Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Eisai Indonesia (PTEI) bersama dengan  Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia  (PERDOSSI) berinisiatif  melakukan  kampanye  awareness penyakit  demensia secara berkesinambungan.

PT Eisai Indonesia (PTEI) bersama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) berinisiatif melakukan kampanye awareness penyakit demensia secara berkesinambungan.

Sering Lupa Bukanlah Hal Normal

Selasa, 15 September 2020 | 04:41 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Pikun seringkali dianggap biasa dialami oleh lansia sehingga Demensia Alzheimer seringkali tidak terdeteksi, padahal gejalanya dapat dialami sejak usia muda (early on-set demensia).

Deteksi dini membantu penderita dan keluarganya untuk dapat menghadapi dampak penurunan fungsi kognitif dan pengaruh psiko-sosial dari penyakit ini dengan lebih baik.

Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) DR dr Dodik Tugasworo P SpS(K) mengatakan meskipun demensia sebagian besar dialami oleh lansia, kondisi ini bukanlah hal yang normal.

Demensia Alzheimer merupakan penyebab utama ketidakmampuan dan ketergantungan lansia terhadap orang lain. Penyakit ini memberikan dampak fisik, psikososial, sosial, dan beban ekonomi tidak hanya bagi penderita tapi juga bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Estimasi jumlah penderita Penyakit Alzheimer di Indonesia pada 2013 mencapai satu juta orang. Jumlah itu diperkirakan akan meningkat drastis menjadi dua kali lipat pada 2030, dan menjadi empat juta orang pada 2050.

President Director PT Eisai Indonesia (PTEI), dr. Iskandar Linardi
President Director PT Eisai Indonesia (PTEI), dr. Iskandar Linardi

“Bukannya menurun, tren penderita Demensia Alzheimer di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang Demensia Alzheimer mengakibatkan stigmatisasi dan hambatan dalam diagnosis dan perawatan. Oleh karena itu, edukasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan secara terus menerus sangat penting,” ungkapnya di sela Digital Media Briefing 'Pikun Bukan Hal Normal, Kenali Gejala dan Segera Obati', Senin (14/9). 

Ketua Studi Neurobehavior Perdossi, dr Astuti, SpS(K), mengatakan penyakit demensia Alzheimer memiliki faktor risiko yang bisa dimodifikasi seperti penyakit vaskular, hipertensi, metabolik, Diabetes, dislipidemia, pasca cedera kepala, pendidikan rendah, depresi dan yang tidak bisa dimodifikasi yaitu usia lanjut, genetik yaitu memiliki keluarga yang mengalami Demensia Alzheimer.

Selain mengetahui faktor risikonya, penting juga untuk menyadari bahwa Demensia Alzheimer bersifat kronis progresif, artinya semakin bertambah kerusakan otak seiring bertambahnya umur. Sehingga deteksi dini sangat penting bagi penyakit Demensia Alzheimer.

“Dengan deteksi dini, pasien dapat lebih cepat ditangani sehingga kerusakan otak karena Alzheimer dapat diperlambat,” paparnya.

Sementara itu, President Director PT Eisai Indonesia (PTEI), dr. Iskandar Linardi mengatakan dalam rangka Alzheimer Awareness Month pada fungsi kognitif September ini, Eisai Indonesia dan PERDOSSI mengadakan kampanye edukatif, #ObatiPikun dan mengenalkan metode deteksi dini Demensia Alzheimer melalui EMS (E-memory screening). EMS akan diluncurkan pada 20 September 2020 bertepatan dengan adanya Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia. 

“Harapannya, makin banyak masyarakat yang mengetahui mengenai penyakit dan gejala Demensia Alzheimer serta langsung take action dengan konsultasi ke dokter untuk melakukan deteksi dini dan mendapatkan rekomendasi penanganan segera,” tutupnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN