Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Kadin Optimistis Industri Manufaktur Mampu Hadapi Ancaman Resesi Global

Kamis, 4 Agustus 2022 | 08:00 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id -Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia optimis industri manufaktur mampu menghadapi ancaman resesi global. Hal ini terlihat dari hasil Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juli mencapai level 51,3 atau naik dari level 50,2 dibandingkan pada Juni 2022. Untuk menjaga momentum tersebut, pemerintah harus tetap menjaga pasar dalam negeri dari serbuan impor.

Wakil Ketua Umum Bidang Industri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Bobby Gafur Umar, menerangkan, industri manufaktur bukannya kebal terhadap ancaman resesi global, tetapi dampaknya tidak terlalu signifikan. Dia menilai, saat ini industri yang tergantung dengan bahan impor tidak begitu banyak. Memang kontruksi masih menggunakan  besi baja impor atau bahan baku impor. Namun di sisi lain ada beberapa industri yang sedang bagus kinerjanya, seperti kelapa sawit dan batu bara.

Advertisement

“Jadi ada keseimbangan. Menurut saya selama pemerintah masih menjaga ekonomi inklusif di dalam negeri, ya dengan membatasi impor, market tetap terjaga. Ini enggak boleh lepas,” ucap Bobby kepada Investor Daily, Jakarta, Rabu (3/8).

Dia menerangkan, hasil bagus PMI Manufaktur Juli yang kembali naik setelah turun selama 2 berturut-turut, dipengaruhi oleh faktor permintaan dari dalam negeri. Hal ini merupakan hasil dari kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mewajibkan APBN dan APBN sebesar 40% untuk belanja produk dalam negeri. Faktor lainnya adalah banyaknya backlog dari proyek industri yang tertunda, yang mulai kembali dilakukan.

Terakhir, adalah mulai mencairnya duit Dana Pihak Ketiga (DPK) yang disimpan di Bank, yang sampai akhir 2021 terjadi peningkatan selama masa pandemi. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Desember 2021 tercatat sebesar Rp 7.249,9 triliun atau tumbuh 12,1% (yoy). Angka pertumbuhan ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 10,3% (yoy).

“Pemulihan kan sudah dimulai pada awal tahun. Kalau kita lihat ekonomi Semester I kemarin rasanya bisa di 5% atau lebih. Cuma yang kita lihat di satu sisi, kemampuan daya beli masyarakat ternyata ada. Kita bisa lihat dari dana pihak ketiga di Bank, yang selama 2 tahun naik sampai akhir 2021. Jadi dengan indeks keyakinan konsumen naik, maka orang mulai belanja,” ucap Bobby.

Baca juga: PMI Manufaktur Kembali Melesat

Dia menerangkan, secara kumulatif momentum ini terjaga dengan bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga acuan sebesar 3,5%, membuat uang masih beredar di masyarakat. Walau begitu, Bobby mengakui bahwa hantu inflasi memang menakutkan, di mana harga BBM dalam negeri terus naik kecuali subsidi yang juga mulai dibatasi. Lalu  kenaikan ongkos logistik yang juga membuat semua juga ikut naik.

“Tapi kita enggak bisa ditanya sampai kapan ya BI akan menahan suku bunga acuannya, sebab ini kan dinamika di luar negeri luar biasa.  Seperti Sri Lanka bangkrut, Argentina diambang bangkrut. Sekali lagi, selama pemerintah masih menjaga ekonomi inklusif di dalam negeri, ya dengan membatasi impor, market tetap terjaga. Ini enggak boleh lepas,” kata Bobby.

Mengenai dampak perlambatan manufaktur Tiongkok, dia mengatakan, industri manufaktur otomatis akan terdampak namun tidak akan terlalu berdampak langsung dalam jangka pendek. Bobby melanjutkan, jika keadaan ekonomi Tiongkok terus memburuk dalam jangka panjang-menengah maka akan menjadi ancaman bagi industri manufaktur. Itu karena harga barang-barang dari negeri tirai bambu tersebut akan menjadi sangat murah.
“Tetapi pemerintah kita menjaga benar pasar dalam negeri melalui TKDN. Kita sampai kuartal III masih ok. Nah Kuartal IV ini kita belum tahu sejauh mana kondisi global,” ucap Bobby.

Baca juga: IKM Mamin Masih Hadapi Tantangan

Sementara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis industri nasional dapat terus tumbuh dan menguat setelah menghadapi badai pandemi COVID-19 yang teruji mampu dilampaui.

"Ke depan ini kita optimistis bahwa industri nasional ini akan terus tumbuh dan kita mampu memperkuat dalam artian dengan kekuatan nasional ini untuk mendukung industri nasionalnya," kata Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazir seperti dikutip dari Antara.

Taufiek memaparkan ekonomi Indonesia mulai tumbuh dan stabil, yang artinya industri nasional juga sudah menguat. "Artinya kekuatan kita untuk menghadapi berbagai gejolak ini sudah teruji dan kita bisa bertahan," kata dia.

Menurut Taufiek, industri adalah mesin ekonomi nasional karena berkontribusi paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut, menurutnya, terjadi sejak 1986 hingga 2021, meskipun angka kontribusinya mengalami penurunan. Namun Taufik menilai bahwa hal itu terjadi karena adanya hilirisasi.

Hilirisasi membuat kontribusi sektor manufaktur merata ke sektor lainnya yakni sektor pertambangan, perkebunan, perikanan, hingga pertanian. "Kontribusi 19 persen industri saat ini kelihatan bahwa industri matang dan terdistribusi ke sektor-sektor lain. Jadi bisa dikatakan bahwa ini terjadi hilirisasi yang cukup kuat," ujar dia.

Baca juga: Tinjau Kembali Tiket Masuk Komodo

Taufiek menyatakan pertumbuhan industri sepanjang 2020-2021 menjadi cerminan bahwa pemulihan ekonomi terjadi cukup kuat di Indonesia setelah adanya pandemi. Selain itu Indonesia juga dinilai menjadi negara tujuan investasi para investor, yang terlihat dari indeks kompetitif global, dimana Indonesia menempati urutan ke enam.

"Jadi, dengan penduduk 270 juta jiwa, kalau digabung dengan ASEAN 600 juta, para investor juga melihat bahwa Indonesia sangat prospektif dari sisi pasar, juga dari sisi investasi," ujar Taufiek.

Indikator lain yang memicu optimisme tersebut yakni Indonesia terampil memasuki era digital yang didukung Artificial Intelligent (AI) dan perubahan perilaku terhadap lingkungan.

Terakhir yakni Purchasing Manufacturing Index (PMI) Manufaktur RI yang selama sepuluh bulan berada pada level ekspansif, yang mengindikasikan bahwa manufaktur cukup kuat dan berdaya tahan. "Tentunya ini dibantu sektor lain, ya kita bisa katakan bahwa kebijakan yang dilakukan pemerintah cukup efektif untuk mengembalikan pemulihan ekonomi itu," pungkas Taufiek.

Editor : Leonard (severianocruel@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN