Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Direktur Utama Pan Brothers, Anne Patricia Sutanto

Wakil Direktur Utama Pan Brothers, Anne Patricia Sutanto

API Minta BI Beri Insentif untuk Perusahaan yang Jalankan LCS

Jumat, 17 September 2021 | 22:27 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyarankan Bank Indonesia (BI) untuk memberikan insentif bagi pengusaha yang menjalankan kebijakan penggunaan mata uang lokal (Local Currency Settlement). Untuk itu perlu ada sinergi Government to Government (G to G) antara Indonesia dengan negara-negara tujuan ekspor dalam pelaksanaan LCS.  

Sejak awal 2018 BI telah mengimplementasikan kebijakan LCS sebagai salah satu upaya untuk mempercepat pengembangan pasar, mengurangi volatilitas terhadap nilai tukar rupiah dan untuk meningkatkan efisiensi pasar. Diawali oleh kesepakatan LCS antara Indonesia dengan Malaysia dan Thailand, kemudian diikuti oleh Filipina,  Jepang, dan Tiongkok. Saat ini kerjasama LCS sudah diimplementasikan Indonesia dengan Malaysia, Thailand, Jepang, dan Tiongkok.

“Pendekatan G to G kami harap BI bisa melihat dari sisi itu apakah ada insentif yang selain kita di pengusaha lokal juga pengusaha negara asal ada manfaat. Jadi dari government mereka yang memberikan insentif di negara asal LCS,” ucap Wakil Ketua API Bidang Perdagangan Luar Negeri Anne Patricia Sutanto dalam acara Sosialisasi Local Currency Settlement pada Jumat (17/9).

Selama ini ada keengganan pengusaha melakukan LCS karena pengusaha masih ingin menjaga  natural hedging sehingga tidak  mengalami double currency. Anne mengatakan  ada perusahaan yang bahan baku dan produksinya lokal tetap melakukan kegiatan ekspor dengan transaksi  US Dollar. Selama ini implementasi LCS dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap US Dollar.

“Apakah ada insentif untuk pengusaha melakukan ini yang ada hubungannya supply chain financing yang kalau pakai LCS itu bisa lebih longgar atau apaun karena end to endnya benefit untuk negara asal maupun negara kita sendiri,” ucap  Anne.

Anne mencontohkan untuk pengusaha di bidang tekstil masih melakukan transaksi dengan US Dollar agar supaya tidak terjadi resiko terhadap  fluktuasi US Dollar dengan rupiah atau dengan currency lain.

“BI maupun  pelaku perbankan di Indonesia memahami bahwa LCS ini menjadi salah satu yang baik untuk kategori usaha tertentu. Tetapi untuk kategori usaha lain belum bisa menjadi solusi konkrit,” ucap Anne.

Sementara itu,  Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengklaim transaksi perdagangan antara Indonesia dengan Jepang naik hampir 10 kali lipat sejak dua negara menjalankan kebijakan LCS.  "Khusus dengan Jepang, ada pergerakan yang tinggi, meningkat hampir lebih dari 10 kali kenaikan transaksinya," ucap Hariyadi.

Dia berharap  kerja sama perdagangan antara Indonesia dan beberapa negara mitra dagang bisa dijalankan tanpa memakai  US Dollar lagi, khususnya dengan Tiongkok. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap US Dollar.

"Mudah-mudahan dengan Tiongkok juga demikian sehingga risiko (dari pergerakan nilai tukar mata uang), kita bisa lebih bervariasi. Kita harus punya mata uang alternatif untuk mendukung ekspor impor kita," kata Hariyadi. (ark)

 

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN