Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ibu menyusui memberikan ASI. Foto; IST

Ibu menyusui memberikan ASI. Foto; IST

Cuti Melahirkan 6 Bulan Berdampak Baik untuk Kesehatan Ibu dan Anak

Jumat, 17 Juni 2022 | 17:43 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Peneliti dari kedokteran komunitas, dan kedokteran kerja dari Program Studi Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK menyampaikan, keputusan DPR RI untuk menyetujui RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA), termasuk kebijakan cuti melahirkan 6 bulan merupakan kebijakan mutlak karena telah memiliki bukti dan kajian ilmiah yang kuat. Bahkan, sejak beberapa tahun silam, kebijakan ini harusnya sudah bisa diterapkan sejak lama.

Menurut Dr Ray, cuti melahirkan 6 bulan terbukti secara ilmiah memberi dampak baik terhadap kesehatan ibu dan anak, dan berujung pada kesehatan masa depan bangsa.

Baca Juga: Tingkatkan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak, Kemenkes Reaktivasi 300 Ribu Posyandu

“Mulai dari hasil review mendalam dan expert consensus penelitian kami sejak 10 tahun silam menunjukkan bahwa memperpanjang cuti melahirkan hingga 6 bulan mutlak memberi daya ungkit terhadap keberhasilan ASI eksklusif, kesehatan ibu dan bayi serta mempertahankan produktivitas pekerja perempuan,” ujar dia dalam keterangan tertulis, Jumat (17/6).

Dijelaskan oleh Dr Ray bahwa tim kedokteran kerja FKUI sejak 2012 sudah melakukan banyak penelitian dan mempublikasikan hasil riset terkait cuti melahirkan 6 bulan terhadap para pekerja perempuan. Mayoritas hasil penelitian tersebut merujuk pada satu bukti yang sama, yaitu cuti 6 bulan sangat efektif meningkatkan potensi kesuksesan ASI eksklusif, kemudian mengoptimalkan status kesehatan ibu dan bayi, mempertahankan produktivitas pekerja serta berdampak positif bagi ketahanan keluarga.

“Bila pekerja perempuan baru masuk kerja setelah 6 bulan dan berhasil beri ASI eksklusif, tingkat produktivitasnya 8 kali lebih baik. Sebaliknya apabila ibu menyusui harus kembali bekerja di usia bayi 2-3 bulan maka risiko kesehatan meningkat signifikan, terutama karena proses laktasinya terganggu. Akibatnya produktivitas tidak maksimal,” ungkap Dr Ray yang juga founder dan chairman Health Collaborative Center (HCC).

Baca Juga: BPMPKB DKI-Swasta Tingkatkan Kesehatan Ibu dan Anak

Dalam penuturan Dr Ray, penelitian yang dimulai sejak 2012 hingga 2015 menegaskan bahwa pekerja buruh perempuan yang kembali bekerja pada usia bayi 3 bulan maka tingkat kegagalan ASI Eksklusif hingga 81%. Ini berarti hanya 19% buruh menyusui yang dapat memberikan ASI eksklusif.

Peneltian yang dipublikasikan di jurnal PGHN bertajuk “Benefits of a Dedicated Breastfeeding Facility and Support Program for Exclusive Breastfeeding among Workers in Indonesia”, membuktikan cuti melahirkan 3 bulan dan gagal ASI eksklusif mengakibatkan kondisi kualitas kerja juga menurun drastis dan peluang ibu untuk absen dari pabrik dan kantor juga mencapai 2 kali lebih besar.

“Artinya cuti 3 bulan saja tidak membuat perusahan lebih untung, malah jadi buntung karena pekerja harus sering absen,” ujar Dr Ray.

Baca Juga: 62% Nakes Indonesia Kesulitan Pertahankan Ibu Memberikan ASI Eksklusif

Di samping itu, penelitian tim kedokteran kerja FKUI juga diperdalam dengan formulasi kebijakan dan program serta intervensi hingga 2019. Dalam penelitian berjudul Developing Workplace Lactation Promotion Model in Indonesia yang dipublikasikan di BMC Archives of Public Health, konsensus multi pakar menegaskan cuti melahirkan minimal 6 bulan adalah kebijakan utama paling efektif dalam meningkatkan keberhasilan ASI Eksklusif hingga 8 kali lebih besar.

Sebaliknya cuti 3 bulan saja dan gagal ASI eksklusif maka 2 kali lebih besar untuk gagal ASI. Bila sudah gagal ASI eksklusif maka masalah kesehatan akan meningkat. Begitu pun penelitian intervensi sejak 2018 terhadap pegawai kantoran perusahan multinasional yang mendapat kesempatan cuti 6 bulan, tingkat keberhasilan ASI dan kepatuhan kerja setelah kembali bekerja jauh lebih efektif dibanding yang mendapat cuti kurang dari 6 bulan.

Baca Juga: Angka ASI Eksklusif Melonjak Hingga 89% Selama Pandemi Covid-19

Itu sebabnya Dr Ray menegaskan RUU KIA dengan kebijakan cuit berbayar 6 bulan sudah wajib dilaksanakan di Indonesia sesegera mungkin. Karena negara tetangga pun sudah melakukannya.

“Selain masalah kesehatan bayi yang lebih tinggi, kesehatan reproduksi dan kesehatan mental ibu pekerja yang harus meninggalkan bayi kurang dari 6 bulan di rumah juga menjadi lebih berisiko,” kata Dr Ray.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN