Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jiwasraya

Jiwasraya

BPK dan Kejagung Diminta Buka Data Investasi Saham Jiwasraya

Senin, 20 Juli 2020 | 17:04 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id - Direktur Utama PT Hanson International Tbk (MYRX) Benny Tjokrosaputro meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Kejaksaan Agung (Kejagung) membuka data investasi saham PT Asuransi Jiwasraya kepada publik.

Hal ini bertujuan agar publik mengetahui saham apa yang sebenarnya membuat Jiwasraya rugi besar, sehingga perseroan gagal membayar polis jatuh tempo Rp 12,4 triliun per akhir 2019. Kerugian tersebut mengakibatkan Benny Tjokro menjadi tersangka atas kasus dugaan korupsi Jiwasraya. Saat ini, kasus sedang memasuki tahap persidangan di PN Jakarta Pusat.

"Kalau tidak mau dianggap melindung pihak tertentu, ya dibuka saja. Tinggal dilihat apakah data yang dibuka sama dengan yang beredar di masyarakat," ujar Benny lewat tulisan tangan yang diperoleh Investor Daily di Jakarta, Senin (20/7).

Dia menambahkan, awalnya dirinya tidak mengetahui saham-saham apa saja yang membuat Jiwasraya rugi besar. Dirinya baru mengetahui saham-saham yang dikoleksi Jiwasraya setelah diperiksa BPK. "Data yang saya peroleh dari BPK sama seperti yang ada di media dan masyarakat. Jadi, gampang saja, buka saja saham-saham yang merugikan Jiwasraya," kata dia.

Dia mengatakan, Jiwasraya menguasai banyak saham di luar grupnya. Merujuk data BPK per 10 Februari 2020, Jiwasraya memiliki saham di beberapa perusahaan terbuka yang sebagian besar dari saham tersebut tidak dapat ditransaksikan, karena harganya Rp 50 per saham.

Kepemilikan saham Jiwasraya di perusahaan-perusahaan itu jauh lebih besar, dibandingkan saham yang dikuasai pada perusahaan terafiliasi dengan Benny Tjokro. Menurut dia, Jiwasraya hanya memegang 1,8 miliar saham PT Hanson International Tbk (MYRX) setara 2,13% kepemilikan saham senilai Rp 92 miliar, lalu Rimo International Lestari Tbk (RIMO) 2,4 miliar (5,9%) Rp 122 miliar, PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) 6,8 miliar (14%) Rp 324 miliar, dan PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY) 19,4 juta (0,2%) Rp 974 juta.

Selain itu, dia mengungkapkan, Jiwasraya membeli saham-saham grup perusahaan Benny Tjokro dalam bentuk reksa dana dan dibeli dari pihak lain atau di pasar. "Jadi saya meminta jaksa dan BPK membuka data saham Jiwasraya. Jangan mengeluarkan opini seolah saya yang memuat Jiwasraya rugi," tegasnya.

Dia memastikan, anggapan saham MYRX milik Jiwasraya dipindahkan dalam bentuk reksa dana merupakan penilaian yang salah. Buktinya, per Desember 2017, Jiwasraya sudah tidak memiliki saham MYRX, RIMO, BTEK, dan ARMY. Mayoritas saham-saham itu dibeli oleh reksa dana Jiwasraya pada periode Desember 2017-Januari 2018 atau sesudah dilepas Jiwasraya. Artinya, saham-saham itu bukan pindahan dari Jiwasraya. "Dengan kata lain, reksa dana Jiwasraya beli saham-saham itu dari pasar," tegas dia.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN