Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof. dr Amin Soebandrio. Sumber:BSTV

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof. dr Amin Soebandrio. Sumber:BSTV

Jarak Vaksin Kedua dengan Booster Jadi 3 Bulan, Ini Pertimbangannya

Jumat, 18 Maret 2022 | 21:25 WIB
Fatima Bona (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id -  Guru Besar Depertemen  Mikrobiologi Fakultas Kedokteran  Universitas Indonesia (FKUI) Amin Soebandrio mengatakan jarak vaksin kedua dengan booster dari 6 bulan menjadi 3 bulan karena mempertimbangkan kadar antibodi. Pasalnya, pada bulan ketiga, ada beberapa jenis vaksin yang kadar antibodi relatif menurun.

Amin menjelaskan bahwa pemberian suntikan kedua  dengan ketiga atau booster diharapkan memanfaatkan sel memori. Pasalnya, tubuh akan membangkitkan  respons primer atau sekunder berdasarkan sel memori.

Adanya sel memori, lanjut Amin, maka responnya  akan jauh lebih cepat  dan lebih tinggi kadar antibodinya  dan kualitas antibodinya lebih  baik.

”Itu yang kita harapkan dengan memberi jeda vaksinasi 3 bulan  sampai 6 bulan karena kadar antibodinya tidak lagi terlalu tinggi  tetapi juga belum hilang atau sel memorinya harus tetap ada,” ujarnya pada talkshow daring bertemakan; “Jaminan Mutu dan Keamanan Vaksin Covid-19”, Jumat (18/3/2022).

Pendapat  senada juga disampaikan oleh Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia, Prof. Iris Rengganis. Ia menuturkan, perubahan kebijakan jarak pemberian vaksin ini mempertimbangkan  antibodi sudah mulai menurun setelah 3 bulan divaksinasi.

Iris menyebutkan tidak semua vaksin antibodinya menurun setelah 3 bulan, namun karena Indonesia memiliki beberapa jenis vaksin sehingga jarak menjadi 3 hingga 6 bulan. “Jadi awalnya 6 bulan menurun, tapi kita memiliki berbagai aneka vaksin. Dilihat dari keseluruhan, 3 bulan memang ada sebagian vaksin yang menurun. Karena itu, sekarang perubahan begitu dinamis  dan cepat karena semuanya baru belajar,” ucapnya.

Dikatakan Iris, perubahan jarak dinamis ini karena vaksin Covid-19 merupakan vaksin baru dan semua dalam tahap belajar, sehingga selalu menyesuaikan dengan temuan terbaru. “Pertama kita bilang 6 bulan atau 5 bulan, ternyata 3 bulan sudah menurun. Jadi kita mengatakan 3 sampai 6 bulan supaya efektif. Ketika sudah mulai menurun dikasih booster lagi sehingga tidak menurun sekali,” pungkasnya. 

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN