Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Makanan sehat. Foto ilustrasi: theblacktiefinecatering.com

Makanan sehat. Foto ilustrasi: theblacktiefinecatering.com

Tren Konsumsi dan Gaya Hidup Organik di Indonesia Makin Meningkat

Indah Handayani, Rabu, 4 September 2019 | 17:51 WIB

JAKARTA, investor.id - Pertumbuhan pasar organik di Indonesia terus meningkat. Hal ini didorong peningkatan daya beli masyarakat dan alasan untuk hidup lebih sehat. Di seluruh dunia pertumbuhan organik selalu meningkat dari tahun ke tahun. Di Indonesia, pertumbuhan pasar organik sekitar 15-20%.

Gaya hidup organik juga mulai masuk ke Indonesia. Data menunjukkan produksi dan konsumsi produk makanan organik meningkat. Tidak hanya di tingkat generasi usia 50-an tetapi anak muda atau milenial. Alasan konsumen memilih produk organik menurut riset adalah ingin hidup lebih sehat. Karena ada kelebihan produk organik dibandingkan produk non-organik, yaitu bebas pestisida dan bebas GMO.

Selain itu alasan yang mendorong konsumen beralih ke produk organik adalah isu lingkungan dan kesejahteraan hewan. Jenis produk organik yang sudah banyak tersedia di Indonesia adalah beras, buah dan sayuran, ayam, telur, susu dan yogurt dan produk perkebunan (madu, kopi dan vanila).

Sementara menurut Prof. DR. Ir. Ali Khomsan, MS, Guru Besar Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Universitas Institut Pertanian Bogor, penelitian terhadap susu organik dari sisi kandungan gizi, kandungan susu organik berbeda dengan susu konvensional (Palupi, 2012). Namun laporan lain mengklaim tidak ada perbedaan. Jadi belum ada kesimpulan.

“Ada studi yang mengatakan kadar omega-3 dan omega-6 pada susu organik lebih tinggi, yaitu pada susu yang dihasilkan dari sapi yang mengonsumsi rumput hijau (grass milk). Tetapi untuk gizi makronya (lemak, protein, karbohidrat) tidak ada perbedaan signifikan,” ujar Prof. Ali.

DR. dr. Fiastuti Witjaksono, Spesialis Gizi Klinis dari FKUI menjelaskan meningkatnya kesadaran untuk hidup sehat di masyarakat, salah satunya pangan organik, harus dimanfaatkan dengan baik.

Selama ini konsumen makanan organik kebanyakan pada penderita kanker, atau anak berkebutuhan khusus. “Seharusnya makanan organik dikonsumsi untuk tindakan preventif. Makan makanan sehat adalah investasi agar terhindar dari berbagai penyakit kronis,” jelas dr. Fiastuti.

Salah satu negara yang menjadi acuan gaya hidup organik adalah Denmark. Erika T. Luquin, konsultan makanan dan peternakan dari kedutaan Denmark, membagikan pengalaman negaranya dalam memperluas gaya hidup organik. Dibutuhkan waktu 30 tahun dari awal membangun kesadaran tentang organik hingga saat ini di mana produk-produk organik sudah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat Denmark. Denmark termasuk negara pertama yang membuat legislasi tentang produk organik.

“Kuncinya adalah terus berinovasi. Melalui Organic Action Plan, kami mendukung riset, menyediakan program bagi peternak yang ingin mengubah peternakannya dari konvensional menjadi peternakan organik. Targetnya menggandakan area organik, dari tahun 2007 sampai 2020,” ujarnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA