Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Debin Gao, Associate Professor Fakultas Ilmu Komputer di Singapore Management University (SMU). (Sumber: smu.edu.sg)

Debin Gao, Associate Professor Fakultas Ilmu Komputer di Singapore Management University (SMU). (Sumber: smu.edu.sg)

Besarnya Dominasi Aplikasi di Hidup Kita Menjadikan Pencegahan Serangan Siber Semakin Penting

Rabu, 23 Maret 2022 | 16:27 WIB
Debin Gao* (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Semakin sering kita disibukkan dengan ponsel kita, semakin besar pula rasa percaya kita pada konten yang terdapat di dalamnya. Inilah yang terjadi di masyarakat Indonesia—ponsel yang kini menjadi bagian integral hidup kita menjadikan kita tak lagi ragu untuk melakukan transaksi online, baik itu membeli makanan, obat-obatan, pakaian, bahkan peralatan rumah tangga. Hal yang terlihat kecil, yang terlihat cepat dan mudah, ternyata tidak semurah yang kita bayangkan. Dalam riset yang dilakukan oleh Statista, di tahun 2020 sebanyak 4,6 miliar transaksi online setara dengan $14 miliar.

Memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Indonesia merupakan negara dengan perkembangan ekonomi tercepat di Asia Tenggara. Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Google, Temasek Holdings, dan Bain & Company milik Alphabet, region ini dinilai memiliki pertumbuhan pasar internet terbesar di dunia dan ekonomi internet Indonesia diproyeksikan akan bernilai $146 miliar di tahun 2025. Artinya sebanyak 20% dari total pertumbuhan tahunan majemuk di Asia Tenggara.

Advertisement

Akan tetapi, semakin besar pertumbuhan ekonomi internet dan transaksi online, semakin banyak pula jumlah kasus cyber security dan pembajakan data yang kita jumpai. Sayangnya, tidak banyak pihak yang memperhatikan hal tersebut, baik itu pengguna individual maupun korporat.

Serangan siber pada perangkat seluler terus meningkat dan hal ini dibuktikan dengan adanya lebih dari 100 juta kasus yang dilaporkan pada tahun 2018. Meski demikian, masih banyak perusahaan yang tidak melindungi data mereka dan tidak mengoptimalkan keamanan siber dengan baik sehingga meningkatkan kesempatan bagi serangan siber untuk terjadi di beberapa tahun ke depan.

Hal ini merupakan tantangan terbesar yang tengah dihadapi berbagai perusahaan dunia, termasuk Indonesia.

Memang benar bahwa tidak sedikit masyarakat umum yang peduli dengan keamanan dan privasi mereka, akan tetapi masih banyak dari kita yang tidak tahu apa saja fungsi lain yang dilakukan oleh aplikasi-aplikasi dalam ponsel kita. Ketika memesan makanan dari aplikasi online, misalnya, seringkali kita menyalakan lokasi kita agar makanan tersebut dapat sampai ke tangan kita dengan selamat. Tetapi, apakah kita yakin aplikasi tersebut tidak memiliki fungsi tersembunyi seperti memakan data internet kita atau bahkan mengumpulkan nomor IMEI (International Mobile Equipment Identity) kita?

Privasi juga merupakan hal lain yang penting kita perhatikan. Semakin banyak jumlah transaksi online yang kita lakukan maka semakin tinggi pula kemungkinan bahwa data pribadi kita tengah dijual kepada pihak ketiga.

Dari sudut pandang korporat, terdapat dua kekhawatiran yang patut diperhatikan. Pertama, banyak karyawan yang didorong untuk menggunakan aplikasi tertentu untuk aktivitas bisnis sehari-hari mereka. Dalam kasus seperti ini, perusahaan harus memastikan bahwa aplikasi tersebut aman untuk digunakan terutama jika dikembangkan oleh kontraktor pihak ketiga.

Kedua, banyak organisasi yang bergantung pada aplikasi-aplikasi tertentu untuk berinteraksi dengan pelanggan tertentu seperti bank dan platform e-commerce. Aplikasi-aplikasi seperti ini biasanya membutuhkan identitas pengguna dan kata sandi khusus untuk menjamin keamanan pengguna.

Yang menjadi pertanyaan besar kita adalah: bagaimana perusahaan menjaga informasi pelanggan, seperti username dan kata sandi, dengan baik?

Di Singapore Management University (SMU), kami telah melakukan penelitian untuk membangun sebuah sistem baru yang aman untuk berbagai jenis pelanggan. Solusi yang kami namakan Dynamic Analysis System untuk Android ditujukan untuk pengguna individual dan juga untuk perusahaan. Solusi ini dapat membantu perusahaan untuk melakukan analisa dengan lebih efisien, baik itu analisis tingkat rendah maupun analisis yang membutuhkan perhatian pada detail yang merinci. Analisis yang dilakukan oleh sistem ini akan berjalan sampai tingkat prosesor sehingga semua tindakan yang dilakukan oleh pengguna dan sistem akan tercatat secara rinci.

Solusi lain yang tengah kami kembangkan ditujukan untuk pengguna yang memiliki banyak aplikasi dalam ponsel mereka. Dengan menggunakan ini, kita bisa menentukan data dan informasi apa saja yang direkam oleh saluran ketiga. Saluran ketiga ini tidak akan mengganggu kelancaran aplikasi yang kita gunakan sehingga dapat digunakan secara paralel.

Di masa seperti sekarang, di mana penggunaan aplikasi seolah melebur dengan keseharian kita, privasi menjadi suatu keharusan yang tak lagi bisa dipisahkan. Perusahaan yang menggunakan aplikasi untuk berinteraksi dengan pelanggannya harus bisa memastikan privasi dan keamanan data yang dipertukarkan. Meskipun fungsionalitas dari aplikasi itu penting, keamanan dan privasi tetap harus dinomorsatukan.

Saat ini, kita harus lebih waspada terhadap segala jenis serangan siber, baik di tingkat individu maupun korporat. Mengantisipasi adanya pembobolan dan serangan siber akan membantu kita untuk menjaga keamanan pribadi dan semua orang yang kita sayangi.

Untuk mempersiapkan diri terhadap berbagai jenis serangan siber dan pembajakan data, SMU mengembangkan alat-alat cyber security yang diperuntukkan kepada pemangku kepentingan eksekutif. Alat-alat kami dapat membantu perusahaan Anda untuk memetakan teknologi yang tepat untuk perusahaan Anda, termasuk teknologi keamanan siber.

Associate Professor Fakultas Ilmu Komputer di Singapore Management University (SMU)

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN