Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anak dengan ADHD. Foto ilustrasi:Investor Daily/IST

Anak dengan ADHD. Foto ilustrasi:Investor Daily/IST

Keluarga Butuh Edukasi Penanganan Anak dengan ADHD

Minggu, 13 September 2020 | 10:23 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Edukasi bagi orang tua dan keluarga yang memiliki anak dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) sangat penting. Hal ini karena pada umumnya ADHD menyerang pada masa kanak-kanak, namun gejala yang ditimbulkan dapat terjadi secara terus menerus hingga masa remaja atau dewasa.

ADHD merupakan gangguan perkembangan otak yang dapat mengakibatkan seorang anak sulit untuk memusatkan perhatiannya, serta memiliki perilaku impulsif dan hiperaktif.

Seringkali orang-orang yang tinggal di sekitar anak dengan ADHD tidak menyadari bahwa anak tersebut memiliki gangguan, dan menilainya sebagai anak nakal dan malas karena tidak dapat berkonsentrasi (memusatkan perhatian pada suatu hal) dan tidak mau diam. Padahal sikap tersebut merupakan beberapa gejala dari gangguan ADHD. Adapun gejalagejala lain dari ADHD yang dapat terlihat yaitu sulit berkonsentrasi atau memusatkan perhatian, berperilaku impulsif dan hiperaktif, tidak bisa diam dan selalu ingin bergerak.

Hingga saat ini penyebab dari ADHD belum diketahui secara pasti. Namun menurut beberapa penelitian, sejumlah kasus ADHD menunjukkan adanya beberapa bagian otak berukuran lebih kecil dan metabolisme di otaknya mengalami penurunan di daerah tertentu.

Di samping itu juga mengalami kekurangan beberapa bahan kimia di otak, seperti dopamin atau norepinefrin dan serotonin. Keterlambatan maturasi otak dan disfungsi pada sirkuit otak tertentu juga merupakan salah satu penyebab utamanya sehingga dapat mengganggu kognitif, perhatian, dan fungsi eksekutif.

Selain itu, beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang memiliki ADHD adalah faktor genetik dan lingkungan. Pada umumnya, ADHD memberikan dampak negatif pada prestasi anak di sekolah dan juga kehidupan sosialnya. Berbagai karakteristik kehidupan seorang anak dengan ADHD di sekolah yang dapat dilihat adalah kinerja akademik rendah (misalnya matematika, membaca).

Meskipun mendapat bantuan atau kelas tambahan, berbicara sangat banyak, berlarian di dalam kelas, tidak memiliki teman meskipun berpartisipasi pada kegiatan ekstrakurikuler, kehidupan sosial terbatas, tidak memiliki hobi atau ketertarikan pada aktivitas rekreasional, dan seringkali bertengkar dengan anggota keluarga.

Sedangkan karakteristik pribadi seorang anak ADHD dapat dilihat bahwa perhatiannya sangat mudah teralihkan, tidak menyukai pertanyaan matematika, memecahkan masalah, dan bacaan yang panjang. Bahkan seringkali menginterupsi guru dan teman sekelas saat berbicara, dan memiliki kepercayaan diri yang rendah.

Dr Herbowo Agung F Soetomenggolo, Sp.A (K), dokter spesialis anak, mengatakan, baik orang tua, keluarga, guru, maupun pengasuh anak dengan ADHD membutuhkan pengetahuan serta bimbingan agar dapat membantu anak tersebut mengendalikan gejala-gejala ADHD dan menerapkan pola hidup sehat pada anak.

“Maka dari itu, penting untuk diberikan berbagai program pelatihan dan kegiatan edukasi yang dapat mendukung kesiapan mereka dalam mendampingi anak dengan ADHD,” ungkapnya dalam webinar awam dengan tema “Menjaga Kesehatan pada Anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) di Masa New Normal,” belum lama ini.

Menurutnya, anak dengan ADHD tidak dapat sembuh secara total, namun jika didiagnosis sejak dini dan diiberikan perawatan dan terapi yang tepat, maka anak dengan ADHD dapat beradaptasi dan menjalankan aktivitasnya, baik di sekolah maupun kehidupan sehari-hari secara normal. Maka dari itu, pent ing untuk melakukan edukasi kepada orang tua dan keluarga pasien mengenai tata laksana yang tepat bagi anak dengan ADHD dan juga tidak kalah pentingnya adalah penanganan sejak dini.

Lebih lanjut dr Herbowo menjelaskan berbagai tata laksana untuk ADHD hanya dapat dilakukan secara efektif dengan dukungan dan bantuan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Intervensi perilaku beserta farmakoterapi adalah terapi yang baik bagi ADHD.

ADHD adalah kelainan organic dengan gangguan neurotransmisi otak, dimana dapat dibantu dengan medikasi, yaitu dengan memberikan obat-obatan yang secara efektif dapat membantu mengendalikan gejala ADHD. Sementara intervensi perilaku yang dilakukan dengan mengoreksi perilaku bermasalah melalui pelatihan, dapat dilakukan untuk membantu memperbaiki fungsi sehari-hari dan sosial.

Untuk itu, lanjut dia, baik keluarga maupun lingkungan sekitar memiliki peran yang sangat penting dalam pengobatan dan terapi yang efektif bagi penderita ADHD.

“Namun, jika ADHD tidak dirawat atau diberikan tatalaksana yang tepat, dapat menyebabkan anak tersebut menderita luka berat saat masa kanak-kanak, kemungkinan menyalahgunakan obat/alkohol atau merokok, dan lebih dari satu kali kejadian dengan polisi saat remaja,” tambah dr. Herbowo.

Sementara itu, Country Leader of Communications & Public Affairs PT Johnson & Johnson Indonesia Devy Yheanne mengatakan, pandemic global virus corona menyebabkan banyak ketidakpastian yang dapat menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi lebih cemas, terutama orang tua yang memiliki anak dengan kondisi tertentu, seperti ADHD.

“Melihat hal tersebut, kami sadar bahwa para orang tua tersebut membutuhkan dukungan lebih, dalam hal informasi yang jelas dan benar untuk membantu mereka menjaga anak selama masa pandemi. Untuk itu, lanjut dia, sebagai perusahaan perawatan kesehatan yang memprioritaskan kesehatan jiwa, sampai saat ini kami telah mengadakan rangkaian kegiatan edukasi mengenai kesehatan jiwa.

“Salah satunya mengenai apa yang harus dilakukan bagi seseorang dengan ADHD selama masa pandemi, terutama dalam menghadapi kondisi new normal atau dikenal juga dengan Adaptasi Kebiasaan Baru,” tuturnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN