Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Cikarang Dry Port Bangun Gudang Berikat Kapas

Kamis, 5 November 2015 | 09:54 WIB
ah

CIKARANG-PT Cikarang Inland Port atau Cikarang Dry Port akan membangun Pusat Logistik Berikat (PLB) atau gudang berikat khusus untuk komoditas kapas yang selama ini ditimbun di negara lain seperti Singapura atau Malaysia.

"Kami sudah siapkan 5.000 meter persegi PLB untuk kapas, tapi implementasinya tunggu regulasi," kata Managing Director Cikarang Dry Port Benny Woenardi di Cikarang, Bekasi, Rabu.

Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) mengenai Pusat Logistik Berikat sendiri, menurut informasi sudah masuk meja Presiden Joko Widodo untuk segera ditandatangani.Aturan tersebut akan membuat PLB bisa resmi beroperasi sebagai gudang berikat mandiri di mana pedagang dan pemasok kapas atau komoditas impor lainnya bisa menyimpan stok kapas untuk kegiatan industri. Benny menambahkan, pihaknya sedang membangun area gudang PLB untuk kapas dengan kapasitas hingga 40.000 meter persegi, hampir mencapai kapasitas total yang diklaim seluas 50.000 meter persegi.

"Ada lima pemasok kapas besar di dunia, dari hanya sekitar 12 di dunia, yang sudah konfirmasi akan datang ke Indonesia, karena dilihat atraktif," katanya.

Dengan PLB di kawasan Cikarang Dry Port itu, Benny menilai ada pilihan bagi importir untuk bisa lebih efisien dalam melakukan impor.

"Kita impor, tapi semuanya transit di Singapura atau Malaysia. Mereka (importir) ini takut juga masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok, karena hanya 40 persen dari volume yang transit yang bisa dipindahkan," ujarnya.

Benny melanjutkan, dengan adanya PLB untuk komoditas kapas, Indonesia diharapkan bisa jadi alternatif "hub" untuk ASEAN lantaran melewati jalur selatan dunia yang pasarnya potensial.

Ketua Satuan Tugas Dwelling Time Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono mengatakan pengusaha bisa bekerjasama untuk membangun Pusat Logistik Berikat untuk komoditas impor lainnya seperti susu atau migas.

Dengan demikian, barang-barang impor tersebut tidak perlu ditimbun dan diperiksa di Pelabuhan Tanjung Priok yang juga membebani waktu bongkar muat barang (dwelling time) di pelabuhan.

"Jadi begitu mau dipakai, dikeluarkan. Tidak ada lagi kendala ’dwelling time’ di Priok. Sebenarnya di tempat lain juga ada ’dwelling time’, tapi tidak separah di Priok," kata Agung yang juga menjabat sebagai Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kemenko Kemaritiman.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) EG Ismy, dalam kesempatan yang sama, berharap RPP Pusat Logistik Berikat bisa segera diteken.

 "Kalau tidak sekarang, momentumnya lewat karena Vietnam sudah jauh menyusul kita," katanya.

Pihaknya mencatat, Indonesia mengimpor 98 persen kapas dari Amerika, Brazil dan Afrika senilai 1,3 miliar dolar AS setiap tahunnya.

"Sebanyak 40 persen dari total impor kapas itu, ditimbun di Malaysia, nilainya 420 juta dolar AS. Coba kalau dipindah ke sini, uang itu berputarnya di Indonesia," katanya.  Menurut dia, keberadaan PLB di wilayah yang dekat dengan belasan kawasan industri sekitar Jawa Barat itu tentu sangat membantu lantaran bisa mendorong efisiensi waktu dan biaya.

"Yang kami tunggu ya PLB ini, kami sudah tunggu lama. Padahal kalau ada tentu akan mudah bagi kami," katanya.

Dalam RPP Pusat Logistik Berikat itu, lanjut Ismy, disebut ada sejumlah aturan yang direkomendasikan berupa kepemilikan barang tetap atas nama asing, bisa ditimbun selama setahun dan bisa diekspor kembali.(ant/hrb)

Editor : herry barus (herrybarus@yahoo.com.au)

BAGIKAN