Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Para peserta FGD Hilirisasi Peneltian dan Pengembangan Produk Berbasis Kefarmasian di Yogyakarta.

Para peserta FGD Hilirisasi Peneltian dan Pengembangan Produk Berbasis Kefarmasian di Yogyakarta.

Hasil Penelitian Herbal Diharapkan Menjadi Produk Berbasis Farmasi

Mardiana Makmun, Kamis, 31 Oktober 2019 | 04:56 WIB

JAKARTA, Investor.id – Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa banyaknya. Ada sekitar 30-50 ribu jenis tanaman di negeri ini. Dari jumlah itu, baru sekitar 7.500-9.000 jenis tanaman terdeteksi sebagai tanaman obat atau fitofarmaka. Sejumlah penelitian pun telah dilakukan untuk menguji sejauh mana efektivitas bahan aktif yang terkandung dalam tanaman tersebut untuk mengobati penyakit.

Sayangnya, belum banyak penelitian tanaman yang diwujudkan menjadi obat atau produk berbasis farmasi. Hal ini mengemuka dalam focus grup discussion (FGD) bertema 'Hilirisasi Penelitian dan Pengembangan Produk Berbasis Kefarmasian'. FGD digelar oleh Kemenristekdikti melalui Subdit Organisasi Profesi, Direktorat Kawasan Sains & Teknologi dan Lembaga Penunjang Lainnya berkolaborasi dengan PP Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) serta Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM sebagai pengelola STP (Science Techno Park) UGM, di Yogyakarta , Oktober 2019.

FGD diikuti oleh 43 perguruan tinggi farmasi yang memiliki Prodi Profesi Apoteker, S1 Farmasi di Yogyakarta, Politeknik Pengembangan Pertanian, dan sejumlah pengurus PP IAI serta PD IAI DIY.

FGD menghadirkan nara sumber Dedy Saputra, SE, S.Sos, M.Pub. Pol, Kasubdit Organisasi Profesi, Kemenristekdikti. Dedy mengatakan, Kemenristekdikti sangat mendukung pengembangan STP di Indonesia sebagai awal hilirasi penelitian tanaman obat menjadi produk berbasis farmasi.

“Hilirisasi produk hasil penelitian dan pengembangan (litbang) berbasis kefarmasian penting dilakukan dalam rangka kemandirian dalam ketersediaan produk kesehatan, khususnya obat-obatan sehingga tidak tergantung produk impor. Terlebih lagi, Indonesia memiliki keragaman hayati yang potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat dan vaksin. Begitupun kompetensi peneliti Indonesia tidak kalah dengan peneliti luar,” tegas Dedy.

Drs Heru Sunaryo, Apt, Kasubdit Kemandirian Obat dan Bahan Baku Kementerian Kesehatan, memaparkan, Kemenkes sangat mendukung hilirisasi produk tanaman obat bernilai komersial. “Apalagi yang mampu bersaing di pasaran nasional dan internasional. Kemenkes sangat mendukung” kata Heru yang juga ditegaskan oleh Drs Arustiyono,Apt, Direktur Pengawasan Kosmetik BPOM.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah dalam hal ini Kemenristekdikti, adalah program pengembangan Science Techno Park (STP) atau Kawasan Sains dan Teknologi (KST). STP merupakan salah satu wahana untuk meningkatkan proses hilirisasi hasil-hasil riset melalui pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) untuk menumbuhkan perusahaan pemula berbasi teknologi (start-up company). Sejak tahun 2015 pemerintah telah memfasilitasi pembangunan dan pengembangan STP di 18 lokasi. Salah satunya di UGM, yang juga telah menginisiasi hilirisasi produk hasil litbang, kususnya yang berbasis kesehatan, dengan mendirikan perusaaan pemula berbasis teknologi (PPBT)/star up di bidang alat kesehatan, obat herbal, dan pangan sehat.

Pembicara lainnya adalah Dr Keri Lestari Dandan, Apt, Wakil Rektor III Universitas Padjadjaran (Pembuatan Model Keterlibatan Apoteker dalam Hilirisasi Hasil-Hasil Penelitian dan Pengembangan Berbasis Kefarmasian), Dr Bondan Ardiningtyas MSc, Apt (Direktur Swayasa Prakarsa UGM, STP, Peran Tenant dalam Mendukung Pengembangan STP) dan Dra Tia Mutianingsi, Apt dari PT Kimia Farma (Peran Perusahaan Farmasi di Indonesia dalam Mendukung Perguruan Tinggi Guna Hilirisasi Produk Produk Hasil Penelitian Menjadi Produk Bernilai Komersial).

FGD ini bertujuan menyusun model keterlibatan apoteker dalam hilirisasi hasil-hasil penelitian dan pengembangan produk berbasis kefarmasian. Untuk mempercepat akselerasi STP, Kemenristekdikti memberikan fasilitas kepada IAI untuk memberikan dukungannya. Dari FGD ini diharapkan akan didapatkan model dukungan yang bisa diberikan ole IAI kepada STP, khususnya yang berbasis kefarmasian.

IAI dengan jaringan yang amat luas, baik di industri, distribusi maupun pelayanan memiliki begitu banyak ahli di bidangnya masing-masing. Prof Edi Meianto, Apt, Dewan Pakar PP IAI dalam kesempatan tersebut menyampaikan beberapa hal yang harus dilakukan ole IAI untuk memperkuat positioning STP. “Libatkan anggota yang berperan dalam pekerjaan di berbagai bidang untuk memberikan gagasan atau masukan kepada STP,” kata Edi.

Sementara Ketua Umum PP IAI, Drs Nurul Fallah Eddy Pariang,Apt menekankan perlunya IAI menjadi agen promosi bagi produk-produk STP. IAI akan mencari seorang brand ambassador agar dapat membantu mempromosikan produk-produk STP.

‘’Langkah pertama yang harus diambil adalah membuat MOU antara IAI dengan STP UGM,’’ ungkap Nurul Fallah.

Bimbingan petani

Sementara itu, IAI dengan dukungan Kemenristekdikti telah memberikan bimbingan teknis kepada petani, yang dimulai dengan petani di Sleman. Bimbingan yang melibatkan 25 petani binaan STP UGM meliputi teknis pengelolaan pasca panen produk biofarmaka.

“Kemenristekdikti mendorong STP untuk melibatkan pemerintah daerah setempat. Keberadaan STP merupakan upaya untuk menembus mimpi meningkatkan ekonomi melalui UKM berbasis teknologi,” kata Dedy Saputra, SE, S.Sos, M.Pub. Pol, Kasubdit Organisasi Profesi, Kemenristekdikti.

Kabid Penelitian, Pengembangan dan Pengendalian, Bappeda Sleman, Edy Sri Harnanto mengungkapkan selama ini produk biofarmaka di Sleman belum dilirik pasar. Karena itu selama ini petani menanam tanaman biofarmaka hanya dalam skala kecil.

‘’Petani akan menanam, bila memang pasarnya ada. Karena itu kami membutuhkan informasi, kira-kira biofarmaka yang mana dan berapa banyak dibutuhkan. Dari sana kami akan mengkondisikan, agar para petani dapat memenuhi kebutuhan STP UGM,’’ ungkap Edy.

Padahal, dalam paparannya mengenai Kualifikasi Bahan Baku Industri, Dra Eva Retnowulan Suwito, Apt, praktisi industri jamu yang juga anggota Himastra (Himpunan Seminat Obat Tradisional) menyampaikan, setidaknya ada 120 jenis tanaman yang dibutuhkan dalam pembuatan obat tradisional. “Karena itu, proses penyiapan bahan baku sebelum dikirimkan di industri sangat penting dilakukan,” kata Eva.

Sementara Sri Rahayoe menyampaikan materi Cara Pengolaan Pasca Panen yang efektif, dan Djoko Santosa dengan materi Standarisasi Bahan Baku Obat Untuk Biofarmaka.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA