Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Sampah makanan

Sampah makanan

Jangan Buang Makanan, Ini Bahayanya bagi Kesehatan Lingkungan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 15:58 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Mubazir pangan terjadi di Indonesia. Setiap satu orang Indonesia ternyata membuang 0,5 kg makanan setiap hari. Sampah makanan (food waste) sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan akan menghasilkan gas berbahaya bagi kesehatan lingkungan, termasuk meningkatkan emisi karbon.

Di tengah kasus anak stunting yang masih tinggi, masyarakat Indonesia ternyata gemar membuang-buang makanan. “Kami coba cek dan membuat kajian dengan survei, penelitian, ternyata betul. Kami hitung ternyata dari tahun 2000-2019 terjadi peningkatan tren membuang makanan, dari 150 kg menjadi 184 kg per orang/tahun,” ungkap Direktur Lingkungan Hidup, Kementerian PPN/Bappenas Dr Ir Medrilzam, MPE dalam diskusi dengan media bertema Indonesia Mubazir Pangan, Kok Bisa?, Selasa, 12 Oktober 2021, yang digelar oleh Direktorat Lingkungan Hidup Bappenas, Sekretariat Rendah Karbon Indonesia/LCDI, dan Mitra Pembangunan Nasional & Internasional dalam rangkaian acara LCDI Week 2021.

Kemana sisa makanan ini dibuang? Sebagian besar berakhir di TPA. “Di TPA, sampah makanan ini dalam kondisi anaerob karena tertumpuk atau tertutup sehingga menghasilkan gas metana yang dapat meningkatkan total emisi karbon kita ke depan. Gas metana ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia,” ungkap Medrilzam.

Gas metana atau CH4 dapat menimbulkan ledakan dan kebakaran pada TPA jika berada di udara dengan konsentrasi 5-15% (NIST, 2001).

Laporan Kementerian Negara Lingkungan Hidup tahun 2008 berjudul Kontribusi Sampah Terhadap Pemanasan Global, diperkirakan bahwa 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana. Konsentrasi gas metana yang tinggi akan mengurangi konsentrasi oksigen di atmosfer sehingga menyebabkan gejala kekurangan oksigen (PADEP, 2011). Jika kandungan oksigen di udara berada di bawah 19,5 %, kondisi ini akan mengakibatkan asfiksia atau hilangnya kesadaran makhluk hidup karena kekurangan asupan oksigen dalam tubuh.

Selain itu, sampah makanan juga menghasilkan gas karbondioksida (CO2) sebagai penyumbang emisi karbon. Juga menghasilkan gas H2S yang mengandung sulfur (belerang), ditandai dengan bau khas sampah. Ketiga gas ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti batuk, nyeri dada, dan sesak napas.

Editor : F Rio Winto (rio_winto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN