Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

20 Manufaktur Jadi Proyek Percontohan Industri 4.0

Eva Fitriani, Rabu, 9 Oktober 2019 | 17:21 WIB

PADANG, investor.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melakukan pendampingan kepada 20 perusahaan manufaktur untuk menerapkan konsep industri 4.0 dalam produksinya. Ke-20 perusahaan ini akan menjadi proyek percontohan penerapan industri 4.0. Pendampingan dilakukan untuk memastikan penerapan industri 4.0 bisa diimplementasikan dengan baik.

"Assessment sudah ada sekitar 326 perusahaan. Dua puluh industri sudah dilakukan pendampingan secara langsung, yang lainnya diberikan sosialisasi," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara pada acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri, di Padang, Selasa (8/10).

Ngakan Timur Antara. Foto: IST
Ngakan Timur Antara. Foto: IST

Ngakan mengungkapkan, perusahaan yang dilakukan pendampingan berasal dari lima sektor prioritas industri 4.0 yakni makanan dan minuman (mamin), elektronika, kimia, tekstil dan produk tekstil (TPT), serta otomotif. "Pada dasarnya semua dalam rangka persiapan ke arah industri 4.0, tapi yang paling semangat kelihatannya otomotif, kimia, mamin, dan elektronik," ujar dia.

Kemenperin, lanjut dia, telah melatih sekitar 200 accessor untuk mendampingi perusahaan dalam pengimplementasian industri 4.0. Para accessor tersebut nantinya akan mendampingi tim yang dibentuk perusahaan untuk mengurai permasalahan operasional melalui implementasi teknologi 4.0 sehingga bisa meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja.

Dia menerangkan, pendampingan oleh Kemenperin akan dilakukan sampai tim dari perusahaan sudah bisa mendesain proyek yang disetujui oleh para pemimpin perusahaan masing-masing. "Kalau kami sudah beri assesment, kami dampingi di lapangan, lalu mereka menggarap proyek yang bisa mengatasi permasalahan produksi dengan teknologi 4.0 sehingga mampu menghasilkan efisiensi bagi perusahaan," terang dia.

Dia mengatakan, implementasi industri 4.0 bisa menghasilkan efisiensi hingga 15-20%. "Reject product bisa berkurang hingga 30%," ujar dia.

World Economic Forum (WEF). Foto: dw.com
World Economic Forum (WEF). Foto: dw.com

Ngakan melanjutkan, ke-20 perusahaan tersebut akan menjadi percontohan bagi perusahaan manufaktur lainnya dalam implementasi industri 4.0. "Kami minta implementasi di perusahaan-perusahaan itu bisa dipakai untuk industri lainnya," tutur dia.

Di samping itu, ke-20 perusahaan itu akan didorong untuk mendapatkan sertifikat dari World Economic Forum (WEF) sebagai lighthouse industry atau industri percontohan 4.0. Saat ini, ada dua perusahaan Indonesia yang sudah masuk dalam 10 besar Global Lighthouse Network atau percontohan industri 4.0 dunia, yakni PT Schneider Electric Manufacturing Batam (SEMB) dan PT Petrosea Tbk.

Menurut WEF, 10 lighthouse yang dipilih tersebut berdasarkan kepemimpinannya menerapkan teknologi industri 4.0 untuk mendorong dampak positif terhadap finansial dan operasionalnya. Selain itu, mereka sukses mengintegrasikan teknologi industri 4.0 untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi.

Akselerasi Sektor Manufaktur

Achmad Sigit Dwiwahjono. Foto: IST
Achmad Sigit Dwiwahjono. Foto: IST

Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, penerapan industri 4.0 diharapkan bisa mengakselerasi pertumbuhan sektor manufaktur nasional, terutama di lima sektor prioritas. Kelima sektor tersebut dipilih karena memberikan kontribusi signfikan hingga 65% terhadap share ke PDB, nilai ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.

"Sektor mamin dalam lima tahun terakhir mencatatkan pertumbuhan tertinggi, sekitar 8-9% per tahun. Jadi kalau sektor ini kita berikan upaya lebih besar melalui penerapan industri 4.0, diharapkan bisa tumbuh double digit," ujar dia.

Sigit mengungkapkan, pemerintah telah menyusun langkah strategis untuk menggenjot kinerja lima sektor tersebut, yang tertuang di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Peta jalan ini diyakini dapat mewujudkan visi Indonesia menjadi negara 10 besar yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030.

“Kami juga optimistis, implementasi industri 4.0 akan mengoptimalkan potensi-potensi lainnya seperti penambahan pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2%, peningkatan kontribusi sektor terhadap PDB hingga 25% pada 2030, peningkatan net export hingga 10%. Serta mengisi kebutuhan tenaga kerja yang melek digital hingga 17 juta orang untuk mendorong peningkatan nilai tambah terhadap PDB nasional hingga US$ 150 miliar pada 2025," kata Sigit.

Salah satu industri TPT. Foto ilustrasi: Joanito de Saojoao
Salah satu industri TPT. Foto ilustrasi: Joanito de Saojoao

Sigit menegaskan, sektor industri manufaktur masih menjadi pendukung utama ekonomi Indonesia. Hingga Juli 2019, total ekspor produk manufaktur mencapai US$ 71,67 miliar atau 74,82% dari total ekspor nasional sebesar US$ 95,79 miliar, sedangkan investasi di sektor ini sebesar Rp 104 triliun. Pada kuartal II-2019, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap total PDB nasional sebesar 19,52%.

"Secara global, kinerja sektor manufaktur kita menunjukkan arah perkembangan yang cukup baik. Berdasarkan publikasi UNIDO, peringkat daya saing sektor industri Indonesia menunjukkan tren yang cukup baik sehingga mampu berada di urutan ke-38 pada tahun 2018 dari 150 negara," kata Sigit.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA