Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Makanan sehat. Foto ilustrasi: theblacktiefinecatering.com

Makanan sehat. Foto ilustrasi: theblacktiefinecatering.com

Perkembangan Industri Produk dan Gaya Hidup Organik Kian Positif

Indah Handayani, Rabu, 11 September 2019 | 19:15 WIB

JAKARTA, investor.id - Berdasarkan data dari Statistik Pertanian Organik Indonesia (SPOI) 2016 mencatat jumlah permintaan konsumen terhadap produk organik meningkat 54% dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih detail lagi, data lain menunjukan 18% pelanggan di Asia Tenggara bersedia membayar lebih untuk membeli produk organik. Hal ini menggambarkan perkembangan industri produk dan gaya hidup organik kian positif.

Ciptadi Sukono, Managing Director PT Arla Indofood, mengatakan, melihat potensi besar perkembangan industri produk organik di Indonesia dan meningkatnya permintaan konsumen akan produk-produk organik, menunjukkan bahwa gaya hidup organik telah berhasil diadaptasi masyarakat dan tingkat kesadaran hidup sehat semakin baik.

"Saat ini kita berada di era generasi organik 3.0. Tidak hanya di tingkat generasi usia 50-an namun anak muda atau milenial pun mulai kritis dalam mengonsumsi produk makan organik," ungkapnya dalam keterangan pers.

Erika T Luquin, konsultan makanan dan peternakan dari kedutaan Denmark, membagikan pengalaman negaranya dalam memperluas gaya hidup organik. Denmark termasuk negara pertama yang membuat legislasi tentang produk organik. Dibutuhkan waktu 30 tahun dari awal membangun kesadaran tentang organik hingga saat ini di mana produk-produk organik sudah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat Denmark.

Menurut Luquin, kunncinya adalah terus berinovasi. Melalui Organic Action Plan, negaranya mendukung riset, menyediakan program bagi peternak yang ingin mengubah peternakannya dari konvensional menjadi peternakan organik. Selain itu Denmark juga membuat lebih banyak dapur umum yang menyiapkan makanan organik, 500.000 – 800.000 makanan perhari.

"Kini di Denmark semua produk organik sudah mendapatkan sertifikasi dari pemerintah dan bisa didapatkan secara gratis," paparnya.

Menanggapi fakta tersebut, DR David Wahyudi, Guru Besar Food Science and Technology, Universitas Bakrie, Indonesia dan Managing Editor Asia Pacific Journal of Sustainable Agriculture, Food & Energy, menyampaikan selain isu lingkungan dan kebaikan hewan, alasan konsumen memilih produk organik karena keinginan yang kuat untuk hidup lebih sehat.

"Karena produk organik menawarkan kelebihan dibandingkan produk non-organik, yaitu bebas pestisida dan bebas GMO," jelas DR David.

Sementara itu, Prof DR Ir Ali Khomsan MS, Guru Besar Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Universitas Institut Pertanian Bogor mengatakan, seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang terbiasa menggunakan dan mengonsumsi produk organik, akan tumbuh menjadi seorang pembeli yang loyal. "Karenanya sangat penting membangun kesadaran anak sejak dini untuk menerapkan hidup sehat," jelas dia.

Hal ini diamini oleh DR. dr. Fiastuti Witjaksono, Spesialis Gizi Klinis dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang menjelaskan bahwa meningkatnya kesadaran untuk hidup sehat di masyarakat, salah satunya dengan mengonsumsi pangan organik, harus dimanfaatkan dengan baik dan sedari dini.

Selama ini konsumen makanan organik kebanyakan ada pada penderita kanker, atau anak berkebutuhan khusus. Seharusnya makanan organik dikonsumsi seluruh lapisan masyarakat untuk tindakan preventif. "Makan makanan sehat menjadi investasi agar terhindar dari berbagai penyakit kronis,” jelas dr. Fiastuti.

Terkait sertifikasi produk organik, untuk memudahkan konsumen memilah antara produk organik dan non organik, menurut Apriyanto Dwi Nugroho STP MSc, Kepala Bidang Keamanan Pangan Segar, Kementerian Pertanian RI, saat ini semua produk pertanian organik yang tersertifikasi sudah menggunakan logo hijau dengan kode Lembaga Sertifikasi Organik. "Produk makanan olahan organik juga harus mendapatkan ijin edar dari BPOM sesuai peraturan yang berlaku," tutup Apriyanto.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA