Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
SMAN 16 Bekasi tatap muka gelar masa pengenalan lingkungan sekolah. Foto: SP/Joanito De Saojoao

SMAN 16 Bekasi tatap muka gelar masa pengenalan lingkungan sekolah. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Kapan Sistem Pembelajaran Langsung Dibuka Lagi?

Sabtu, 8 Agustus 2020 | 23:12 WIB
Investor Daily

Video keluh kesah seorang orang tua murid tatkala pemerintah memberlakukan aktivitas pembelajaran online (daring) selama pandemi Covid-19 yang viral di media sosial belum lama ini, ternyata bukan persoalan pribadi.

Tapi seperti perwakilan banyak kasus serupa di Tanah Air. Yakni bahwa ada ketidaksiapan baik orang tua, siswa dan guru dalam penerapan pembelajaran daring.

Hal itu bisa dimaklumi karena pandemi Covid tak terprediksi dan memaksa guru, murid dan orang tuanya untuk melakukan adaptasi secara cepat.

Hal itu terkonfirmasi oleh data Kementerian Kesehatan yang mencatat bahwa dalam masa pandemi di mana sistem pembelajaran dilakukan dari jarak jauh, 37% anak tidak bisa mengatur waktu belajarnya, 30% anak kesulitan memahami pelajaran, 21% anak tidak memahami instruksi dari guru.

SMAN 16 Bekasi tatap muka gelar masa pengenalan lingkungan sekolah. Foto: SP/Joanito De Saojoao
SMAN 16 Bekasi tatap muka gelar masa pengenalan lingkungan sekolah. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Masih berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan yang disampaikan ke media massa oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Jiwa Dr Fidiansjah, 47% anak merasa bosan tinggal di rumah, 35% khawatir ketinggalan pelajaran, 15% merasa tidak aman, 34% merasa takut terinfeksi virus Covid-19, 20% merindukan teman-temannya, dan 10% merasa khawatir terhadap penghasilan orang tua yang mulai berkurang.

Selain itu, sistem pembelajaran jarak jauh melalui daring meningkatkan kekerasan fisik terhadap anak (11%), dan kekerasan verbal pada anak (62%). Hal itu dikarenakan beban orang tua yang bertambah untuk memberikan pelajaran kepada anak, sementara tetap harus menuntaskan pekerjaan sehari-harinya.

Di luar faktor kesehatan, sistem pembelajaran jarak jauh melalui daring juga menjadi masalah bagi sekolah-sekolah anak usia dini dari kalangan swasta. Kelangsungan sekolah juga jadi pertaruhan, karena penerimaan dari uang sumbangan pendidikan berkurang drastis karena keengganan orang tua membayar uang pendidikan secara penuh.

SMAN 16 Bekasi tatap muka gelar masa pengenalan lingkungan sekolah. Foto: SP/Joanito De Saojoao
SMAN 16 Bekasi tatap muka gelar masa pengenalan lingkungan sekolah. Foto: SP/Joanito De Saojoao

Oleh karena itu, sebagai keluarga pendidik dari sekolah swasta, kami menyambut baik rencana pemerintah menerapkan sistem pembelajaran langsung kembali. Kami mendukung bahwa rencana kebijakan ini sebagai upaya menjaga kesehatan jiwa anak agar tidak terganggu di masa pandemic Covid-19.

Selain itu, juga untuk memberikan akses pembelajaran bagi siswa yang tidak terjangkau dalam sistem pembelajaran jarak jauh. Pun, memberikan napas tambahan bagi sekolah-sekolah swasta. Kami tentu menunggu kepastian kapan regulasi ini diterapkan, dan panduan pelaksanaan sistem pembelajaran langsung dalam tatanan hidup yang baru.

Dengan demikian, siswa, guru, dan orang tua siswa bisa saling mendukung dan melaksanakan berbagai aturan dan protokol kesehatan yang ketat semasa pandemi ini.

Dwiyan Antono

Depok

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN