Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi empat jarum suntik dengan latar belakang kata Omicron yang merupakan varian baru dari virus corona Covid-19. ( Foto: Justin Tallis / AFP )

Ilustrasi empat jarum suntik dengan latar belakang kata Omicron yang merupakan varian baru dari virus corona Covid-19. ( Foto: Justin Tallis / AFP )

Cegah Ledakan Omicron, Epidemiolog Minta Pemerintah  Perketat Pintu Masuk Negara

Sabtu, 15 Januari 2022 | 15:44 WIB
Fatima Bona

JAKARTA, investor.id - Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani mengatakan,  keputusan pemerintah menghapus larangan masuk bagi warga negara asing (WNA) dari 14 negara dengan transmisi komunitas Omicron sesuai dengan kondisi saat ini.  Sebab, varian Omicron telah menyebar ke semua negara.

Menurut Laura, fokus pemerintah saat ini sebaiknya pada upaya memperkuat pemeriksaan pintu masuk negara.  Cara itu bisa mengantisipasi masuknya varian Omicron ataupun varian baru dari kasus impor.

“Mencegah masuknya wisatawan dari suatu negara ke Indonesia merupakan keputusan yang sulit.  Lebih baik memperkuat  upaya  deteksi pemeriksaan  di bandara  sebagai tempat  masuknya orang-orang asing. Itu yang mungkin lebih dipertimbangkan daripada aturan  melarang  masuknya wisatawan dari satu negara,” ujarnya saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (15/1/2021).

Laura juga menambahkan, jika suatu saat kembali muncul varian baru seperti  kasus Omicron saat ini, maka keputusan pemerintah sebaiknya  meningkatkan deteksi dari varian tersebut, sehingga  penanganan Covid-19 di Tanah Air jauh lebih tepat sasaran.

Dikatakannya, sistem surveilans yang dilakukan saat ini masih perlu ditingkatkan. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk deteksi dini di pintu masuk negara ini tidak boleh mengistimewakan pihak-pihak tertentu. “Jadi jangan sampai kebijakan tersebut hanya berlaku pada  orang-orang khusus. Bahkan tidak ada karantina, tidak perlu diperiksa dan lainnya. Ini harus diperbaiki,” tukasnya.

Selanjutnya, ia juga menuturkan, perlu kembali ditingkatkan upaya 3T (testing, tracing dan treatment). Pasalnya,varian apapun muncul strategi sama yakni memperkuat upaya 3T oleh pemerintah terutama di pintu masuk negara.

Ia juga menyoroti terjadi penurunan testing, sehingga saat ini sulit untuk mendapatkan jumlah kasus Covid-19 yang riil  di lapangan.  “Kalau pun mau dikurangi atau diturunkan jumlah orang yang diperiksa harus ada dasar seperti persentase positivity rate di suatu daerah kurang dari 5% atau 1% baru bisa dikurangi. Tapi kalau suatu daerah  sampel-sampel  yang masuk memunculkan positivity rate lebih dari 5%. Ini yang harus dilacak sebanyak-banyaknya,” pungkasnya.  

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN