Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hal yang perlu dilakukan untuk mendukung orang tua kita tetap sehat

Hal yang perlu dilakukan untuk mendukung orang tua kita tetap sehat

Dukungan Keluarga Bantu Lansia Beradaptasi di Masa New Baru

Minggu, 13 September 2020 | 10:51 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

Di masa tatanan kehidupan baru (new normal) sekarang ini tidak hanya kesehatan fisik dan mental kita saja yang harus dijaga. Kesehatan mental dan fisik orang tua kita pun harus lebih diperhatikan. Apa saja yang perlu kita lakukan untuk mendukung orang tua kita tetap sehat?

Sejak tahun 2000, Indonesia menjadi aging society dengan jumlah penduduk berusia lanjut (lansia) lebih dari 7%. Sebuah penelitian memproyeksikan jumlah lansia akan semakin meningkat dari 20-an juta jiwa (sekitar 9%) pada 2019 menjadi hampir 20% dari total jumlah penduduk pada 2045.

Proses menua merupakan hal yang pasti yang terjadi secara alami. Proses tersebut dapat berujung menjadi proses menua yang sukses, biasa saja, atau berada dalam kondisi dengan berbagai penyakit fisik dan mental sehingga membutuhkan bantuan orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Lansia dengan proses menua sukses, tidak hanya berarti sehat jiwa dan raga namun juga memiliki kemampuan aktivitas fisik, daya pikir, dan hubungan interpersonal/ interaksi sosial yang baik, serta kehidupan yang produktif.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Geriatri RS Pondok Indah–Bintaro Jaya Dr. dr. Purwita Wijaya Laksmi, Sp.PD-Kger mengatakan, upaya menuju lansia dengan proses menua yang sukses sebaiknya dimulai sejak dini dengan menerapkan gaya hidup sehat, konsumsi asupan gizi sehat seimbang, dan latihan jasmani rutin.

Ketika telah menjadi lansia, kiat agar tetap sehat di usia lanjut yang dapat menjadi panduan adalah BAHAGIA, yaitu Berat badan dijaga, Atur makanan seimbang, Hindari faktor risiko, Agar tetap berguna kembangkan hobi, Gerak badan teratur, Iman dan takwa ditingkatkan, serta Awasi kesehatan secara periodik.

Di era pandemi Covid-19 dan tatanan kehidupan baru (new normal), dr Purwita menjelaskan, lansia perlu diberikan pengertian yang memadai mengenai kondisi tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami.

Semua kelompok usia berisiko untuk terinfeksi Covid-19, namun lansia berisiko lebih tinggi terkena infeksi dan kematian akibat Covid-19. Hal ini disebabkan proses menua pada sistem kekebalan tubuh membuat daya tahan tubuh relatif menjadi lebih rendah.

“Selain itu, lansia umumnya telah memiliki berbagai penyakit kronik seperti diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, penurunan fungsi ginjal, dan penyakit paru obstruksi kronik yang meningkatkan risiko komplikasi penyakit,” ungkapnya dalam keterangan tertulis belum lama ini.

Kunci utama agar lansia tetap sehat di era pandemi Covid-19 dan tatanan baru adalah dengan tetap berada di rumah disertai implementasi 5 Jaga dan 5 Cukup. Jaga pertama adalah “Jaga jarak”. Upayakan sebisa mungkin menjaga jarak fisik dengan orang lain minimal 1 meter. Hindari bersentuhan dengan orang lain termasuk bersalaman, serta jauhi orang sakit.

Keluarga dan kerabat yang sedang sakit flu diharapkan tidak melakukan kontak dengan lansia karena dikhawatirkan akan menularkan virus yang sedang diidapnya. Anggota keluarga atau perawat yang harus mobilitas keluar rumah dan tinggal satu rumah dengan lansia, wajib setiap kali pulang ke rumah menjalankan protokol kesehatan.

“Misalnya tidak duduk/menyentuh barang-barang di rumah sebelum mandi dan keramas, mencuci pakaian yang digunakan di luar rumah pada kesempatan pertama, dan sebagainya. Serta, senantiasa menjaga jarak, dan tetap menggunakan masker meskipun berada di rumah,” paparnya.

Selain itu, lanjut dia, ekspresi wajah akan sulit dikenali ketika menggunakan masker dan dapat menimbulkan salah persepsi oleh lansia, maka saat berkomunikasi perlu mengedepankan bahasa nonverbal.

Posisi lawan bicara berada di dalam lapang pandang lansia dengan jarak terdekat yang tetap aman, menjaga kontak mata, bicara dengan melihat mata lawan bicara, tubuh condong ke lawan bicara, serta menjaga intonasi dan volume suara yang tepat perlu dilakukan untuk menunjukkan kesungguhan mendengarkan dan mencegah timbulnya gangguan komunikas

Untuk jaga kedua, dr Purwita menyebutkan “jaga kebersihan dan kesehatan”. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan rajin mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizier. Tetap rutin minum obat sesuai anjuran dokter dan berjemur di sinar matahari pagi.

Pasien yang baru kali pertama berobat perlu berkonsultasi ke dokter dengan tatap muka langsung, sedangkan untuk kontrol rutin diutamakan menggunakan metode konsultasi dokter-pasien jarak jauh (telemedicine) di rumah sakit pilihan.

Namun, segera datang ke rumah sakit untuk berobat jika mengalami keluhan kesehatan serius, misalnya nyeri dada, sesak, demam terus menerus, penurunan asupan makan, merasa lelah (fatigue) sepanjang waktu, dan mendadak sulit untuk dibangunkan atau sulit berkomunikasi.

“Perlu diwaspadai bahwa gejala klinis infeksi pada lansia dapat tidak khas, termasuk pada kasus infeksi Covid-19,” jelas dr Purwita.

Bahkan, keluhan demam bisa tidak dijumpai. Keluhan yang terjadi justru dapat berupa tidak nafsu makan, tampak lesu/lelah (fatigue), gangguan penghidu, menjadi mengompol, jatuh, atau perubahan kesadaran (seperti bicara meracau, gelisah). Jika terdapat kondisi tersebut pada lansia, harus segera dibawa berobat ke dokter. Setiap kali pendamping lansia akan membantu lansia melakukan aktivitas hidup sehari-hari (misalnya makan, mandi, berhias, berpakaian, dan berpindah), ia harus menggunakan masker dan cuci tangan terlebih dahulu.

Sebaiknya pendamping tersebut tetap menjaga jarak aman dengan lansia dan membatasi durasi waktu ketika harus kontak langsung dalam jarak dekat.

“Jika lansia terpaksa bepergian keluar rumah, motivasi dan selalu pantau agar senantiasa memakai masker dengan baik dan benar, misalnya dengan menutup sempurna area mulut dan hidung selama di luar rumah,” tegasnya.

Selanjutnya adalah “jaga kontak sosial”. Jauhi keramaian, perkumpulan, dan kegiatan sosial seperti arisan, reuni, rekreasi, berbelanja, dan sebagainya. Meski tidak dapat berinteraksi fisik secara langsung, tetap pertahankan kontak sosial dengan keluarga dan kerabat melalui alat komunikasi gawai.

Saat ini, kegiatan yang bersifat rekreatif pun dapat dilakukan secara virtual, seperti menonton wayang orang dan traveling secara virtual. Hindari kunjungan tamu ke rumah, namun jika terpaksa harus berkunjung diwajibkan untuk menggunakan masker, menjaga kebersihan pribadi, dan tetap menjaga jarak.

Tak kalah penting, dr Purwita menyebutkan “jaga emosi” agar dalam kondisi prihatin ini kita tetap optimistis dan mengantisipasi atas segala kemungkinan di masa depan. Anjurkan atau dampingi lansia untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan di rumah.

Terakhir, “jaga spiritual/ibadah”. Lansia tetap melaksanakan ibadah sesuai dengan kepercayaan yang dianut di rumah. Kegiatan keagamaan seperti mengikuti ceramah agama, mengaji, kebaktian, dan lain-lain tetap dapat diikuti secara virtual.

Menjaga ibadah akan memberikan dampak positif bagi ketenangan jiwa. “Pendekatan spiritual membuat kita tetap bersyukur dengan kondisi apapun dan yakin bahwa selalu ada hikmah di balik setiap masalah,” paparnya.

5 Cukup

Sedangkan untuk lima cukup, dr Purwita menyebutkan cukup pertama adalah “cukup asupan gizi”. Pastikan asupan gizi yang cukup dan tetap menjaga kebersihan rongga mulut (oral hygiene) dengan baik. Asupan gizi seimbang dengan memperhatikan kecukupan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.

Jenis dan konsistensi makanan disesuaikan dengan kondisi medis, kemampuan makan, mengunyah, dan menelan, serta preferensi lansia. Asupan minum harian juga perlu diperhatikan oleh keluarga karena terdapat penurunan persepsi rasa haus pada lansia. Lansia menjadi kurang minum karena merasa tidak haus.

Oleh karena itu, keluarga perlu memberikan pengertian agar lansia tetap minum meskipun tidak merasa haus dan menjelaskan jumlah air minum sesuai kebutuhan harian.

“Sekitar 30 mililiter/kilogram berat badan per hari pada lansia yang secara medis tidak perlu melakukan pembatasan asupan cairan akibat penyakit ginjal atau jantung atau penyakit dengan kecenderungan kelebihan cairan lainnya,” jelas dr Purwita.

Kedua, tambahnya, “cukup aktivitas fisik”. Meski tidak dapat leluasa beraktivitas di luar rumah, tetap lakukan latihan jasmani secara rutin di rumah. Latihan jasmani juga dapat dilakukan bersama-sama dengan teman sesama kelompok olahraga atau kelompok senam seminat secara virtual. Ketiga adalah “cukup tidur”.

Upayakan lansia dapat cukup beristirahat, serta mencapai kualitas dan kuantitas tidur yang cukup, yaitu sekitar 6-8 jam sehari atau lebih.

Cukup persediaan obat-obatan rutin dan barang kebutuhan sehari-hari di rumah. Pembelian dapat dibantu oleh keluarga/pelaku rawat atau dipesan secara online.

Terakhir, “cukup perhatian”. Perhatian dari lingkungan sekitar terutama keluarga sangat dibutuhkan oleh lansia. Keluarga merupakan sumber penting kasih sayang, motivasi/semangat, bantuan, dan interaksi sosial.

Lebih lanjut dr Purwita menegaskan dukungan keluarga merupakan hal mutlak agar lansia tetap sehat, bersedia berdiam di rumah serta 5 Jaga dan 5 Cukup dapat diterapkan. Keluarga perlu mengupayakan kondisi lingkungan rumah tetap bersih, aman, dan nyaman untuk lansia dengan ventilasi dan cahaya matahari masuk yang cukup, termasuk di kamar tidur.

Selain itu, keluarga atau pendamping turut membantu mengajarkan penggunaan teknologi informasi dan memfasilitasi lansia agar dapat menggunakan gawai untuk berkomunikasi dan bertemu dengan kerabat secara virtual.

“Perhatian tulus dan kesabaran dari keluarga akan membuat lansia tidak merasa terisolasi serta memudahkan lansia menerima dan beradaptasi terhadap tatanan baru,” tuturnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN