Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Vaksinasi massal perdana tahap II di Blok A Tanah Abang. Foto: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

Vaksinasi massal perdana tahap II di Blok A Tanah Abang. Foto: BeritasatuPhoto/Joanito De Saojoao

Ini Syarat Lansia Bisa Divaksin Covid-19

Selasa, 23 Februari 2021 | 10:48 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JEMBER, Invetor.id – Pemerintah dan rakyat Indonesia menaruh harapan agar melalui program vaksinasi ini semua masyarakat dapat memperoleh kesempatan vaksinasi, untuk mewujudkan herd immunity dalam waktu tidak terlalu lama, sehingga Indonesia dapat keluar dari pandemi Covid -19.

Pemerintah telah menetapkan tujuh jenis vaksin melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/12758/2020 tanggal 28 Desember 2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin untuk Pelaksanaan Vaksinasi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Namun dari tujuh vaksin COVID-19 tersebut, baru satu vaksin yang telah memperoleh persetujuan dalam kondisi darurat (Emergency Use Authorization/EUA) dari Badan POM, yaitu vaksin CoronaVac produksi Sinovac. Sesuai dengan data-data hasil uji klinik yang tersedia pada saat EUA diterbitkan, penggunaan vaksin CoronaVac diperbolehkan untuk kelompok usia dewasa dari 18 hingga 59 tahun.

Mengacu dari angka kematian akibat Covid-19 pada umumnya terjadi pada kelompok usia lanjut (lansia), maka kelompok populasi ini turut menjadi prioritas untuk memperoleh hak akses vaksin yang sama.

“Dalam penerapan vaksinasi, perlu dilakukan beberapa tahap pemeriksaan dan riwayat penyakit sebelumnya. Untuk individu dengan penyakit kronis diperlukan evaluasi lanjutan apakah kondisi tersebut sudah terkontrol atau tidak. Bila sudah terkontrol, dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu screening kuesioner RAPUH." tutur Dokter Sherrvy Eva Wijayaningrum M. Biomed,Sp.PD., dari Siloam Hospitals Jember menjelaskan melalui aplikasi Instagram Live,  Senin (21/02/2021) di kota Jember, Jawa Timur.

Kuesioner RAPUH meliputi:
1. Resistensi
Apakah Anda mengalami kesulitan untuk naik 10 anak tangga dan tanpa istirahat diantaranya?
2. Aktivitas
Seberapa sering Anda mengalami kelelahan dalam 4 minggu terakhir?
3. Penyakit
Apakah Anda menderita lebih dari 4 penyakit sebagai berikut: Hipertensi, Diabetes, Kanker, penyakit paru kronis, serangan jantung, gagal jantung kongestif, nyeri dada, asma, nyeri sendi, stroke dan penyakit ginjal)
4. Usaha berjalan
Apakah Anda mengalami kesulitan berjalan kira2 sejauh 100-200meter?
5. Hilang berat badan
Apakah berat badan Anda turun dibandingkan dgn berat badan 1 tahun lalu?

Dijelaskan Sherrvy Eva Wijayaningrum M.Biomed, jika nilai diatas 2, maka individu tersebut belum layak untuk divaksin.

"Namun setelah pemberian vaksin dilakukan maka lansia masih tetap harus dikontrol oleh dokter dengan tetap menjalani aturan protokol kesehatan seperti tetap menggunakan masker, menjaga jarak minimal 2 meter, dan selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan dengan sabun," imbuh Sherrvy Eva Wijayaningrum.

Menurut Sherrvy, batasan pemberian vaksinasi pada lansia mulai dari usia 60 tahun hingga usia 89 tahun. Jika sudah berumur diatas 90 tahun maka sudah masuk kategori tereliminasi.

Pemberian vaksin sinovac ini adalah jenis vaksin in-aktif (mati), yaitu virus/bakteri yang dimatikan dengan suhu panas atau bahan kimia (radiasi) dan perlu dilakukan pengulangan seperti halnya vaksin flu.

Vaksin membentuk antibodi sekaligus merupakan suatu zat/senyawa yang berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh pada suatu penyakit. Zat/senyawa ini merupakan suatu penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan. Dengan harapan virus yang sudah dimatikan itu akan membentuk kekebalan dalam tubuh.

"Namun perlu diingat bahwa vaksinasi tidak menjadikan tubuh kebal terhadap suatu penyakit, akan tetapi membantu kekuatan pertahanan pada tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak divaksin saat terpapar virus," pungkas Sherrvy Eva Wijayaningrum.

Editor : Totok Subagyo (totok_hs@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN