Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Gizi Masyrakat, Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Ir. Doddy Izwardy MA (kiri) dan Glenn Pardede, Managing Director PT East West Seed Indonesia (tengah) berbicara tentang stunting dalam seminar Food & Nutrition and its Contribution to Increase Society Welfare and Health di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (4/7/2019).

Direktur Gizi Masyrakat, Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Ir. Doddy Izwardy MA (kiri) dan Glenn Pardede, Managing Director PT East West Seed Indonesia (tengah) berbicara tentang stunting dalam seminar Food & Nutrition and its Contribution to Increase Society Welfare and Health di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (4/7/2019).

Waspadai Tiga Serangkai Penyebab Stunting

Mardiana Makmun, Kamis, 4 Juli 2019 | 20:58 WIB

Jakarta, Investor.id - Angka stunting (tinggi badan sangat pendek) masih sangat tinggi di Indonesia. Data terbaru Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia saat ini sebesar 30,8% masih jauh di atas ambang yang ditetapkan WHO, yaitu sebesar 20%.

Direktur Gizi Masyrakat, Dirjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Ir. Doddy Izwardy MA mengungkapkan, berdasarkan penelitian yang dilakukannya terhadap 2 ribu ibu hamil, ditemukan kelahiran anak dengan kasus stunting cukup tinggi.

“Dari penelitian yang saya lakukan pada dua ribu ibu hamil, angka stuntingnya tinggi. Kondisi ini mengkhawatirkan dan harus diwaspadai, karena stunting selain menyebabkan gangguan  pertumbuhan tinggi badan pada anak, juga menyebabkan gangguan kecerdasan (gangguan kognitif) dan gangguan metabolisme kelak setelah anak dewasa, yang menyebabkan menderita penyakit degeneratif seperti diabetes, obesitas, stroke, dan jantung,” ungkap Doddy di sela peluncuran Panah Merah Innovation Award 2019 dan Seminar Nasional “Food & Nutrition and its Contribution to Increase Society Welfare and Health” yang digelar PT East West Seed Indonesia di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (4/7/2019).

Indikator anak stunting, papar Doddy, sudah bisa diprediksi saat anak lahir. “Kalau tinggi badan anak saat lahir kurang dari 48 cm, harus diwaspadai, karena berisiko itu stunting. Pantau terus sampai usia 2 tahun, bila tinggi badan tidak sesuai dengan usia, itu berarti anak bisa dikatakan stunting,” tegas Doddy.

Apa yang menyebabkan anak menjadi stunting ternyata sangat kompleks. Namun tiga serangkai masalah ini ternyata menjadi penyebab anak stunting. “Tiga faktor penyebabnya, yaitu pola makan ibu hamil buruk, pola asuh yang buruk setelah anak lahir, dan kurangnya akses air bersih. Ini tiga hal yang jadi penyebab stunting,” tegas Doddy.

Pola makan ibu hamil yang buruk diantaranya ibu hamil hanya memakan karbohidrat, namun kekurangan protein tinggi, dan kurang mengonsumsi sayuran serta buah-buahan. “Protein tinggi dibutuhkan untuk pertumbuhan fisik dan otak bayi, sedangkan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral dari sayuran dan buah-buahan diperlukan untuk proses metabolisme tubuh bayi,” jelas Doddy.

Mirisnya lagi, setelah bayi lahir, pola asuh pada anak pun buruk. “Dari 2007 sampai dengan 2018, hanya 37% bayi di Indonesia yang  diberi ASI eksklusif dan setelah usia 6 bulan pun kurang diberi protein serta sayuran dan buah. Belum lagi rendahnya akses air bersih bisa menyebabkan diare sehingga kebutuhan gizi anak pun tidak terpenuhi,” jelas Doddy.

Rendahnya kesadaran masyarakat mengonsumsi sayur dan buah juga diungkapkan Glenn Pardede, Managing Director PT East West Seed Indonesia. “Di NTT, kami menemukan kesadaran masyarakat mengonsumsi sayur dan buah sangat rendah. “Di sana tidak ada yang menanam sayuran daun, seperti bayam atau kangkung. Padahal, sayuran daun tersebut mengandung asam folat dan zat besi untuk perkembangan otak anak,” ungkap Glen yang terus melakukan edukasi pentingnya mengonsumsi sayuran dan buah-buahan.

Edukasi ini juga dilakukan dengan mengggelar Panah Merah Innovation Award 2019. “Kami ingin mendorong munculnya inovasi-inovasi kewirausahaan khususnya di bidang nutrisi, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan,” tandas Glenn Pardede.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA