Menu
Sign in
@ Contact
Search

Tiongkok Diimbau Tingkatkan Investasi

Jumat, 15 April 2016 | 13:40 WIB

JAKARTA – Tiongkok diimbau dapat meningkatkan investasi di Indonesia. Selama ini, Tiongkok dinilai banyak menyatakan komitmen investasi, namun realisasinya masih sangat rendah.


“Saya melihat bahwa dari 10 komitmen investasi dari Tiongkok, biasanya hanya satu yang direalisasikan alias hanya 10%,” kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani saat melantik pengurus komite bilateral Kamar Dagang Indonesia Komite Tiongkok (KIKT) di Jakarta, Kamis (14/4).


Dato’ Sri Tahir terpilih sebagai ketua Komite Bilateral Kadin Indonesia- Tiongkok (KIKT) periode 2015- 2020. Komite bilateral ini akan bekerja di bawah koordinasi Kadin Bidang Hubungan Internasional. Rosan menekankan bahwa Indonesia harus membuka diri terhadap investasi asing, termasuk Tiongkok.


Terlebih lagi, biaya tenaga kerja di Tiongkok kini semakin mahal, sehingga investor cenderung memindahkan investasinya dari Negeri Tirai Bambu tersebut Untuk itu, Indonesia harus siap menerima limpahan investasi, baik investasi baru maupun relokasi.


Meski demikian, Rosan menekankan agar Indonesia tetap selektif dalam menerima relokasi industri dari Tiongkok. “Kita tetap harus menerima investasi Tiongkok yang berkualitas,” tegasnya.


Tahun lalu, investasi Tiongkok di Indonesia hanya sebesar US$ 628 juta. Nilai itu turun dibanding tahun 2015 yang mencapai US$ 800 juta. Menurut Rosan, posisi KIKT sangat vital karena Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Indonesia. Meski saat ini ekonomi Tiongkok tengah melambat, Rosan tetap optimistis investasi negeri itu ke Indonesia tetap akan gencar.


Dato’ Sri Tahir menambahkan, agar bisa menarik investasi dari Tiongkok, ada dua hal yang ditawarkan oleh Indonesia. Pertama jaminan hukum untuk berinvestasi. Kedua, jaminan ruang dan lahan.


Dia menyatakan bahwa Indonesia masih memiliki kesempatan besar karena dapat menjadi tempat relokasi industri dari Tiongkok. “Saya keliling Asia, tidak ada peluang yang lebih baik dari investasi di Indonesia,” kata dia.


Dato’ Sri Tahir menilai bahwa pemerintah sudah cukup gencar menggulirkan paket stimulus untuk memperbaiki iklim ekonomi. Di antaranya adalah berbagai deregulasi dan rencana penerapan Undang-Undang Amnesti Pajak (tax amnesty).


Dalam pandangan Tahir, lambatnya perekonomian merupakan momentum bagus untuk melakukan evaluasi yang biasanya tidak sempat dilakukan ketika situasi ekonomi bagus. Tahir yakin bahwa pada semester II-2016, iklim investasi sudah mulai membaik.


“Sekarang kita sudah siap. Banyak negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Taiwan, gencar berinvestasi. Taiwan juga banyak merelokasi industrinya. Kita harus bisa memanfaatkan ini,” kata dia.


Anggota Dewan Penasihat KIKT Charles Honoris menegaskan, realisasi investasi Tiongkok memang rendah. Ini masih kalah jauh dibanding Jepang dan Korea Selatan. (hg/gor)


Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/home/2020-perdagangan-ri-tiongkok-capai-us-150-miliar/142830

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com