Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sekolah Sampoerna Academy BSD Gelar Vaksinasi untuk Anak Usia 6 -11 Tahun

Sekolah Sampoerna Academy BSD Gelar Vaksinasi untuk Anak Usia 6 -11 Tahun

KSP: Vaksin Covid-19Terbukti Mengurangi Tingkat Keparahan Infeksi

Jumat, 11 Februari 2022 | 21:16 WIB
Lenny Tristia Tambun (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden dr Brian Sri Prahastuti mengingatkan masyarakat untuk tidak meremehkan manfaat vaksin Covid-19. Karena vaksin tersebut sudah terbukti mampu mengurangi tingkat keparahan Covid-19 varian Omicron.

“Sudah terbukti vaksin bisa mengurangi tingkat keparahan COVID19 varian Omicron,” kata Brian Sri Prahastuti di Kantor KSP, Gedung Bina Graha Jakarta, Jumat (11/2/2022).

Advertisement

Brian menjelaskan, selemah apapun virus kalau terlontar keluar akan menginfeksi orang lain. Namun jika virus itu ada di dalam badan orang yang sudah memiliki kekebalan tubuh atau antibodi, maka virus itu menjadi sangat lemah.

"Sebaliknya, jika virus itu masuk ke dalam tubuh yang tidak memiliki antibodi, selain menginfeksi juga akan mengubah bentuknya menyesuaikan lingkungan tubuh manusia manusia yang dilewatinya,” ujar Brian Sri Prahastuti.

Sebelumnya pada Senin (7/2/2022), Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan berbicara keras terkait penyebaran pesan anti vaksin. Luhut menunjuk kelompok yang mengeluarkan pesan anti vaksin, harus bertanggung jawab terhadap angka kematian akibat COVID19 lantaran tidak mendapat vaksinasi.

Luhut juga memaparkan, sebanyak 69% dari total 356 pasien korban meninggal Covid-19 varian Omicron memang karena belum mendapat vaksinasi lengkap.  Dari jumlah tersebut, sebanyak 42% merupakan pasien yang memiliki komorbid, dan 44% lainnya kelompok masyarakat lanjut usia atau lansia.

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN