Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Alat Bantu Dengar Indonesia (ABDI)  meluncurkan Livio AI dari Starkey Hearing Technologies di Jakarta, belum lama ini. Ini merupakan alat bantu dengar pertama di dunia dengan sensor terpadu dan kecerdasan buatan.

PT Alat Bantu Dengar Indonesia (ABDI) meluncurkan Livio AI dari Starkey Hearing Technologies di Jakarta, belum lama ini. Ini merupakan alat bantu dengar pertama di dunia dengan sensor terpadu dan kecerdasan buatan.

Jangan Sepelekan Gangguan Pendengaran

Rabu, 18 September 2019 | 19:36 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Jangan menyepelekan gangguan pendengaran. Sebab, gangguan ini bisa berdampak pada kesehatan, baik fisik maupun psikologis. Untuk itu, penanganan gangguan pendengaran sangatlah penting dan harus cepat.

Education and Training Audiologist Starkey Hearing Technologies Judy Grobstein menjelaskan gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan untuk mendengar secara sebagian atau menyeluruh pada salah satu atau kedua telinga.

Derajat gangguan pendengaran terbagi menjadi empat tingkatan,dimulai dari gangguan pendengaran ringan (26 – 40 dB), gangguan pendengaran sedang (41 – 60 dB), gangguan pendengaran berat (61 – 90 dB), dan gangguan pendengaran sangat berat (>90 dB). dB adalah kepanjangan dari desibel, yakni satuan yang digunakan untuk mengukur intensitas suara. Orang yang memiliki gangguan pendengaran hanya mampu mendengar suara pada desibel tertentu tergantung dari tingkatan gangguan pendengaran atau ketulian yang diderita.

“Pada kasus gangguan pendengaran sangat berat, bahkan ada yang hanya mampu mendengar suara bisinan pesawat yang ada di sebelahnya saja,” ungkap Grobstein di sela peluncuran Livio AI dari Starkey Hearing Technologies di Jakarta, baru-baru ini.

Managing Director Starkey Hearing Technologies Singapore, Malaysia, and Indonesia Manfred Stoifl menambahkan masalah gangguan pendengaran harus segera ditangani. Apabila tidak dan terlalu lama ditangani akan berdampak pada kesehatan dan kebugaran, baik fisik maupun psikologis. Sebab, gangguan pendengaran bukan hanya masalah mengenai tidak mendengar tentang suara, tapi juga mengenai mengolah kata dan suara di dalam otak untuk memahami pesan tersebut yang menyebabkan otak terus berfikir dan sibuk. Jika tidak ada kata-kata yang masuk dalam waktu lama akan membuat otak tidak mengenali lagi kata-kata dan pesan tersebut.

“Hal ini yang menyebabkan seseorang yang mengalami gangguan pendengaran berpotensi mengalami penurunan kemampuan kognitif dan demensia. Bahkan, seseorang yang mengalami gangguan pendegaran akan tiga kali lipat menderita demensia dibandingkan yang tidak,” papar Stoifl.

Selain itu, lanjut Stoifl, seseorang yang mengalami gangguan pendengaran juga akan mengalami penurunan kualitas pada kehidupannya. Sebab, seseorang itu mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan orang lain dan menyebabkan merasa kesepian. Namun, lanjut dia, kesepian bukan berarti sendiri, tapi dalam arti dia berada di dalam keramaian tapi merasa sendiri karena sulit bersosialisasi tersebut.

Dampak dari kesepian ini pun akan menggangu kesehatan mental seseorang. Bahkan, sebuah penelitian mengungkapkan kesepian adalah pintu masuk bagi diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung, hingga obesitas. “Bahkan kesepian sama mematikan seperti merokok dan obesitas,” tegas Stoifl.

Sementara itu, Direktur PT Alat Bantu Dengar Indonesia (ABDI) Fitri Fathia Kirana menjelaskan salah satu solusi dalam penanganan gangguan pendengaran adalah dengan menggunakan alat bantu dengar. Untuk itu, pihaknya meluncurkan Livio AI dari Starkey Hearing Technologies. Ini merupakan alat bantu dengar pertama di dunia dengan sensor terpadu dan kecerdasan buatan. Alat ini mampu melaukan sensor aktifitas fisik dan kesehatan otak serta tubuh, ditambah lagi bisa menerjemahkan 27 bahasa secara instan.

“Ini merupakan alat bantu dengar multiguna pertama, yang sehat dengan sensor terintegrasi dan kecerdasan buatan,” tutupnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN