Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Target Pembiayaan Fintech Lending 2020 Direvisi Jadi Rp 60 T

Rabu, 19 Agustus 2020 | 19:48 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, inevestor.id - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) merevisi target penyaluran pembiayaan baru oleh fintech p2p lending di tahun 2020 menjadi sebesar Rp 60 triliun, menurun dibandingkan target sebelumnya sebesar Rp 86 triliun. Tren penyaluran pembiayaan baru di paruh pertama tahun ini menjadi acuan merubah target tersebut.

Wakil Ketua Umum AFPI Sunu Widyatmoko menyampaikan, pihaknya tidak mengharapkan pertubuhan pembiayaan yang signifikan pada tahun ini. Sebab, pandemi Covid-19 dan perlambatan ekonomi turut memberi dampak pada kinerja industri fintech p2p lending.

"Awalnya kami melihat total penyaluran di 2020 itu sebesar Rp 86 triliun. Namun dengan adanya Covid-19 dan tren selama enam bulan ini kami memperkirakan total penyaluran untuk tahun 2020 akan sama seperti tahun 2019 atau sebesar Rp 60 triliun," kata dia pada webminar berjudul Fintech P2P Lending Diterjang Badai Pandemi, Rabu (19/8).

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2020, akumulasi pembiayaan fintech p2p lending mencapai Rp 113,46 triliun naik 153,23% secara tahunan (year on year/yoy). Sedangkan outstanding pembiayaan pada Juni itu sebesar Rp 11,77 triliun, naik 38,42% (yoy).

Sunu menerangkan, pada Desember 2019 atau sebelum pandemi outstanding pembiayaan tercatat sebesar Rp 13,16 triliun, terdapat pengurangan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa fintech p2p lending ikut terdampak pandemi Covid-19. Dengan kata lain, tetap terdapat penyaluran pembiayaan namun ada pengurangan penyaluran akibat krisis.

"Tren akumulasi pembiayaan sepanjang tahun ini memang naik. Namun demikian outstanding-nya menurun. Kalau dilihat angka outstanding itu masih mampu naik sampai Maret 2020. Sedangkan April, Mei dan Juni 2020 itu terus menurun. Ini menunjukkan bahwa dampak itu seiring penerapan PSBB karena pandemi," ucap dia.

Sunu meyakini, pandemi Covid-19 akan memberi dampak positif bagi penyelenggara yang melayani pembiayaan sektor produktif, terutama segmen UMKM termasuk sektor agrikultur. Karena menurut dia, secara keseluruhan yang paling terdampak adalah penyelenggara yang menggarap sektor konsumtif.

Di sisi lain, sambung dia, peluang fintech p2p lending untuk berkembang di masa mendatang terbuka lebar. Karena adopsi masyarakat Indonesia terhadap fintech p2p lending itu kurang dari 20%.

Posisi itu jauh lebih rendah dibandingkan Tiongkok dan India sebesar 87%, atau Singapura sebesar 67%.

Adapun negara-negara lain tercatat pada kisaran 40-50%. Hal tersebut yang turut menjelaskan bahwa penyelenggara fintech p2p lending di Indonesia kian menjamur.

Namun demikian, Sunu mengaku, tantangan fintech p2p lending selalu mengenai cara para penyelenggara melayani pembiayaan tanpa harus ada batasan wilayah. Selain itu, pihaknya terkendala akses internet. Begitu juga yang menjadi kendala merambah pembiayaan di luar Jawa.

Sampai Juni 2020, pembiayaan di luar Jawa tercatat sebesar Rp 16,12 triliun. Sedangkan pembiayaan di Jawa mencapai Rp 97,34 triliun. Nominal itu timpang, sejalan dengan sebaran wilayah akumulasi rekening penerima pinjaman (borrower) dan rekening pemberi pinjaman (lender).

Sunu menambahkan, pandemi juga memberi dampak pada tingkat keberhasilan 90 hari (TKB 90) yang kian tertekan. TKB 90 fintech p2p lending pada Desember 2019 berada di posisi 96,35%, turun menjadi 93,87% pada Juni 2020.

Adapun sampai Juni 2020, OJK mencatat terdapat sebanyak 158 penyelenggara fintech p2p lending, dengan 33 penyelenggara diantaranya telah mengantongi izin resmi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN