Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com

Indonesia Butuh Tambahan Industri Hulu Petrokimia

Senin, 23 Juli 2018 | 00:18 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA – Indonesia membutuhkan tambahan investasi di industri hulu petrokimia untuk mengurangi ketergantungan impor. Pengembangan di hulu tersebut mendesak untuk dilakukan, karena industri petrokimia dan turunannya masih sangat bergantung pada bahan baku impor, sehingga rentan terhadap perubahan nilai tukar rupiah.

“Pemerintah harus mulai membenahi industri hulu petrokimia melalui holding BUMN yang dimiliki, supaya pada tahun 2020 bisa berdaya saing, termasuk di pasar ekspor juga. Jadi bahan baku bisa lebih murah,” kata Wakil Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Industri Hulu dan Petrokimia Achmad Wijaya di Jakarta, Jumat (20/7).


Dia menjelaskan, kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang telah menembus level Rp 14.500, membuat industri mau tidak mau= harus mengorek kantong sendiri untuk mengurangi margin. Saat ini, 90% nafta untuk industri petrokimia masih harus impor.


Untuk itu, Achmad berharap, Pertamina sebagai BUMN pengolah migas, bisa ikut mengembangkan industri petrokimia. Idealnya, pengolah nafta harus berada berdekatan atau terintegrasi dengan kilang minyak.


Dia menekankan, jika industri hulu tidak dibenahi, insentif fiskal yang gencar diberikan pemerintah tidak akan efektif menarik investasi. Pasalnya, selain insentif, industri juga membutuhkan kepastian bahan baku. (ajg)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

BAGIKAN