Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang pekerja memberi makan ayam dengan belatung di kantor Biomagg di Depok pada 23 November 2021. (FOTO: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Seorang pekerja memberi makan ayam dengan belatung di kantor Biomagg di Depok pada 23 November 2021. (FOTO: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Indonesia Harapkan Capai Kesepakatan Baru Ekspor Ayam dengan Singapura

Selasa, 21 Juni 2022 | 15:53 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Pihak berwenang Indonesia berharap untuk mencapai kesepakatan baru dengan Singapura untuk mulai mengekspor ayam dalam beberapa minggu, kata para pejabat. Negara kota itu kini berjuang untuk menemukan sumber pasokan alternatif setelah pemerintah Malaysia membatasi penjualan.

Pejabat senior di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI Susiwijono Moegiarso mengatakan telah melakukan diskusi teknis dengan pihak berwenang Singapura dan berharap ekspor dapat dimulai bulan ini.

Sementara itu Badan Pangan Singapura (SFA) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya bekerja sama dengan pihak berwenang Indonesia atas akreditasi negara itu sebagai sumber potensial impor ayam.

Baca juga: CEO Deutsche Bank: Inflasi adalah Racun Terbesar Bagi Ekonomi Global

Sebagai tanda lebih lanjut dari kekurangan pangan global dan masalah rantai pasokan, otoritas Malaysia telah menghentikan ekspor ayam bulan ini sampai produksi lokal dan lonjakan biaya menjadi stabil.

Langkah ini berdampak besar di Singapura dengan restoran dan warung kaki lima menaikkan harga hidangan nasional de facto, nasi ayam.

Adapun Indonesia saat ini mengalami surplus produksi ayam dan menghasilkan 55-60 juta unggas per minggu dengan surplus sekitar 15%-20% setelah konsumsi domestik, kata Ketua Asosiasi Peternak Unggas Achmad Dawami kepada Reuters.

Ekspor ke Singapura, yang diperkirakan memiliki permintaan 3,6-4 juta unggas per bulan, dapat membantu menutup kesenjangan tersebut, kata Dawami.

Singapura ingin mengimpor ayam hidup untuk menjaga rumah potong hewan domestik mereka tetap beroperasi, kata Dawami. Ia mencatat bahwa produsen Indonesia lebih suka mengekspor ayam potong karena mereka tidak memiliki pengalaman dalam pengiriman unggas hidup.

“Mudah-mudahan dalam dua minggu ke depan sudah ada realisasi. Kalau harus menunggu berbulan-bulan kita akan kehilangan momentum,” kata Dawami, Selasa (21/6).

Baca juga: Presiden: Bangun Ketahanan Pangan Sesuai Karakteristik Daerah

Pemerintah Malaysia bergerak untuk mencabut sebagian larangan ekspornya pada ayam premium tertentu minggu lalu. Namun larangan ekspor ayam broiler komersial, yang merupakan mayoritas impor ayam Singapura dari Malaysia, dan jenis produk ayam lainnya akan tetap ada.

Harga ayam, salah satu sumber protein termurah di Malaysia, telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir karena kekurangan pakan global yang diperburuk oleh perang Rusia-Ukraina mengganggu produksi.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : REUTERS

BAGIKAN