Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hermawan Saputra, Dewan Pakar IAKMI. Sumber: BSTV

Hermawan Saputra, Dewan Pakar IAKMI. Sumber: BSTV

Antisipasi Covid Varian Baru, Tracing Pelaku Perjalanan Internasional Harus Diperketat

Sabtu, 6 Maret 2021 | 11:53 WIB
Fatima Bona

JAKARTA -  Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra mengatakan,  mutasi virus Covid-19  asal  Inggris  masuk ke Indonesia harus menjadi perhatian serius pemerintah untuk memperketat tracing bagi pelaku perjalanan internasional.

Dalam hal ini, semua pelaku perjalanan yang terinfeksi Covid-19 harus ditelusuri   menggunakan metode Whole Genome Sequencing (WGS) untuk memastikan virus ada di masing-masing pelaku perjalanan. Kata Hermawan, swab polymerase chain reaction (PCR) bagi pelaku perjalanan yang terinfeksi tidak cukup. Pasalnya, untuk membuktikan tipe B117 ini tidak bisa dilakukan dengan PCR, tetapi harus GWS.

“Bagi pelaku perjalanan  suspect apalagi terkonfirmasi  positif, semuanya ditelusuri  secara  dengan metode Whole Genome Sequencing. Jadi RNA swab bagi mereka terindikasi harus dicek sehingga ketahuan seperti apa peta yang ada di Indonesia,”kata Hermawan kepada Beritasatu.com, Sabtu (6/3/2021).

Hermawan menjelaskan, WGS ini dilakukan pada  laboratorium khusus  dan itu para pakar  virologi  atau  Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman.  Sayangnya, saat ini Indonesia baru  mampu  melakukan pemeriksaan GWS ini  kepada pada 440 sampel untuk  Covid-19. Sementara kasus kumulatif Indonesia sudah diatas 1 juta  lebih.

 “Jadi  keterbatasan testing dan tracing ini  menyebabkan potensi under reported dan under detected.  Jadi ini teori sama ketika Covid-19  kasus 1 dan 2  pada Maret 2020 dan  Covid-19 strain B117  pada 2021. Momen  sama dan tanggal dan bulannya sama,” kata Hermawan.

Dengan begitu,  Hermawan menilai, varian baru B117 ini sebetulnya sudah masuk Indonesia sejak akhir 2020 lalu. Pasalnya, munculnya mutasi B117 ini dikonfirmasi oleh Inggris sejak September 2020. Sementara penerbangan  Indonesia juga terbuka  antara  berbagai wilayah di Eropa dan negara-negara Asia Tengah dan Asia Timur Tengah.

“Penerbangan  kita sangat terbuka, pintu-pintu masuk kita sangat terbuka, jadi teori awal saya  2020 lalu ini adanya   tidak terlaporkan  dan  tidak terdeteksi.  Tidak terlapor misalnya ada  pelaku perjalanan  masuk dan ke luar negeri yang tidak melaporkan kemana  dan darimana dia berasal dan  seperti apa potensi dia untuk   terpapar.  Apalagi pemerintah  sendiri punya data ribuan orang terkonfirmasi Covd-19  dari luar negeri,” kata dia.

Kondisi  ini, menurut Hermawan, patut untuk  dievaluasi, apalagi saat ini masyarakat  tidak bisa membedakan   Covid-19  hasil mutasi dan yang sudah berkembang saat ini.  Oleh karena itu, pemerintah harus memperketat  tracing di gerbang-gerbang kedatangan internasional.  

“Saran saya  agar seluruh orang yang keluar masuk  Indonesia  kategori terdeteksi Covid-19   itu diambil semua jenis  GWS untuk dipastikan  seberapa risiko.   Ini  metode   retrospektif tracing namanya.  Jadi penelusuran dari   biasanya dari depan ke belakang, ini dari belakang ke depan,” ujar dia.

Editor : Komang (komang_99@yahoo.com )

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN