Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Telemedicine

Ilustrasi Telemedicine

Digitalisasi Kesehatan dan Farmasi Dorong Aksesibilitas Layanan dan Harga Terjangkau  

Selasa, 23 November 2021 | 17:29 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, Investor–Digitalisasi kesehatan dan farmasi diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas layanan dan harga terjangkau. Apalagi melihat besar pasar kesehatan di Indonesia yang sangat besar, masih banyak yang belum mendapatkan akses layanan kesehatan.

“Tujuan dari digitalisasi bidang kesehatan dan farmasi adalah menjaga aksesibel layanan dan biaya yang terjangkau oleh berbagai kalangan. Beberapa upaya dalam komoditi, sumberdaya, pelayanan kefarmasian, pengawasan, dan pemberdayaan masyarakat telah dilakukan agar terciptanya kemandirian dalam manajemen dan informasi kesehatan” jelas Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr. Hermawan Saputra, SKM., MARS., CICS dalam webinar bertema “Peran Digitalisasi dalam Pengembangan Inovasi dan Bisnis di Industri Farmasi” yang digelar Dreya Communications berkolaborasi dengan PT Kalbe Farma Tbk. melalui anak usahanya KlikDokter seacara daring baru-baru ini.

Dr. Hermawan Saputra, SKM., MARS., CICS menambahkan, saat ini sistem rujukan fasilitas kesehatan sudah mengarah ke TIK based yang terpadu. Pelayanan kesehatan berbasis telemedicine sudah mencangkup konsultasi komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE); konsultasi klinis (anamnesa, pemeriksaan fisik tertentu) yang dilakukan melalui audiovisual; pemberian anjuran/nasihat yang dibutuhkan berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang
dan/atau hasil pemeriksaan fisik tertentu; penegakan diagnosis; penatalaksanaan dan pengobatan pasien; dan penulisan resep obat dan/atau alat kesehatan.

“Semua ini diberikan kepada pasien sesuai dengan diagnosis; dan penerbitan surat rujukan untuk pemeriksaan atau tindakan lebih lanjut ke laboratorium dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya sesuai hasil penatalaksanaan pasien,” ujar dr Hermawan.

Dengan besar pasar yang sangat besar, dr Hermawan optimistis, digitalisasi kesehatan dan farmasi ini dapat mendorong industri kesehatan dan farmasi tumbuh makin pesat dengan harga terjangkau.

Menyambung penjelasan Dr. Hermawan Saputra, SKM., MARS., CICS, CEO KlikDokter Hendra Heryanto Tjong mengungkapkan market di Indonesia merupakan market terbesar di ASEAN. Per tahun 2020, populasi di Indonesia mencakup 25% Generasi Y dan 28% Generasi Z yang mengerti teknologi dan antusias terhadap kesehatan membentuk market size senilai Rp 106 triliun.

“Perinciannya adalah Rp60 triliun untuk farmasi, Rp6 triliun untuk medis, Rp 10 triliun untuk obat-obatan OTC (over the counter), dan Rp30 triliun untuk produk nutrisi macam susu,” ungkap Hendra Heryanto.

Menariknya, pandemi Covid-19 pada awal 2020 menjadi pendorong tumbuh pesatnya digital kesehatan di Indonesia. Dengan banyaknya masyarakat yang isolasi mandiri kala pandemi melanda, peran telemedicine menjadi andalan untuk mencari informasi, konsultasi dengan dokter, dan membeli obat-obatan yang dibutuhkan.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, industri farmasi menghadapi tantangan berupa resiliensi sistem yang diuji melalui kemampuan masyarakat dalam mengakses layanan. Meski demikian, Indonesia sudah memiliki regulasi digital kesehatan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2014, Peraturan Menteri Kesehatan nomor 2052/Menkes/Per/X/2011, Peraturan Menteri Kesehatan nomor 20 tahun 2019, Keputusan Menteri Kesehata Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/650/2017, Surat Edaran Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.02/MENKES/303/2020 dan Nomor HK.01.07/MENKES/4829/2021.

Dilihat dari urutan waktunya, proses digitalisasi di industri kesehatan mulai ditegaskan sejak tahun 2017 saat uji coba telemedicine dilakukan dalam rangka konsultasi, diagnosa, dan

tindakan medis yang dilakukan dari jarak jauh berbasis tele-radiologi, tele-ultrasonografi, dan tele-elektrokardiologi. Di tahun 2019 pelayanan telemedicine antar fasilitas pelayanan kesehatan untuk konsultasi mulai diselenggarakan. Di awal 2020 TIK makin dikembangkan dalam rangka pencegahan Covid-19. Dan di tahun 2021 ini pelayanan telemedicine semakin banyak digunakan karena berkaitan dengan track and trace system di bidang kesehatan dan farmasi.

Hendra mengatakan, perkembangan farmasi digital ditandai dengan tiga hal, yakni perubahan ke digital dengan platform jual-beli online telah banyak digunakan untuk membeli produk farmasi, perubahan perilaku konsumen yang membeli berbagai produk melalui omnichannel, dan komunikasi marketing kini langsung dilakukan oleh brand sendiri.

“KlikDokter sebagai penyedia aplikasi yang memungkinkan konsumen untuk membeli produk langsung dari kami melalui partner farmasi yang terpercaya dan sudah sesuai dengan ketentuan SIA/SIPA untuk menjamin kualitas produk.” tutur Heryanto. “Melalui KlikDokter yang bekerja sama dengan lebih dari 1000 farmasi di seluruh Indonesia, Kalbe telah bergerak menuju transformasi online,” tutup Hendra.

Editor : Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN