Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agung Wibowo

Agung Wibowo

Menyikapi Pandemi dan Invasi

Minggu, 3 April 2022 | 21:01 WIB
Agung Wibowo *) (redaksi@investor.id)

Dunia saat ini penuh ketidakpastian seiring munculnya pandemi Covid-19 dan perang di Eropa Timur. Semua kalangan, tak terkecuali juga kelas menengah terdidik, tentu merasakan dampaknya baik langsung maupun tak langsung. Jika mereka disurvei, maka akan muncul pertanyaan dari sisi benak mereka, kapankah pandemi dan perang itu akan berakhir?

Berbeda dengan situasi sebelumnya, seperti krisis global 1998 atau efek domino kebangkrutan Lehman Brothers di Amerika Serikat 2008 yang pada saat itu langsung berimbas pada konglomerasi besar walaupun akhirnya menciptakan residu pada golongan kelas menengah. Distraksi kali ini memiliki ciri yang berbeda. Pandemi menyebabkan kelas menengah dan sektor-sektor usaha kecil menengah berhenti beroperasi. Itu terasa betul efeknya secara makro maupun mikro.

Advertisement

Pada 2020 prediksi pertumbuhan ekonomi kita meleset jauh dari perkiraan bahkan mengalami kontraksi hingga 2,07%. Sepanjang pandemi, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) kenaikan angka kemiskinan juga signifikan mencapai 2,7 juta orang. Sisi mikro akibat hal tersebut adalah banyak kelas menengah yang menganggur lalu tergiur pinjaman online (pinjol) ilegal. Pemerintah bahkan turun tangan untuk menertibkan dan mengawasi varian fintech tersebut agar masyarakat terdampak pandemi tidak semakin terjepit.

Berkaca pada data lain yaitu faktualisasi yang menyatakan bahwa banyak negara 80% perekonomiannya ditopang oleh perusahaan small medium enterprise (SME). Merekalah yang mengoperasikan perekonomian kelas menengah. Dalam bahasa yang singkat, pandemi menyebabkan berhentinya aktivitas perekonomian kelas menengah dan interdependensinya secara langsung.

Gejolak lain terjadi di Eropa Timur utamanya di negara Ukraina. Negara yang dikenal dengan the basket of food itu, tengah menghadapi kenyataan pahit, yaitu intervensi bersenjata oleh Rusia sejak 24 Februari 2022. Invasi tersebut menyebabkan ketidakpastian lain di samping pandemi tadi. Jika kita menggunakan teropong jarak jauh, dari bulan misalnya, negara Ukraina memang kelihatan kecil. Namun, jika kita mengganti teropong tersebut menggunakan lensa ekonomi-politik, hubungan internasional, dan post-globalisasi, negara Ukraina yang kelihatan kecil dari bulan, nyatanya sangat besar kedaulatan aklamatifnya. Sehingga, gejolak disana menyebabkan ketidakpastian secara global.

Tidak perlu mencari contoh yang sulit, kenaikan harga komoditas di wilayah Eropa dan bahkan di negeri kita sendiri adalah akibat tersendatnya arus transportasi baik darat, laut, udara, di wilayah laut hitam. Perairan yang merupakan jalan ninja penghubung arus perdagangan Eropa dan Asia. Wilayah itu, saat ini, sedang gempar dan luluh lantah bahkan pelabuhan Odessa (wilayah Ukraina) yang sebelumnya menjadi titik sentral pengangkutan dan transit barang-barang komoditas yang tak ada istirahatnya, kini sunyi sepi. Odessa menjadi kota mati tempat misil dan javelin meledak seperti kembang api. Lalu bagaimana kegelisahan ini harus kita hadapi?

Alam selalu memiliki skema baru seiring dengan kejadian unconditional di muka bumi. Wabah pes sekitar 600 tahun yang lalu menciptakan terobosan yang inkremental di bidang kedokteran. Khususnya di bidang mikrobiologi dan virologi. Perang dunia pertama dan kedua menciptakan kestabilan global baru yaitu ditandai dengan munculnya United Nation (UN) yang mengamini perdamaian dunia adalah hak segala bangsa. Skema itu tentu juga berlaku saat ini, saat pandemi dan invasi terjadi. Skema alam yang dinahkodai ilmu pengetahuan (baca: dengan berbagai pendekatan) mampu menciptakan katalisator yang luar biasa cepat dan adaptable bagi umat manusia.

Di bidang kesehatan, dunia mampu menciptakan terobosan baru yang dalam sejarah manusia yaitu ditemukannya sebuah vaksin (vaksin Covid-19) dalam tempo kurang dari 1 tahun.

Transformasi Digital

Di bidang yang lebih luas seperti pada sektor usaha dan hubungan manusia dengan manusia juga mengalami hal yang sama. Disana tengah terjadi transformasi digital yang super cepat yang mungkin banyak pihak melewatkan itu dalam prediksinya.

Hal lain yang dapat kita lihat saat hancurnya kota-kota di Ukraina. Kejadian itu menyebabkan kita lebih mampu mengerti tentang hakikat rapuhnya perkoncoan dunia sejak perang dunia kedua berakhir. Tatanan masyarakat global mengalami shifting kemapanan. Tumbuhnya inkonsistensi struktur berpikir komunal karena ketidakmampuan logika komunal menjawab pertanyaan: bagaimana invasi di Ukraina dapat diatasi?

Selebihnya mari kita berpikir sisi baiknya. Transformasi digital adalah tema kunci yang semestinya menjadi rujukan intelektual dalam menghadapi situasi saat ini. Pengandaian itu seiring dengan fakta bahwa hal-hal yang sebelum pandemi sulit dilakukan, saat ini justru menjadi jawaban dari situasi yang dulu hanya dalam angan.

Work from home (WFH) mungkin tidak akan menjadi nomenklatur yang biasa jika transformasi digital tidak dipaksa. Kriptonisasi dalam ruang blockchain mungkin akan terus menjadi sesuatu yang amoral bagi perbankan jika negara-negara barat tidak memblokade swift bagi pemegang akun-akun bank negara Rusia. Lalu, dimana muncul peluang itu? Utamanya bagi kita Indonesia, negara yang secara langsung terdampak pandemi dan secara langsung dan tidak langsung terdampak invasi.

Melihat kenyataan yang ada di atas, kemapanan berpikir saya yang diasah di program manajemen teknologi, seperti dicobai. Menarasikan problematika menjadi sebuah gagasan solutif bukannya tidak mungkin. Saya justru menawarkan tiga dugaan untuk menjawab hal tersebut.

Pertama, dalam rangka mendorong transformasi digital selain dibutuhkan expertise di bidang engineering technology juga sangat penting mendorong terciptanya expertise-expertise baru di bidang manajemen teknologi. Hal ini sangat reasonable dan empirik. Nyatanya, transformasi digital tidak hanya membutuhkan terciptanya terobosan teknologi, tetapi juga membutuhkan manusia-manusia manajerial yang mampu mengkurasi histori, mengadaptasi situasi, dan memprediksi sesuatu yang akan terjadi dalam rangka penerapan transformasi digital yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kedua, pemerintah melalui skema yang governance dapat memberikan umpan balik yang longitudinal kepada para peneliti, scholar dan ahli di bidang manajemen teknologi untuk melakukan riset terapan yang mampu mendorong perekayasa teknologi menjawab tantangan di masa post-pandemi dan nanti, mungkin, post-invasi.

Peran ahli manajemen teknologi sangat diperlukan agar transformasi digital menghasilkan sesuatu yang terarah, adaptable, dan skematik. Sehingga mampu menyentuh secara langsung keresahan kelas menengah saat ini.

Ketiga, pengalokasian sumber daya keuangan baik oleh pemerintah maupun swasta dalam rangka mendorong percepatan kemampuan terintegrasi para ahli manajemen teknologi. Ini tentu saja adalah fondasi dasar dari terciptanya masyarakat dalam dunia yang sedang shifting menuju masyarakat digital baru. Alokasi dana ini pada level pemerintah dapat berupa anggaran APBN yang ternomenklaturkan secara spesifik untuk tujuan itu.

Sedangkan di sektor swasta musti ada gerakan masif dari pemegang kebijakan agar tercipta kesadaran manajerial yang mendorong perusahaan-perusahaan mengalokasikan sebagian besar dananya untuk para expertise manajemen teknologi agar mampu bereksplorasi kini dan nanti.

Dunia sedang sakit dan terlunta-lunta. Tidak ada yang tahu pasti kapan pandemi selesai dan kapan perang juga usai. Tetapi sejarah selalu mengajari kita berlari menuju peluang yang sistematik. Transformasi digital dan ahli manajemen teknologilah yang akan menjawab tantangan ini.

*) Mahasiswa Master Managemen Teknologi (MMT) Universitas Multimedia Nusantara

Editor : Kunradus Aliandu (kunradu@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN