepakatan antara pengembang dan Dana Syariah. Pada dasarnya pengembang sudah memiliki pembeli dan sudah mengantongi keuntungan, biasanya Dana Syariah bernegosiasi berapa besaran imbal hasil yang akan diberikan pengembang dari pembiayaan yang diberikan. Setelah kesepakatan tercapai, proyek tersebut ditawarkan kepada pendana dengan nominal pembiayaan dan imbal hasil yang akan diterima. Menurut Taufiq, saat ini rata-rata imbal hasil untuk pendana berada di kisaran 15%-20%.

Imbal hasil tersebut akan dibagikan setiap bulan langsung ke rekening pemilik dana. sedangkan pokok dan sisa imbal hasilnya, diberikan pada akhir tenor pendanaan, dari mulai tenor 3 bulan sampai yang 12 bulan, tergantung dari proyek yang dipilih sendiri oleh pendana melalui aplikasi Danasyariah. “Keuntungan yang ditawarkan kepada pendana adalah cara mudah memproduktifkan dananya secara aman dengan imbal hasil bulanan yang relatif tinggi dan sesuai dengan Syariah. Dengan skema syariah, akan menambah rasa ketentraman dan kenyamanan pemilik dana, karena rezeki yang diperolehnya Insya Allah lebih terjamin Ke-halalan-nya,” urai Taufiq.

Tren penggunaan produk-produk halal dan keuangan syariah yang semakin berkembang di masyarakat menjadi momentum bagi para pelaku bisnis syariah untuk menampilkan citra positif bahwa syariah memang unggul dan lebih baik.

Menurut Taufiq, upaya membangun citra positif dan 'ghirah' masyarakat agar tertarik menggunakan pembiayaan syariah antara lain dengan cara mempermudah masyarakat dalam mendapatkan informasi mengenai produk-produk keuangan syariah melalui berbagai media yang akrab dengan masyarakat seperti media sosial. Industri terkait dapat memberikan edukasi melalui channel yang dimiliki para pelaku fintech dan OJK. Selain itu, para pelaku bisnis syariah turut pula memeriahkan Bulan Inklusi Keuangan dengan berbagai kegiatan yang diselenggarakan.

Tahun depan, Dana Syariah menargetkan dapat meningkatkan daya mediasinya agar lebih banyak pendana yang bisa dilayani baik dari sisi jumlah dana maupun sebaran secara geografis dan demografis. Kemudian dari jenis layanan pendanaan di bidang properti yang dibutuhkan masyarakat pelaku usaha maupun konsumen properti. Dengan tujuan meningkatkan kemudahan masyarakat untuk memiliki hunian yang layak dengan skema syariah

Editor : Maswin (maswin@investor.co.id )

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN