Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wisata edukasi kopi dan budaya di Doesoen Sirap, Ambarawa, Semrang. Foto: Investor Daily/Defrizal

Wisata edukasi kopi dan budaya di Doesoen Sirap, Ambarawa, Semrang. Foto: Investor Daily/Defrizal

Wisata Kopi di Kaki Gunung Kelir

Listyorini, Minggu, 15 September 2019 | 11:00 WIB

SEMARANG, investor.id - CERITA rakyat dari Gunung Kelir tentang melesatnya ndaru (semacam meteor) di langit Doesoen Sirap, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dipercaya membawa berkah bagi rakyat sekitar. Perbukitan yang berada pada ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut itu ternyata menyimpan “harta karun” berupa tanah yang subur untuk tumbuhnya “mutiara hitam”, yakni kopi.

Doa-doa yang dipanjatkan masyarakat sekitar agar tanah yang menjadi gantungan hidup mereka diberkahi telah dijawab oleh Yang Kuasa. Doesoen Sirap kini dikenal sebagai penghasil kopi robusta yang nikmat, serta tempat wisata edukasi kopi dan budaya. “Konon ada ndaru di langit Doesoen Sirap,” kata Camat Jambu Edi Sukarno dalam diskusi Kafe BCA on The Road, belum lama ini.

Ndaru yang pernah berada di langit desa tersebut diceritakan dari generasi ke generasi agar masyarakat sekitar mencintai tanah leluhurnya. Ndaru berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berasal dari kata Handaru, yang berarti keberuntungan.

Memasuki kawasan wisata edukasi kopi dan budaya Doesoen Sirap, pengunjung akan merasakan sensasi yang berbeda. Bukan hanya sejuknya udara pegunungan, sambutan masyarakat sekitar yang masih memegang teguh kearifan lokal dan budaya Jawa menjadi pesona tersendiri. Dari cara berpakaian, bertutur kata dari masyarakat setempat, seolah menyadarkan kita tentang arti sebuah perjalanan hidup, kesederhanaan, ketenangan batin untuk senantiasa bersyukur. Gending Jawa dan tarian tradisional sering dipentaskan pada hari libur untuk menyambut wisatawan.

Selain itu, pengunjung bisa mencicipi jajanan pasar yang dijual di sepanjang jalan menuju desa wisata, yakni makanan tradisional khas Doesoen Sirap, seperti getuk (singkong rebus yang ditumbuk), tiwul (beras yang terbuat dari singkong), klepon, pecel gablok, pisang rebus, dan lain-lain.

Para petani Doesoen Sirap yang tergabung dalam kelompok tani, usianya tidak lagi muda, rata-rata di atas 50 tahun, tetapi mereka tidak pernah lelah bekerja untuk mengolah tanahnya. Mereka memegang teguh cerita leluhur tentang adanya ndaru yang memberkahi tanah mereka.

Menurut Ketua Kelompok Tani Rahayu IV Doesoen Sirap, Ngadiyanto, sebelumnya mayoritas petani lereng Gunung Kelir menanam tanaman hortikultura, seperti bawang merah, singkong, padi, dan jangung. Namun, tanaman-tanaman tersebut justru membuat lahan lereng bukit, khususnya di Dusun Sirap, kerap longsor. Setelah dilakukan doa bersama (tirakatan), pada 1990 petani beralih menanam kopi. Mereka memercayai bahwa kopi merupakan “mutiara hitam” dari Doesoen Sirap.

Kawasan Wisata

Kopi Sirap yang mempunyai rasa khas dan aroma yang unik. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL
Kopi Sirap yang mempunyai rasa khas dan aroma yang unik. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL

Kawasan Doesoen Sirap telah dijadikan obyek wisata kopi dan budaya. Para pengunjung tidak hanya bisa menikmati kopi produksi setempat, tetapi juga mendapatkan edukasi tentang perkopian. Tidak jauh dari balai tempat wisatawan berkumpul, terdapat sebuah rumah edukasi kopi yang dilengkapi peralatan untuk mengolah kopi.

Beberapa barista warga Sirap siap menjelaskan cara mengolah kopi yang baik dan benar agar pengunjung dapat menikmati kekhasan rasa dan aroma kopi Sirap. Selain itu, pengunjung mendapat ilmu tentang berbagai macam varietas kopi beserta karakternya sekaligus cara meracik kopi. Tak hanya itu, petani kopi Sirap akan menjelaskan proses produksi kopi, dari mulai cara memetik, penjemuran, penggilingan kulit kopi menjadi ose (biji kopi) hingga pemanggangan.

Teristimewanya, pengunjung bisa meracik sendiri kopi sesuai selera yang diinginkannya, tentu saja didampingi barista yang sudah berpengalaman.

Kopi Sirap memang mempunyai rasa khas dan aroma yang unik.”Ada rasa mocca, karamel, dan sedikit lemon. Uniknya, ada aroma pinus di dalamnya. Ini sangat langka,” kata Reza Adam Ferdian, salah satu master kopi Indonesia yang juga co-founder Kopisob. Aroma floral (tumbuh-tumbuhan), kata Reza, mempunyai efek relaksasi, peminum kopi akan merasa tenang, dan segar. Memasuki kawasan wisata, pengunjung disiapkan kopi Sirap gratis.

Segala kelelahan dalam perjalanan sepertinya sirna ketika tiba di kompleks wisata yang udaranya sejuk, sembari menyeruput nikmatnya Kopi Sirap. Jika pengunjung ingin menikmati kopi dengan suasana lebih santai, bisa membelinya di Warung Desa (Wade) Kampoeng Kopi Sirap.

Harga secangkir kopi cukup terjangkau, sekitar Rp 10 ribu untuk kopi hitam biasa, sedangkan kopi robusta dengan rasa moka dihargai Rp 15 ribu.

Menurut Camat Jambu, Edi Sukarno, wisata edukasi kopi dan budaya Doesoen Sirap dikelola secara swadaya oleh warga setempat. Total lahan perkebunan kopi, kata dia, sekitar 1.150 hektar dengan produksi kopi per tahun sekitar 1.000 ton. “Kini kampung kami mendapat pembinaan dari Bank BCA untuk menjadi Desa Wisata,” katanya.

Kebun kopi di Doesoen Sirap, Ambarawa, Semrang. Foto: Investor Daily/Defrizal
Kebun kopi di Doesoen Sirap, Ambarawa, Semrang. Foto: Investor Daily/Defrizal

Komisaris PT Bank Centra Asia (BCA) Tbk Cyrillus Harinowo mengatakan, pihaknya melihat potensi cukup besar dari Doesoen Sirap untuk dikembangkan menjadi desa wisata dan budaya. Setelah melakukan pendampingan kepada komunitas petani kopi dan dilakukan serangkaian pelatihan, BCA meresmikian Griya Kopi Doesoen Kopi Sirap, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu (8/9/2019). “BCA punya divisi CSR (corporate social responsibility). Sebagai perusahaan, selain cari untung BCA juga berbagi,” katanya.

Melalui Bakti BCA Peduli, bank tersebut cukup aktif mendukung program pengembangan potensi ekonomi rakyat untuk membangun kemandirian ekonomi perdesaan. Salah satunya adalah program desa wisata yang diharapkan bisa menjadi multipier effect bangkitnya ekonomi perdesaan.

Lokasi

Untuk mencapai lokasi Doesoen Kopi Sirap tidak terlalu sulit. Dari arah Semarang, pengunjung yang menggunakan mobil pribadi bisa mengikuti jalan menuju Ambarawa lewat jalur tol Banyumanik-Bawen dan keluar di Bawen, kemudian ambil arah Ambarawa. Setelah masuk jalan desa, ada gapura yang bertuliskan Wisata Edukasi dan Budaya sebagai tanda sudah masuk Desa Wisata Doesoen Kopi Sirap.

Biji-biji kopi untuk Kopi Sirap. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL
Biji-biji kopi untuk Kopi Sirap. Foto: Investor Daily/DEFRIZAL

Agrowisata Doesoen Sirap juga menawarkan wisata tracking (pendakian) dengan pemandangan kebun kopi. Bagi yang hobi olah raga jalan kaki, tempat ini sangat cocok karena jalurnya cukup menantang, udaranya sejuk, dan pemandangannya sangat indah di tengah perkebunan kopi. Jika lelah berjalan kaki, tersedia gubunggubug untuk beristirahat, sembari menyeruput kopi hangat. Petani kopi Doesoen Sirap kini mempunyai tambahan pendapatan sebagai pemandu wisata.

Para petani kini sangat fasih menjelaskan berbagai hal tentang kopi, mulai dari pembibitan, proses produksi, hingga meracik kopi. Objek wisata mempunyai multiplier effect cukup besar dalam menciptakan lapangan kerja, seperti wisata kuliner, penginapan, soevenir, dan lainnya.

Harinowo berharap, jumlah wisatawan ke Doesoen Sirap terus meningkat. “Suatu saat saya ingin melihat kopi Sirap mempunyai brand kuat yang dikenal masyarakat Indonesia, bahkan dunia,” katanya.

Seiring dengan itu, objek wisatanya juga berkembang pesat seperti Gua Pindul di Gunung Kidul Yogyakarta yang berhasil meningkatkan jumlah wisatawannya menjadi enam kali lipat dalam kurun waktu delapan tahun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

Berita Terkait