Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Vaksinasi anjing. Foto ilustrasi: IST

Vaksinasi anjing. Foto ilustrasi: IST

Vaksinasi Anti Rabies Penting bagi Pemilik Hewan Kesayangan

Kamis, 25 November 2021 | 04:31 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Selain untuk hewan, pemilik hewan kesayangan juga penting untuk menerima Vaksin Anti Rabies (VAR) agar terlindungi dari kuman rabies. Terlebih, berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2020, terdapat 26 dari 34 provinsi di Indonesia yang belum bebas dari rabies, dengan jumlah kematian per tahun lebih dari 100 orang.

dr Asep Purnama MD, Internist, FINASIM, Tim One Health Zoonosis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan rabies adalah penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Infeksi rabies pada manusia biasanya terjadi akibat adanya kontak dengan binatang seperti anjing, kera, serigala, kelelawar melalui gigitan atau kontak virus lewat air liur dengan luka. “Virus tersebut masuk ke dalam ujung saraf yang ada pada otot di tempat gigitan dan memasuki ujung saraf tepi sampai mencapai sistem saraf pusat yang biasanya pada sumsum tulang belakang, dan selanjutnya menyerang otak,” ungkapnya di sela webinar Sanofi Pasteur, belum lama ini.

Menurut dr Asep, berdasarkan data anjing adalah sumber utama kematian manusia akibat rabies, yang menyumbang hingga 99% dari semua penularan rabies kepada manusia.

Adapun kelompok orang yang mempunyai risiko tinggi tertular rabies antara lain pemilik hewan kesayangan, dokter hewan, perawat hewan, peneliti virus rabies, petualang alam liar, pekerja lapangan yang dapat digigit binatang buas terinfeksi, orang yang sering berkunjung ke daerah rawan rabies dan petugas kesehatan yang merawat pasien rabies.

Pada kelompok ini sangat dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi Pre-Exposure Prophylaxis sebagai perlindungan sebelum terjadi kontak. Vaksinasi Pre-exposure akan sangat bermanfaat disamping memberikan perlindungan juga mempermudah penanganan jika dikemudian hari terjadi kontak.

 “Seseorang yang sudah pernah menerima vaksinasi Pre-Exposure tidak membutuhkan serum jika terjadi gigitan,” tambahnya.

Sementara itu, Prof Dr dr Samsuridjal Dzauji SpPD-KAI FACP, Guru Besar FK Universitas Indonesia menjelaskan hingga saat ini belum ada obat yang ditemukan untuk menangani rabies, namun rabies dapat dicegah melalui vaksinasi di puskesmas atau rumah sakit.

Oleh karena itu, untuk mencegah semakin banyaknya kasus rabies di Indonesia perlu dilakukan strategi pencegahan yang di mana salah satu cara utamanya adalah dengan melakukan vaksinasi rabies sesegera mungkin. Sebab, dengan menyuntikkan vaksin anti rabies (VAR) ke dalam tubuh hewan dan manusia, maka tubuh akan membentuk sistem kekebalan untuk menangkal virus rabies.

“Cara kerja VAR adalah dengan merangsang sistem daya tahan tubuh untuk membentuk imunitas terhadap virus rabies. Pembentukan antibodi tersebut memerlukan waktu. Namun, jika antibodi sudah terbentuk, dapat bertahan lama, yaitu sekitar satu tahun,” tutupnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN