Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hendriko Norman, Marketing Manager, PT OMRON Healthcare Indonesia; Yoshiaki Nishiyabu, Managing Director, PT. OMRON Healthcare Indonesia; dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH; Ketua Umum InaSH; Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S, Anggota Dewan Pembina dan Badan Pengawas InaSH

Hendriko Norman, Marketing Manager, PT OMRON Healthcare Indonesia; Yoshiaki Nishiyabu, Managing Director, PT. OMRON Healthcare Indonesia; dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH; Ketua Umum InaSH; Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S, Anggota Dewan Pembina dan Badan Pengawas InaSH

Rutin Cek Tekanan Darah Hindarkan Hipertensi Tak Terkendali

Imam Suhartadi, Rabu, 30 Oktober 2019 | 23:10 WIB

JAKARTA, investor.id -  Sesal kerap datang terlambat di akhir waktu. Salah satu tindakan penyesalan yang kerap dilakukan seseorang adalah menyepelekan tindakan pencegahan terhadap kemungkinan terserang penyakit. Tak heran jika muncul pepatah 'Sedia Payung Sebelum Hujan'.

Peribahasa ini mungkin tepat untuk menggambarkan pentingnya tindakan antisipasi atas resiko buruk terserang penyakit di masa yang akan datang. Salah satu tindakan pencegahan yang penting di bidang kesehatan adalah dengan pengukuran tekanan darah secara rutin di rumah.

Darah tinggi tidak boleh disepelekan. Hipertensi sering disebut the silent killer alias pembunuh dalam diam karena penyakit ini umumnya tidak menunjukkan gejala sampai benar-benar terlambat.

Tekanan darah tinggi yang dibiarkan begitu saja akan merusak pembuluh darah. Lama-kelamaan, hipertensi dapat menyebabkan pengerasan dan penebalan arteri dinding pembuluh darah arteri. Kondisi ini disebut dengan aterosklerosis yang menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, termasuk pembuluh darah di otak.

Mencegah stroke. Foto ilustrasiL IST
Mencegah stroke. Foto ilustrasiL IST

Penyebab stroke pada orang yang punya hipertensi adalah pembuluh darah otak yang tersumbat itu pecah tiba-tiba akibat terus-menerus menerima aliran darah bertekanan tinggi. Pengalaman buruk ini pernah dialami Farid 43 tahun seorang guru yang tinggal di Cileduk, Kota Tangerang lima tahun lalu .

Ceritanya bermula saat liburan Idul Fitri. Ia merasa pusing dan merasa berat di bagian dadanya. Farid akhirnya dibawa ke unit gawat darurat (UGD) dan mendapati bahwa tekanan darahnya meningkat.

Rasa sakit di dadanya tidak berhenti, kepalanya sakit, dan hal tersebut membuatnya tidak bisa tidur meski sudah dirawat selama dua hari. Setelah dilakukan pengecekan dokter akhirnya mendiagnosis Farid terkena stroke.

Farid merasa sangat terkejut dengan diagnosis tersebut. Ia hampir tak percaya, seorang yang aktif mengajar bela diri pencak silat, rutin olah raga bersepeda , seorang yang tidak pernah sakit, dan selalu menerapkan hidup sehat kini mengalami stroke.

Stroke yang diidapnya merupakan akibat langsung dari hipertensi yang tidak terdiagnosis. Hipertensi adalah 'silent killer', yaitu pembunuh secara diam-diam jika tidak disadari sejak awal.

"Saya memiliki riwayat keluarga hipertensi. Baik ibu dan ayah saya memiliki tekanan darah tinggi," ungkapnya.

Kerusakan yang diidap Farid di otak menyebabkan kelemahan di bagian kiri tubuhnya, terutama lengan dan kaki. Ia menjalani terapi fisik , terapi rawat jalan dan terapi bicara selama setahun.

Dia bersyukur masih bisa selamat meski terkadang muncul perasaan takut karena mendapatkan pengalaman mendekati kematian.

Farid menjalani hari-harinya dengan makan sehat dan berolahraga. Selain itu, rutin memonitor tekanan darah setiap hari sangat membantu dirinya untuk mencegah stroke datang kembali. "Paling tidak tiga kali seminggu saya rutin mengecek tekanan darah di rumah ," tambahnya.

 

ilustrasi stroke
ilustrasi stroke

Menteri Kesehatan RI Periode 2014-2019 Nila Moeloek dalam berbagai kesempatan selalu mengingatkan masyarakat untuk rutin mengecek tekanan darahnya apalagi pada wanita hamil.

"Seandainya kita bisa mencegah, seandainya seluruh organisasi kesehatan masyarakat mengingatkan masyarakat untuk mengecek tekanan darah apalagi pada saat kehamilan. Ini salah satu cara menekan penyakit juga jumlah kematian," tutur Nila beberapa waktu lalu.

Dengan rutin mengecek tekanan darah, masing-masing dari kita mengetahui masuk dalam kategori memiliki tekanan darah normal atau sudah masuk pra-hipertensi atau pun tingkat yang lebih berat, sehingga bisa dilakukan tindakan pengendalian mau pun pencegahan menjadi hipertensi yang lebih berat.

"Kita harus (lakukan tindakan) preventif promotif. Kita tidak lagi harus menunggu sakit, kita harus mencegahnya (sebelum penyakit itu datang)," terang Nila

 

Risiko Akibat Hipertensi

dr. Tunggul D. Situmorang SpPD-KGH, Ketua Umum InaSH (Indonesian Society of Hypertension) mengatakan, hipertensi adalah penyebab kesakitan (morbidity) dan kematian (mortality) terbanyak dunia. Jumlah orang dengan hipertensi di Indonesia terus meningkat, termasuk generasi milenial.

Riset Kesehatan Dasar (riskesdas) 2018 menyatakan, prevalensi hipertensi adalah 34,1% dari populasi usia dewasa.

Selain itu, hipertensi menjadi penyebab kematian nomor 5 di Indonesia. Penyakit ini menjadi penyebab utama gagal ginjal yang memaksa pasien harus menjalani cuci darah.

“Hipertensi termasuk dalam penyakit katastropik yang berkontribusi terhadap tingginya pengeluaran untuk rumah sakit, dokter dan obat-obatan, yang meningkat setiap tahun di Indonesia. BPJS Kesehatan mencatat bahwa pada 2014-2018 dana yang dihabiskan untuk penyakit katastropik mencapai Rp 78,3 triliun,” ujarnya.

Karena itu perlu upaya Gerakan Peduli Hipertensi (GPH) sebagai bagian dari Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS) sebagai upaya pencegahan.

Diagnosis hipertensi tidak lagi hanya didasarkan atas pengukuran tekanan darah di rumah sakit atau klinik praktik dokter, yang disebut dengan “Office Blood Pressure”, tapi dianjurkan untuk melakukan pengukuran tekanan darah di rumah atau disebut “Out of Office Blood Pressure” dimana CERAMAH (Cek Tekanan Darah di Rumah) termasuk dalam kategori ini.

Kepatuhan makan obat dan perhatian atas kesehatan diri sendiri juga diharapkan akan meningkat dengan cara ini sehingga pencapaian target tekanan darah juga akan lebih mudah tercapai.

Dampaknya, kerusakan organ vital seperti jantung, syaraf, ginjal, dan pembuluh darah, dapat dihindari. Anjuran untuk menjalani gaya hidup sehat sangat direkomendasikan sebagai bagian dari pengobatan hipertensi.

“Gaya hidup sehat yaitu olah raga teratur, konsumsi nutrisi yang seimbang dengan mengurangi asupan garam, gula, dan lemak, serta menjaga berat badan dan lingkar pinggang yang ideal, berhenti merokok, tidak minum alkohol dan menghindari stres,” katanya

Dianjurkan pula untuk mengkonsumsi obat- obatan antihipertensi secara kombinasi sejak awal pengobatan dan target tekanan darah yang diharapkan.

Lebih dari itu, mengelola pasien-pasien hipertensi tidak hanya sekadar menurunkan tekanan darah saja tapi juga mengendalikan faktor-faktor penyulit dan kondisi maupun penyakit yang menyertainya (co-morbid conditions).

 

Ilustrasi Cek Tekanan darah
Ilustrasi Cek Tekanan darah

Tunggul mengatakan, tekanan darah disebut normal apabila pengukuran di rumah di bawah 135/85 mmHg.. Sedangkan rerata saat bangun di bawah 135/85 mmHg.

Rerata saat tidur malam di bawah 120/70 mmHg, rerata 24 jam di bawah 130/80 mmHg, dan pengukuran di klinik di bawah 140/90 mmHg.

“Ketika terjadi perbedaan diagnosis antara tekanan darah di klinik dan tekanan darah di rumah, maka yang harus diprioritaskan adalah pengukuran tekanan darah di rumah,” katanya.

Dengan pengukuran akurat dari monitor tekanan darah yang divalidasi, lanjut dia, pengguna dapat menerima saran yang tepat dari dokter mengenai pengobatan dan rekomendasi paling efektif dalam meningkatkan gaya hidup mereka.

Cek Tekanan Darah Teratur

Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S, Anggota Dewan Pembina InaSH menyampaikan, berdasarkan riset InaSH, 63% pasien hipertensi mengonsumsi obat antihipertensi tanpa pemantauan. Ini berarti, dari 100 orang, 30 orang memiliki hipertensi.

“Dari 30 orang tersebut, 6 tidak pernah minum obat dan 19 orang minum obat tidak terkontrol. Hanya 5 orang yang terkontrol.  Ini menunjukkan, sebagian besar pasien tidak melakukan cek tekanan darah secara teratur dan mandiri di rumahnya,” ujarnya.

Sementara itu, riset Organisasi Kesehatan Dunia (2015) menyatakan bahwa 1 dari 4 pria dan 1 dari 5 wanita di seluruh dunia berisiko mengalami hipertensi. Meningkatnya faktor risiko vaskular disebabkan gaya hidup tidak sehat, jarang berolahraga, candu minuman beralkohol dan rokok, serta obesitas. Orang yang memiliki anggota keluarga yang menderita hipertensi, diabetes atau penyakit jantung juga lebih berisiko.

Banyak studi menunjukkan, CERAMAH memiliki nilai prognostik yang lebih baik dibandingkan hanya pemeriksaan tekanan darah di rumah sakit. CERAMAH juga meningkatkan kepatuhan pasien dan mendeteksi keberadaan masked hypertension (hipertensi terselubung) dan whitecoat hypertension (hipertensi jas putih).

Kampanye CERAMAH diluncurkan pada 2018 sebagai upaya untuk menurunkan prevelansi hipertensi yang saat ini masih tinggi di Indonesia (1 dari 3 orang Indonesia terkena hipertensi).

 

Ilustrasi Cek Tekanan darah
Ilustrasi Cek Tekanan darah

Sementara itu, Yoshiaki Nishiyabu, Managing Director, PT. OMRON Healthcare Indonesia mengingatkan pentingnya deteksi awal dan pemantauan secara berkelanjutan hipertensi . Hal ini mengingat cepatnya hipertensi meluas di kalangan masyarakat Indonesia.

Jika tidak dirawat dan dipantau dengan baik, hipertensi dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang mengancam nyawa. Masyarakat dari semua kelompok umur perlu disadarkan atas bahaya hipertensi dan cara pencegahannya, termasuk pemeriksaan tekanan darah sendiri di rumah.

Sebagai solusinya, OMRON Healthcare Indonesia akan terus bekerjasama dengan berbagai organisasi kesehatan dengan menawarkan peralatan kesehatan yang andal dan mudah digunakan untuk membantu pengguna memantau tekanan darah mereka pada batasan yang sehat dan normal.

Data yang dipantau berperan sangat penting untuk memberi informasi ke dokter, yang kemudian dapat memanfaatkannya untuk memberikan pengobatan secara efektif.

“Kami senang bisa bekerja sama dengan Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH). InaSH akan sangat membantu kami mencapai visi dalam kampanye global OMRON bertajuk ‘Zero Event’, yang bertujuan mengurangi insiden terjadinya penyakit yang mengancam jiwa, yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi, sampai tak ada sama sekali,” katanya.

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA