Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teknologi ini mampu menurunkan tingkat kekambuhan menjadi hanya sekitar 5-10% setahun pasca tindakan artinya 5-6x lipat lebih baik dibanding teknologi yang lama

Teknologi ini mampu menurunkan tingkat kekambuhan menjadi hanya sekitar 5-10% setahun pasca tindakan artinya 5-6x lipat lebih baik dibanding teknologi yang lama

Mengenal HD Grid 3D Mapping System dalam Tindakan Aritmia

Sabtu, 9 Januari 2021 | 13:04 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Seiring dengan berkembangnya teknologi kedokteran, teknologi penanganan tindakan aritmia pun semakin berkembang. Salah satunya adalah HD Grid 3D Mapping System. Apakah teknologi tersebut?

Dokters spesialis jantung Heartology Cardiovascular Center dr Sunu Budhi Raharjo PhD SpJP(K) mengatakan ada beberapa orang yang mengalami irama jantung yang tidak normal.

Detak jantungnya dapat terlalu cepat, terlalu lambat atau tidak teratur. Kondisi ketika detak jantung tidak berdenyut dengan normal inilah yang dinamakan Aritmia. Ketika terjadi aritmia, beberapa orang tidak menyadari kondisi mereka karena gejalanya tidak spesifik.

Dokters spesialis jantung Heartology Cardiovascular Center dr Sunu Budhi Raharjo PhD SpJP(K)
Dokters spesialis jantung Heartology Cardiovascular Center dr Sunu Budhi Raharjo PhD SpJP(K)

“Namun, pada kasus-kasus yang berat, gangguan aritmia dapat menyebabkan terjadinya stroke, bahkan kematian jantung mendadak,” ungkapnya di sela virtual media gathering Heartology Cardiovascular Center, Sabtu (9/1)

Menurut dr Sunu, dahulu, satu-satunya cara untuk mengatasi aritmia adalah dengan meresepkan obat-obatan. Sayangnya efektivitas obat-obatan untuk pengobatan aritmia tidak terlalu tinggi dan perlu pemantauan yang ketat.

HD Grid menggunakan kateter multipolar dan multidirectional, sehingga bisa mendeteksi gap (celah) yang tidak terlihat oleh kateter bipolar.
HD Grid menggunakan kateter multipolar dan multidirectional, sehingga bisa mendeteksi gap (celah) yang tidak terlihat oleh kateter bipolar.

Selain itu, obat-obatan anti aritmia juga sering memiliki efek yang tidak diharapkan dan mempunyai interaksi dengan obat-obatan lainnya. Pada beberapa dekade terakhir, banyak pasien yang menderita aritmia lebih memilih untuk menjalani tindakan ablasi, karena tingkat keberhasilan yang tinggi dan pasien bisa bebas obat.

“Tindakan ini merupakan tindakan intervensi non-bedah dengan menggunakan kateter yang dapat digunakan untuk menghancurkan sirkuit listrik yang tidak normal pada jantung seseorang. Namun, tindakan ini masih daa memungkinkan adanya kekambuhan 20-30% pada penderita Aritmia dalam setahun pasca tindakan,” paparnya.

Teknolog terbaru tindakan ablasi 3 dimensi
menggunakan HD Grid 3D Mapping system.
Teknolog terbaru tindakan ablasi 3 dimensi menggunakan HD Grid 3D Mapping system.

Namun, lanjut dr Sunu, seiring perkembangan teknologi kedokteran para ahli dunia menemukan teknolog terbaru tindakan ablasi 3 dimensi menggunakan HD Grid 3D Mapping system.

Teknologi ini memberikan paradigma baru dalam pemetaan aritmia, termasuk FA. Paradigma lama menggunakan kateter bipolar, sedangkan HD Grid menggunakan kateter multipolar dan multidirectional, sehingga bisa mendeteksi gap (celah) yang tidak terlihat oleh kateter bipolar.

“Selain itu, teknologi pemetaan ini menggabungkan pemetaan magnetic dan impedans secara bersamaan yang memungkinkan tindakan kateter ablasi dilakukan dengan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi,” jelas dr Sunu.

Teknologi ini memberikan paradigma baru dalam pemetaan aritmia, termasuk FA.
Teknologi ini memberikan paradigma baru dalam pemetaan aritmia, termasuk FA.

Hal itu, dr Sunu menyebutkan dibuktikan dengan bukti klinis yang menunjukkan bahwa penggunaan teknologi ini mampu menurunkan tingkat kekambuhan menjadi hanya sekitar 5-10% setahun pasca tindakan artinya 5-6x lipat lebih baik dibanding teknologi yang lama atau referensi 3-6). Hal lain yang juga penting adalah waktu tindakan yang bisa lebih cepat.

“Ini merupakan yang pertama di Indonesia. Tidak banyak rumah sakit yang memiliki teknologi ini, karena hanya sedikit Dokter Spesialis Jantung yang memiliki sub spesialisasi ini, disamping harga investasi peralatan yang cukup mahal,” tutupnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN