Menu
Sign in
@ Contact
Search
Dokter ahli onkologi (kanker) dan konsultan senior, medis di Parkway Cancer Centre, Singapura, dr Wong Siew Wei membahas kanker paru di Jakarta, Sabtu (14/1/2023)

Dokter ahli onkologi (kanker) dan konsultan senior, medis di Parkway Cancer Centre, Singapura, dr Wong Siew Wei membahas kanker paru di Jakarta, Sabtu (14/1/2023)

Rokok Jadi Penyebab Kanker Paru di Indonesia Masih Tinggi

Minggu, 15 Jan 2023 | 20:34 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

JAKARTA, ID –Rokok jadi penyebab jumlah kasus kanker paru di Indonesia masih tinggi. Skrining kanker paru pada kelompok berisiko, yaitu perokok dianjurkan. Namun penghentian merokok tetap menjadi strategi pencegahan yang paling penting.

“Kalau di Singapura, kanker terbanyak adalah kanker kolorektum (usus besar). Sedangkan kanker paru jumlahnya terus menurun karena jumlah perokok terus menurun di Singapura. Berbeda dengan di Indonesia, jumlah kanker paru sangat besar dan didominasi pria perokok," kata dokter ahli onkologi (kanker) dan konsultan senior, medis di Parkway Cancer Centre, Singapura, dr Wong Siew Wei kepada Investor Daily, Sabtu (14/1/2023).

Data Globocan 2020 menyebutkan, jumlah kanker di Indonesia mencapai 398.914 kasus. Kanker payudara menempati nomor pertama, mencapai 16,6% atau 65.856 kasus, kanker serviks 9,2% atau 36.633 kasus, lalu kanker paru 8,8% atau 34.783 kasus, diikuti kaker colorectum 8,6% atau 34.189 kasus, dan kanker liver 5,4% atau 21.392 kasus.

Menurut dr Wong, rokok menjadi biang keladi besarnya jumlah penderita kanker paru di Indonesia. “Merokok, termasuk perokok pasif, jadi faktor risiko terbesar kanker paru. Di Indonesia harga rokok murah. Kalau di Singapura, rokok mahal,” ungkap dr Wong, lulusan University of Melbourne, Australia.

Advertisement

dr Wong menjelaskan, risiko kanker paru seumur hidup pada perokok berat adalah 30%. Alternatif seperti cerutu, rokok filter, dan rokok rendah tar sama-sama mungkin menyebabkan kanker paru-paru. Faktor risiko lingkungan lain untuk kanker paru-paru meliputi: asbes, radon, polusi udara, asap diesel, dan asap batubara.

Apakah kanker paru diturunkan secara genetik? Menurut dr Wong tidak. “Meskipun kelompok kanker paru-paru telah diidentifikasi di beberapa keluarga, tidak ada mutasi gen spesifik yang dapat diwariskan yang telah dijelaskan,” jelas dr Wong.

Dr Wong mengatakanm, uji klinis besar dari computed tomography (LDCT) dosis rendah pada perokok dan perokok baru dengan riwayat merokok setidaknya 30 bungkus per tahun menunjukkan penurunan 20-26% dalam mortalitas kanker paru.

“Berdasarkan uji coba ini, beberapa negara telah mengadopsi LDCT untuk skrining kanker paru pada kelompok berisiko, yaitu perokok. Penghentian merokok tetap menjadi strategi pencegahan yang paling penting,” tegas dr Wong.

Penyebab Kematian Utama

Menurut dr Wong, kanker paru menjadi penyebab utama kematian terkait kanker. Pada 2/3 kasus ditemukan pada stadium lanjut . “Kanker paru menjadi penyebab kematian utama pada kanker karena kanker paru sangat progresif. Terutama kanker paru karena rokok, itu sangat progresif. Bila sudah berada pada stadium lanjut, angka harapan hidup hanya 4-5 bulan saja,” ungkap dr Wong.

Gejala kaker paru papar dr Wong meliputi infeksi paru berulang, batuk darah, sakit dada, sesak napas, suara serak, penurunan berat badan yang tidak diinginkan, kehilangan selera makan, kelelahan, dan sakit tulang.

Di Parkway Cancer Center, kata dr Wong, pasien kanker paru akan dideteksi apakah menderita kanker paru-paru non sel kecil (NSCLC) atau kanker paru-paru sel kecil (SCLC). Pilihan pengobatan untuk NSCLC sebagian besar bergantung pada stadium kanker dan kesehatan keseluruhan serta cadangan paru-paru pasien, yaitu bedah operasi, radioterapi, terapi sistemik, terapi target, hingga imunoterapi. Sedangkan pengobatan kanker paru sel kecil ((SCLC) meliputi radiasi, kemoterapi, dan imunoterapi.

“Teknik invasif minimal seperti bedah toraks dengan bantuan video dan bedah toraks dengan bantuan robot melalui sayatan yang lebih kecil semakin diadopsi untuk mengurangi rasa sakit, kehilangan darah, lama rawat inap dan memungkinkan waktu pemulihan yang lebih singkat,” tandas dr Wong.

Editor : Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com