Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fintech. Foto ilustrasi: IST

Fintech. Foto ilustrasi: IST

Persaingan Ketat, Tren Tingkat Bunga Fintech Lending Mulai Menurun

Minggu, 21 Februari 2021 | 09:06 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyatakan ketatnya persaingan di industri fintech p2p lending turut mendorong tren tingkat bunga pinjaman bergerak turun. Suku bunga pinjaman masih memiliki ruang untuk turun melalui efisiensi biaya dari berbagai inovasi yang dihadirkan.

Direktur Eksekutif AFPI Kuseryansyah memaparkan, tingkat bunga pinjaman fintech lending berasal dari biaya-biaya utamanya seperti digital marketing, biaya administrasi, dan bunga bagi pemilik dana (lender). AFPI sendiri telah mengatur bunga pinjaman sebesar 0,8% per hari dari total seluruh biaya.

Kendati tidak ada data pasti yang dipaparkan, Kuseryansyah menilai tran suku bunga pinjaman fintech lending cenderung menurun.

"Ada (tren penurunan suku bunga pinjaman), kalau tenor lebih panjang, maka pengenaan bunganya juga turun. Kedua, ada tren penurunan bunga karena pemain fintech lending banyak yang besar-besar dalam 2 tahunan ini," kata Kuseryansyah pada suatu Webinar, pekan ini.

Dia menyatakan, meningkatnya kualitas industri dan tumbuhnya sejumlah pemain-pemain besar di masa mendatang akan menghadirkan persaingan yang ketat. Dari fenomena tersebut, mau tidak mau setiap perusahaan harus menjawab tantangan efisiensi dari berbagai pos biaya untuk bisa memangkas tingkat bunga pinjaman. Maka perusahan yang berhasil menekan biaya yang akan memenangkan peta persaingan di fintech lending.

Kuseryansyah menerangkan, terdapat sejumlah faktor untuk fintech lending bisa menurunkan bunga pinjamannya. Misalnya biaya internet, berbagai hal biaya terkait risiko seperti peningkatan kemampuan credit scoring, biaya asuransi yang terintegrasi, serta biaya operasional lainnya.

Adanya inovasi yang bisa dihadirkan fintech lending, baik dari internal perusahaan atau kolaborasi yang dijalin bukan tidak mungkin turut menekan biaya-biaya.

Namun demikian, dia mengungkapkan, fintech lending mesti tetap bijaksana menjaga tata kelola dan manajemen risikonya seiring penawaran suku bunga pinjaman yang kompetitif. Selain itu, perusahaan juga mesti memastikan kelangsungan bisnis jangka panjang.

Direktur Utama AdaKami Bernardino M Vega Jr pada konferensi pers virtual AdaKami Siap Dukung Satu Juta Pelaku Ekonomi Riil untuk Pemulihan Nasional di 2021, Rabu (17/2). Foto:Investor Daily/Prisma Ardianto
Direktur Utama AdaKami Bernardino M Vega Jr pada konferensi pers virtual AdaKami Siap Dukung Satu Juta Pelaku Ekonomi Riil untuk Pemulihan Nasional di 2021, Rabu (17/2). Foto:Investor Daily/Prisma Ardianto

Pada kesempatan sama, Direktur Utama Fintech Lending Multiguna AdaKami Bernardino M Vega Jr menuturkan, untuk perusahaan mendapatkan aplikasi pembiayaan yang telah disetujui menempuh jalan panjang dan menghabiskan biaya cukup tinggi. Misalnya untuk tanda tangan digital, autentikasi KTP, dan asuransi pinjaman, yang seluruhnya mengeluarkan biaya.

Selain itu, sambung dia, biaya paling besar yang dikeluarkan adalah terkait pemasaran produk. Dalam hal ini, perseroan menyasar segmen penerima pinjaman (borrower) multiguna yang dalam kesehariannya turut melakukan aktivitas di media sosial atau platform digital.

"Di kita (biaya) paling tinggi itu digital marketing. Kebanyakan nasabah-nasabah kami, bukan semata billboard atau tv, dia juga ada akses ke internet seperti penonton Youtube, Netflix, atau pengguna smartphone. Merekalah pengguna kita, itu cost-nya relatif besar," kata Dino.

Deputi Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan pada webinar berjudul Peran Fintech dalam Pemulihan Ekonomi Nasional, Rabu (17/2). (Prisma Ardianto/Investor Daily)
Deputi Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan pada webinar berjudul Peran Fintech dalam Pemulihan Ekonomi Nasional, Rabu (17/2). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

Dalam kesempatan itu juga, Deputi Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan menyinggung tren suku bunga pinjaman menjadi salah satu tantangan fintech lending di tahun ini. Dia menilai, suku bunga dapat ditekan para penyelenggara dengan terus meningkatkan kemampuan credit scoring.

"Terkait suku bunga pinjaman, memang AFPI mematok bunga 0,8% per hari. Kalau di sektor produktif itu lebih rendah. Ini menjadi tantangan di 2021, bagaimana bunga bisa ditekan lagi. Dengan mempertajam credit scoring dan AI (artificial intelligence) yang lebih andal," kata dia.

Munawar menambahkan, credit scoring yang lebih mumpuni juga akan mendorong kualitas pembiayaan (tingkat keberhasilan bayar 90 hari/TKB 90) menjadi lebih baik. Di akhir 2020, rasio TKB 90 fintech lending yang bertengger di posisi 95,22%. Sedangkan pembiayaan tersalurkan tumbuh melambat 26,27% (yoy) menjadi Rp 74,41 triliun.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN