Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Muhammad Aidil Zulkifli, Presiden Direktur PT Digital Alpha Indonesia (Uang Teman). Foto: Investor Daily/IST

Muhammad Aidil Zulkifli, Presiden Direktur PT Digital Alpha Indonesia (Uang Teman). Foto: Investor Daily/IST

MUHAMMAD AIDIL ZULKIFLI, Presiden Direktur PT Digital Alpha Indonesia (Uang Teman)

Sukses Itu Bagian dari Proses Belajar

imam suhartadi, Senin, 15 April 2019 | 23:43 WIB

Kesuksesan dan belajar memiliki hubungan kausalitas yang sangat kuat. Bahkan, setiap keberhasilan yang diraih seseorang pada hakikatnya merupakan bagian dari proses belajar. Itu sebabnya, seseorang yang telah berhasil mencapai sesuatu, tak boleh berhenti belajar. Dengan belajar, ia bisa memperbaiki diri dan meningkatkan kemampuannya secara terus-menerus, untuk mendapatkan keberhasilan pada level yang lebih tinggi. Ia tidak boleh merasa paling tahu atau paling hebat. Sebab jika merasa demikian, berarti dirinya sudah tamat.

“Saat seseorang berpikir sudah tahu segalanya maka sama saja orang itu mati. Sebagai pribadi, ia berhenti untuk bertumbuh,” kata Muhammad Aidil Zulkifli, presiden direktur PT Digital Alpha Indonesia, penyedia layanan pinjaman online mikro pertama di Indonesia yang dikenal dengan nama Uang Teman.

Filosofi yang ditanamkan Muhammad Aidil Zulkifli sungguh relevan dengan industri teknologi finansial (financial technology/ fintech) yang sangat dinamis, adaptif, serta senantiasa menuntut ide, inovasi, dan pembaruan secara terus-menerus.

“Uang Teman didirikan dengan ide yang dalam dunia digital diistilahkan sebagai disruptif. Itu karena semangatnya adalah memberikan sesuatu yang baru,” ujar warga negara Singapura kelahiran 22 Oktober 1985 tersebut.

Tak mengherankan jika dalam memimpin Uang Teman, Aidil berupaya mendorong setiap karyawan perusahaan rintisan (startup) peer to peer (P2P) lending atau layanan bisnis pinjaman dari pengguna ke pengguna itu senantiasa menghadirkan ide dan inovasi baru. “Saya selalu membuka ruang bagi setiap karyawan untuk mewujudkan ide-idenya, sekecil apa pun ide tersebut,” tegas dia.

Uang Teman, salah satu pelopor industri fintech lending di Indonesia, didirikan untuk membantu masyarakat yang ingin mendapatkan akses kredit. Sekitar 90% nasabah Uang Teman tidak memiliki akses terhadap layanan kredit perbankan. “Nasabah kami telah mencapai 80 ribu lebih,” tutur dia.

Aidil Zulkifli optimistis Uang Teman bakal terus bertumbuh dan berkembang di Indonesia. Terlebih industri fintech di Tanah Air sedang mengalami revolusi besarbesaran, di mana platform penyedia pinjaman berbasis teknologi berhasil mendobrak dan menjadi pendorong utama industri fintech di Indonesia.

Apa saja kiat sukses Muhammad Aidil Zulkifli? Bagaimana ia menerapkan nilai-nilai kepemimpinan? Apa obsesinya mengenai industri fintech di Indonesia? Benarkah 2019 akan menjadi tahun penentu masa depan industri fintech P2P lending di Indonesia? Berikut penuturan lengkapnya kepada wartawan Investor Daily Imam Suhartadi di Jakarta, baru-baru ini:

Muhammad Aidil Zulkifli, Presiden Direktur PT Digital Alpha Indonesia (Uang Teman). Foto: Investor Daily/IST
Muhammad Aidil Zulkifli, Presiden Direktur PT Digital Alpha Indonesia (Uang Teman). Foto: Investor Daily/IST

Bisa dijelaskan perjalanan karier Anda hingga mendirikan dan memimpin Uang Teman?

Saya mendirikan Uang Teman sebagai perusahaan rintisan saya yang ketiga. Sebelumnya saya membuat Cekaja.com dan LoanGarage. Dua perusahaan itu diakuisisi investor karena memiliki prospek yang menarik. Awalnya saya merasa cukup puas karena mendapatkan uang yang cukup. Tapi setelah dipikirpikir, sepertinya hasil dari akuisisi belum cukup untuk dana pension saya. Karena itu, akhirnya saya memutuskan untuk mendirikan Uang Teman, platform fintech yang memberikan pinjaman mikro cepat dan tanpa jaminan.

Anda punya latar belakang pendidikan fintech?

Latar belakang pendidikan saya adalah hukum. Setelah menjalani kuliah selama empat tahun dan meraih gelar sarjana hukum (dengan predikat honours) dari Fakultas Hukum National University of Singapore (NUS). Setamat dari NUS, saya malang melintang di sejumlah firma hukum.

Saya pernah menimba pengalaman untuk isu hokum internasional, cyber crimes dan arbitrasi. Bahkan selama dua tahun saya pernah menjalani full time lawyer untuk commercial litigation. Justru karena terjun di bidang hukum itu akhirnya saya tahu banyak orang yang ternyata membutuhkan pinjaman uang secara cepat dan bisa diandalkan. Banyak kolega saya yang mengeluhkan lamanya proses pencairan pinjaman, padahal dana yang dibutuhkan kecil. Makanya saya terpikir untuk terjun ke dunia fintech. Awalnya banyak yang menganggap ide saya gila, memberikan pinjaman tanpa agunan dan prosesnya tanpa tatap muka dengan nasabah. Tapi semakin ide itu dianggap gila, saya justru semakin bersemangat.

Berapa banyak nasabah dan kredit yang disalurkan Uang Teman?

Pertumbuhan Uang Teman masih positif. Jika dirata-rata sejak melayani nasabah pada 2015, Uang Teman mencatatkan pertumbuhan lebih dari 200% setiap tahun. Jumlah nasabah juga terus bertambah, total sudah 80 ribu lebih nasabah yang memanfaatkan layanan Uang Teman. Saya berharap momentum positif ini bisa terus kami pertahankan setiap tahun.

Anda mengembangkan bisnis fintech di Indonesia, bukankah industri fintech di Singapura lebih berkembang?

Betul, fintech di Singapura sudah maju. Tapi bukan itu poinnya. Salah satu alasan saya mendirikan Uang Teman adalah karena banyak orang yang memiliki masalah dalam mengakses layanan kredit. Karena itu, saya memilih mendirikan Uang Teman di Indonesia, sebab masyarakatnya banyak yang belum bisa mengakses layanan perbankan. Artinya, kami turut membantu memberikan credit score untuk mereka. Secara jangka panjang, credit score itu bisa memudahkan nasabah kami juga untuk mengajukan kredit kepada perbankan di kemudian hari. Jika kemudian Uang Teman menjadi perusahaan besar atau bahkan menjadi Unicorn, bagi saya itu adalah bonus.

Ada rencana IPO?

Go public atau penawaran umum perdana (initial public offering/ IPO) saham tentu saja rencana yang baik. Tapi sekali lagi, itu bonus karena tujuan Uang Teman adalah membantu masyarakat.

Kelebihan Uang Teman dibanding yang lain?

Pada prinsipnya Uang Teman hadir untuk memberikan kemudahan masyarakat yang membutuhkan dana dalam waktu cepat. Uang Teman sebagai pelopor fintech P2P lending di Indonesia membuktikan bahwa model bisnis yang kami jalankan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Tentu saja itu salah satu keunggulan kami.

Artinya kami memiliki kredibilitas dan akuntabilitas sebagai perusahaan P2P lending yang terpercaya. Apalagi saat ini masalah kepercayaan terhadap industri ini sedang menjadi sorotan publik, sehingga aspek public trust itu menjadi salah satu keunggulan kami.

Aspek lainnya adalah pertumbuhan penyaluran yang trennya meningkat, diimbangi tingkat kredit bermasalah (non performing loans/NPL) kami yang tetap terjaga, Itu membuktikan bahwa operasional Uang Teman sangat baik.

Terobosan Anda yang paling strategis di Uang Teman?

Saya yakin setiap keputusan yang saya ambil selama ini, tentunya atas pertimbangan dan masukan dari tim manajemen yang lain, merupakan langkah strategis untuk kelangsungan perusahaan. Sebagai pelopor di bisnis fintech P2P lending, tentu kami menghadapi banyak ‘persimpangan jalan’ yang membutuhkan pengambilan keputusan yang cepat dan akurat supaya kami tidak salah jalan. Tren pertumbuhan bisnis yang positif saat ini membuktikan bahwa keputusan-keputusan yang saya buat sangat strategis. Dengan begitu, Uang Teman bisa terus melayani masyarakat.

Apa peluang dan tantangan terbesar fintech di Indonesia?

Terus menggeliatnya industry fintech menunjukkan bahwa peluang industri ini untuk terus tumbuh masih sangat besar. Tapi itu juga merupakan tantangan karena perlu edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat supaya mereka bisa mengelola pinjaman dari fintech secara produktif.

Kita tentu pernah mendengar banyaknya keluhan akibat pinjaman online, itu karena masyarakat masih perlu pemahaman lagi. Mereka tergiur oleh kemudahan dalam meminjan, tapi lupa memeriksa status pemberi pinjaman tersebut. Akibatnya, mereka terjerat pinjaman dari perusahaan fintech ilegal. Itu salah satu tantangan terbesar dalam industri fintech di Indonesia saat ini.

Industri fintech di Indonesia sedang mengalami revolusi besar-besaran. Ini dapat dilihat terutama dari kenyataan bahwa para platform penyedia pinjaman berbasis teknologi berhasil mendobrak dan menjadi pendorong utama perkembangan industri fintech.

Sebelumnya sebagian besar pemain fintech merupakan penyedia jasa pembayaran dan situs pembanding. Sekarang fintech lending lebih dominan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan sampai akhir tahun ini jumlahnya perusahaan P2P lending akan bertambah menjadi 244 perusahaan disbanding tahun sebelumnya hanya 88 perusahaan. Data OJK menunjukkan, akumulasi nilai pinjaman yang disalurkan fintech lending di Indonesia telah mencapai Rp 23,2 triliun dengan tingkat pertumbuhan 800% lebih sejak awal beroperasinya perusahaanperusahaan fintech lending.

Pertumbuhan industri yang masif selama dua tahun terakhir sejak dikeluarkannya Peraturan OJK No 77 Tahun 2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (POJK 77) tidaklah mengejutkan. Tren pertumbuhan positif tentunya diharapkan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Tahun 2019 ini menarik dan mungkin akan menjadi penentu pertumbuhan fintech pendanaan di Indonesia pada masa mendatang.

Secara khusus, tahun ini akan menjadi tahun percobaan, di mana kita akan mengetahui apakah pasar, infrastruktur, siklus kredit, dan modal yang tersedia bagi industri ini akan mendorong pertumbuhan industri secara berkesinambungan. Tahun ini juga sepertinya akan menunjukkan bagaimana berbagai platform di dalam industri fintech akan mulai terkonsolidasi. Itu adalah hal yang wajar dan tidak terhindarkan sebagai konsekuensi dari semakin ketatnya kompetisi.

Seberapa besar dampak konsolidasi pada industry fintech?

Dalam jangka pendek situasi ini akan menyakitkan bagi para investor yang menanamkan modalnya pada platform yang tidak menjalankan tata kelola yang baik, atau bahkan lebih menyakitkan bagi industri.

Namun, dalam jangka panjang, ini akan memberikan kebaikan bagi Indonesia, karena pada akhirnya pasar akan diisi oleh platform yang benar-benar memiliki kapabilitas sangat baik dalam berkompetisi untuk memperebutkan konsumen. Keberhasilan atau kegagalan layanan keuangan akan memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia. Meskipun saat ini fintech pendanaan belum mencapai skala yang cukup signifikan untuk berdampak pada stabilitas ekonomi, saya justru melihat akan lebih baik jika proses konsolidasi terjadi pada masa-masa sekarang ini. Proses seleksi alam diperlukan agar pemain lemah dapat digeser dari percaturan sejak awal sehingga standar tertinggi dapat diterapkan dan dijaga demi keamanan ekonomi jangka panjang Indonesia.

Gaya kepemimpinan yang Anda terapkan?

Uang Teman didirikan dengan ide yang dalam dunia digital diistilahkan sebagai disruptif. Itu karena memang semangatnya adalah memberikan sesuatu yang baru. Saya selalu mendorong setiap anggota tim di Uang Teman untuk menghadirkan ide dan inovasi baru.

Sebagai perusahaan rintisan, tentu kami akan terus mencoba lebih bersikap fleksibel dan menyesuaikan diri dengan keadaan saat ini. Prinsipnya kami selalu membuka ruang bagi setiap karyawan untuk mewujudkan ide-idenya, sekecil apa pun ide tersebut.

Arti karyawan bagi Anda?

Karyawan merupakan bagian penting bagi saya. Uang Teman bisa menjadi sebesar ini tentu karena kontribusi setiap karyawan. Sebagai perusahaan teknologi, pengembangan teknologi di Uang Teman memang penting supaya perusahaan bisa terus maju. Tapi saya tidak bisa menjalankan Uang Teman seorang diri. Karena itu, karyawan tetap merupakan asset terpenting dalam kemajuan Uang Teman.

Filosofi hidup Anda?

Saya telah tumbuh untuk percaya bahwa kepemimpinan bukanlah tentang memerintah orang atau mengarahkan orang. Kami merencanakan, tetapi Tuhan yang memutuskan. Saya telah belajar bahwa hal terbaik sebagai seorang pemimpin adalah tidak mengambil hal-hal secara pribadi, tetapi mengajukan pertanyaan tentang apa yang saya lakukan atau tidak lakukan, yang mengarah pada hasil ini. Saya tidak boleh berhenti belajar. Saat berpikir Anda tahu segalanya adalah saat Anda mati sebagai pribadi karena itu berarti Anda berhenti tumbuh. (*)

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN