Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia saat menjadi pembicara dalam acara CEO Talk yang diselenggarakan secara dalam jaringan (daring) oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) di Jakarta, Selasa (7/7/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas BKPM

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia saat menjadi pembicara dalam acara CEO Talk yang diselenggarakan secara dalam jaringan (daring) oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) di Jakarta, Selasa (7/7/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas BKPM

Bahlil Tegaskan Negosiasi Baterai Kendaraan Listrik Tanpa Libatkan Konsultan Asing

Jumat, 17 September 2021 | 18:44 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menceritakan proses negosiasi kerja sama proyek pembangunan baterai kendaraan listrik tanpa melibatkan konsultan asing.  Semua proses dilakukan dengan melibatkan  Kementerian teknis dan Kementerian Investasi.

Adapun Presiden Joko Widodo pada Rabu (16/9) baru saja meresmikan peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan pabrik baterai mobil listrik LG. Pabrik hasil investasi konsorsium LG Energy Solution dan Hyundai ini dibangun di Karawang, Jawa Barat.

 “Deal bisnis senilai US$ 9,8 miliar atau setara Rp 142 triliun itu tanpa melibatkan konsultan asing. Itu dilakukan seutuhnya oleh putra putri bangsa terbaik terkait kolaborasi antara Kementerian teknis dan Kementerian Investasi”tuturnya dalam Konferensi Pers secara virtual, Jumat (17/9).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Proyek pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik ini terealisasi dengan nilai tahap awal US$ 1,1 miliar atau setara Rp 15,6 triliun dengan tahap awal kapasitas produksinya mencapai 10 giga watt per hour.

Proyek ini dijalankan konsorsium LG dan Hyundai yang terdiri dari Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution. Konsorsium Korea Selatan ini bermitra dengan Indonesia Battery Corporation yang beranggotakan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara, dan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd.

Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah telah mencanangkan pengembangan industri kendaraan listrik dan baterai listrik sejak tahun 2019, selanjutnya pada bulan November 2019, pemerintah Indonesia melakukan kesepakatan dengan Hyundai terkait pengembangan rencana tersebut.  Meski pandemi melanda, kata Bahlil pembangunan pabrik kendaraan konvensional dan kendaraan listrik Hyundai terus berjalan sepanjang tahun 2020.

“Sekarang pembangunannya sudah mencapai 100 persen untuk konvensional dan yang listrik akan diproduksi tahun 2022 bulan Mei”tuturnya.

 Bahlil mengaku pemerintah sangat mendorong proyek tersebut karena banyak negara tetangga yang tidak menginginkan Indonesia menjadi produsen baterai di dunia.

"Mereka ingin bahan bakunya saja ambil dari kita kemudian mereka mau bangun di negara mereka. Supaya made in negara A, negara B gitu. Kita baca gelagat ini. Maka kita kerja keras dengan investor," tuturnya.

Bahkan, Bahlil sebut nantinya ekosistem pabrik yang akan dibangun kedepannya bisa menjadi pertama di dunia mulai dari tambang hingga ke pabrik dan baterai cell-nya dan ini akan terbangun semuanya di 2022.

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN