Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Stunting atau kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang tidak mencukupi khususnya pada anak berusia di bawah 5 tahun. Foto ilustrasi: IST

Stunting atau kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang tidak mencukupi khususnya pada anak berusia di bawah 5 tahun. Foto ilustrasi: IST

Maksimalkan Upaya Cegah Stunting

Investor Daily, Senin, 27 Januari 2020 | 10:35 WIB

Isu stunting dan gizi buruk harus menjadi isu pembangunan, tidak boleh terabaikan. Stunting dan gizi buruk harus menjadi isu utama pemerintahan sekarang. Ini selaras dengan upaya membangunan sumber daya manusia (SDM) unggul.

Untuk membangun SDM unggul, negara harus hadir pada upaya peningkatan kebutuhan gizi anak-anak bangsanya. Beragam aksi yang bisa dilakukan. Namun, kami sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa pemerintah seyogianya mengoptimalkan lembaga yang sudah ada, seperti pos pelayanan terpadu (posyandu) yang ada hingga tingkat desa.

Posyandu di tiap-tiap daerah sangat mungkin untuk dioptimalkan perannya untuk mencegah stunting atau kondisi tubuh anak kerdil dibanding anak seusianya akibat kekurangan gizi.

Posyandu bukan sekadar tempat timbang anak. Posyandu masih bisa dioptimalkan perannya, untuk berkontribusi sebagai penyedia makanan tambahan yang baik dan berkualitas. Peran posyandu ini tentu harus didukung dengan anggaran yang disiapkan pemerintah, seperti melalui program dana desa.

Penggunaan dana desa seyogianya juga sebagian dialokasikan kepada posyandu untuk menyediakan tambahan makanan bergizi, terutama kepada anak-anak stunting secara rutin.

Nilai anggaran yang dibutuhkan tidak besar sekali. Hanya kini tinggal sekarang apakah pemerintah melalui perangkat desa mau menjalankan kebijakan ini.

Saya optimistis, jika setiap daerah menerapkan kebijakan serupa, angka stunting di Tanah Air dapat teratasi secara perlahan. Sebab, faktanya kini angka stunting masih memprihatinkan, terutama di kawasan Indonesia timur.

Saat ini masih banyak provinsi yang angka stunting-nya di atas rata-rata nasional (30,8%), bahkan di atas 40%. Beda dengan angka gizi buruk dan stunting di Pulau Jawa relatif jauh lebih baik dari daerah-daerah lainnya.

Tentu, kondisi ini bisa terjadi karena banyak faktor, seperti oleh ketimpangan kesejahteraan, akses layanan kesehatan yang masih kurang, dan lain sebagainya. Berbagai aspek itu harus segera diselesaikan pemerintah agar SDM Indonesia menjadi unggul.

Dunia internasional melalui World Health Organization (WHO) atau organisasi kesehatan dunia telah menetapkan batasan maksimal angka stunting yaitu 20%. Di lain sisi, Indonesia sudah menyentuh angka 30%.

Persoalan ini harus segera diselesaikan karena stunting kaitannya dengan sumber daya manusia kita. Dibutuhkan visi pembangunan yang lebih maju dan progresif dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan integritas tinggi.

Program pembangunan harus dilakukan penguatan di segala lini. Mari bersama bangun bangsa, mulai dari menyehatkan anak-anak bangsa.

Dirgantara Yudha

Depok

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN