Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penyakit Paru Obstruksi. Foto ilustrasi: IST

Penyakit Paru Obstruksi. Foto ilustrasi: IST

Kenali Gejala Penyakit Paru Obstruksi Kronis

Minggu, 22 November 2020 | 05:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah kondisi kronis dan tidak dapat disembuhkan. Seseorang yang mengalami PPOK biasanya akan mengalami sesak napas, mengi, dan batuk. Sayangnya, kondisi ini bisa memburuk seiring berjalannya waktu,

Dokter Spesialis Paru,Konsultan Asma dan PPOK RSUP Persahabatan dr Budhi Antariksa SpP (K) PhDmenjelaskan, PPOK adalah penyakit kronik sebagai penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. PPOKmerupakan penyebab keempat kematian terbanyak di dunia. Global Initiative for ObstructiveLung Disease (GOLD) bertujuan meningkatkan pencegahan dan membuat standar tatalaksana.

Faktor risiko PPOK di Indonesia termasuk tinggi mengingat prevalensi perokokdi Indonesia peringkat 3 besar terbanyak di dunia. Data GATS 2013 menunjukkan prevalensi perokok diIndonesia usia >15 tahun adalah 67% untuk laki-laki.

Menurut data Riskesdas 2013, lanjut d Budi, prevalensi PPOK berdasarkan wawancara sebesar 3,7%, tanpa menggunakan spirometri sebagai baku emas diagnosis PPOK.

“Sayangnya, saat ini belum ada data nasional prevalensi PPOK di Indonesia berdasarkan nilai spirometri,” ungkap dr. Budhi di sela Peluncuran @seluruhnafas oleh PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Klikdokter, Rabu (18/11).

Dr Budi menjelaskan, PPOK adalah penyakit kronis saluran napas yang ditandai dengan hambatan aliran udara khususnya udara ekspirasi dan bersifat progresif lambat dimana semakin lama akan semakin memburuk. PPOK disebabkan oleh merokok, polusi udara di dalam maupun di luar ruangan. Awal terjadinya penyakit ini biasanya pada usia pertengahan dan tidak hilang dengan pengobatan.

Adapun gejala-gejala PPOK yaitu mengalami sesak napas yang bertambah ketikaberaktivitas dan bertambah dengan meningkatnya usia disertai batuk berdahak atau pernah mengalami sesak napas disertai batuk berdahak.

“Merokok merupakan faktor utama penyebab PPOK, untuk itu berhenti merokok bermanfaat dalam menghentikan laju penyakit,” tegasnya.

Sementara itu, Apt. Mindo Fuji Siahaan, S. Farm, Product Management PT Kalbe Farma Tbk mengatakan, untuk meningkatkan kepedulian masyarakat akan penyakit paru, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Klikdokter meluncurkan @sepenuhnapas yang merupakan media edukasi online berbasis whatsapp daninstagram pertama di Indonesia. Fokusnya memberikan edukasi dan informasi seputar kesehatan pernapasan seperti PPOK, Tuberkolosis (TBC), Asthma hingga Covid-19.

“Sepenuh Napas merupakan komunitas edukasi awam yang dimiliki oleh Kalbe, yangbertujuan untuk menyampaikan informasi mengenai penyakit pernapasan mulai dariinfomasi gejala, alur diagnosis, hingga terapi dan gaya hidup yang harus dijalani olehseseorang ketika dinyatakan memiliki penyakit pernapasan,” ujar, Apt. Mindo.

Menurutnya, tingkat kepedulian masyarakat masih rendah terhadap penyakit pernapasan, dimana saat ini berada di tengah pandemi Covid-19 yang juga merupakan salah satu penyakit pernapasan.

“Memanfaatkan platform instagram, kami berharap Sepenuh Napas dapat menjadi wadah edukasi bagi masyarakat dalam mengantisipasi penyakit pernapasan lebih dini. Jika memang sudah hidup dengan penyakit pernapasan, pasien bisa menemukan pola hidup yang sesuai dalam menjaga kapasitas pernapasannya untuk berfungsi dengan optimal,” katanya

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN