Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Pengaduan Konsumen Terkait Fintech Lending Menurun

Minggu, 22 November 2020 | 20:05 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyatakan bahwa pengaduan terkait penyelenggara fintech p2p lending pada periode Januari sampai November 2020 menunjukan tren penurunan. Hingga saat ini, pengaduan yang dihimpun sebanyak 3.726 laporan.

Direktur Eksekutif AFPI Kuseryansyah mengatakan, tren penurunan jumlah pengaduan menunjukan efektivitas peranan asosiasi dalam memberikan pengawasan kepada anggota.

Selain itu, sosialisasi juga untuk meningkatkan literasi keuangan digital yang dilakukan oleh asosiasi dan anggota kepada masyarakat.

"AFPI sebagai asosiasi dari seluruh penyelenggara fintech pendanaan di Indonesia yang terdaftar dan berizin OJK, akan terus hadir untuk masyarakat dengan memberikan sosialisasi dan edukasi untuk meningkatkan literasi keuangan digital. Termasuk menerima dan menindaklanjuti pertanyaan dan pengaduan layanan fintech pendanaan, khususnya yang dijalankan oleh anggota kami," ujar Kuseryansyah.

Dia menerangkan, AFPI membuka layanan informasi publik dan pengaduan terkait industri fintech pendanaan sejak Maret 2019 dalam website AFPI (www.afpi.or.id). Layanan itu dinamakan JENDELA. Adapun pengaduan yang dihimpun selama ini terkait bunga, pelanggaran data pribadi, penagihan tidak beretika, restrukturisasi dan lainnya.

Kuseryansyah memaparkan, AFPI mencatat sepanjang tahun 2020 pengaduan terbanyak sebesar 46% mengenai penagihan tidak beretika. Disusul dengan kategori pengaduan terkait restrukturisasi sebesar 22,52%, kemudian kategori lainnya sebesar 17,74% yang berisikan pertanyaan dan masukan dari masyarakat, kemudian kategori pengaduan kategori pelanggaran data pribadi sebesar 7,7% dan pengaduan kategori besaran bunga 5,23%.

Dia menambahkan, jumlah pengaduan kategori penagihan tidak beretika turun signifikan. Jika di awal tahun masih berkontribusi 6,76% dari total pengaduan, di November 2020 menjadi 1,85%. Penurunan terbesar pada Mei 2020 yang hanya berkontribusi 1,69% dari total pengaduan. “Hal ini dikarenakan pemberlakuan Ketentuan Pedoman Perilaku mengenai etika penagihan industri, serta pengawasan penerapannya terbukti efektif untuk meredam hal tersebut,” ucap Kuseryansyah.

Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra dalam diskusi Zooming with Primus - Prospek Bisnis Fintech di Indonesia di BeritasatuTV, Kamis (9/7/2020). Sumber: BSTV
Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra. Sumber: BSTV

Sementara itu, Juru Bicara AFPI Andi Taufan Garuda Putra menyatakan data dalam layanan JENDELA, AFPI menghimpun pengaduan konsumen dari fintech lending legal yang merupakan anggota AFPI sebanyak 58,4%.

Selanjutnya, fintech lending ilegal sebanyak 41,6%. Data terkini, kata dia, menunjukkan jumlah pengaduan terkait fintech lending ilegal mengalami penurunan signifikan. Pada Maret 2019 mencapai 611 laporan dan berangsur menurun hingga pada November 2020 sebanyak 65 laporan.

"Hal tersebut menunjukan bahwa masyarakat semakin berhati-hati dan cerdas dalam memilih layanan fintech pendanaan yang legal dan terpercaya. AFPI secara aktif berupaya menciptakan iklim industri fintech pendanaan yang lebih kondusif, melalui pengawasan, edukasi dan membanguun kerjasama diantaranya Direktorat Cyber Crime Polri, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), perbankan nasional hingga Google Indonesia," kata Taufan.

Taufan mengungkapkan, AFPI sebagai mitra dari OJK akan terus bekerjasama dengan sejumlah pihak untuk memajukan dan mempercepat pertumbuhan industri fintech lending, sehingga dapat memberikan manfaat dan perlindungan bagi masyarakat pengguna jasa, baik sebagai borrower (peminjam) maupun sebagai lender (pemberi pinjaman).

Di sisi lain, OJK juga mencatat penyaluran pembiayaan fintech lending sepanjang September 2020 diketahui telah kembali normal seperti sebelum pandemi Covid-19. Hal tersebut diikuti tren positif dari tingkat keberhasilan 90 hari (TKB 90) yang bergerak naik.

Per September 2020, penyaluran pembiayaan baru fintech lending mencapai Rp 6,82 triliun atau naik 39% (month to month/mtm). Sedangkan sebelum pandemi, pembiayaan baru fintech lending pada Desember 2019 sampai Maret 2020 tercatat pada kisaran Rp 6,8 triliun sampai Rp 7,1 triliun. Adapun total penyaluran pembiayaan baru fintech lending sampai September 2020 mencapai Rp 42,70 triliun atau naik 25,06% secara tahunan (year on year/yoy). Sedangkan AFPI sempat memprediksi bahwa penyaluran tahun ini setidaknya sebesar Rp 60 triliun.

Selanjutnya, seiring dengan pembiayaan yang kian pulih, per September 2020 fintech lending mampu memperbaiki kualitas pembiayaan. TKB 90 naik tipis, dari 91,12% di Agustus menjadi 91,73%. Kendati demikian, tingkat wanprestasi 90 hari (TWP 90) masih diatas 8%.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN