Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani.

Ekonomi Tumbuh 5,44%, Pengusaha Merespons

Jumat, 5 Agustus 2022 | 21:47 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Kalangan pengusaha menilai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,44% cukup memuaskan dan masih sesuai ekspektasi. Sebab angka tersebut menunjukkan terjadinya penguatan pertumbuhan selama kuartal II-2022, meskipun sepanjang kuartal II perekonomian domestik dirundung banyak tekanan eksternal dan terdapat kekhawatiran tentang inflasi.

“Namun, untuk ke depannya, kami rasa (pemerintah) tetap perlu bekerja keras, khususnya karena di kuartal III kita tidak punya driver penyokong pertumbuhan konsumsi seperti Lebaran dan euforia normalisasi kegiatan ekonomi karena transisi endemi secara total di kuartal II,” kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani kepada Investor Daily, Jumat (5/8/2022).

Advertisement

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 mencapai 5,44 % dibandingkan posisi kuartal II-2021 (year on year/yoy). Jika dibandingkan dengan kuartal I-2022 (quartal to quartal/qoq), pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 tumbuh 3,72%.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi 2022 Diyakini Capai 5,2%

Menurut Shinta, pada kuartal III-2022 terdapat proyeksi peningkatan tekanan ekonomi global terhadap ekonomi nasional dalam bentuk laju kenaikan inflasi yang masih belum melandai dan potensi pelemahan nilai tukar rupiah, seiring potensi resesi di negara rekan dagang utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Tiongkok. “Krisis supply pangan dan energi juga membebani daya beli dan stabilitas makro ekonomi nasional yang kelihatannya masih akan terus berlangsung hingga akhir tahun,” tutur Shinta.

Ke depannya, pemerintah diharapkan tetap fokus memberikan stimulasi ekonomi di pasar domestik, baik dari sisi supply maupun demand. Dari sisi supply, harus ada stabilisasi terhadap pelemahan nilai tukar, harus ada dukungan yang lebih baik dan maksimal dari pemerintah untuk meningkatkan kinerja produksi pangan dan energi dalam negeri sehingga bisa diversifikasi dan mengurangi beban impor.

“Peningkatan kinerja ekspor akan menciptakan ruang fiskal yang lebih baik terhadap tekanan global,” tandas Shinta.

Baca juga: Ekonomi Solid, BI Diminta Tak Buru-buru Naikkan Suku Bunga

Realisasi investasi juga harus terus ditingkatkan agar memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap maksimal, meski terdapat tekanan ekonomi global dan terjadi inflasi di atas rata-rata. Dengan investasi, bukan hanya ruang fiskal yang terjaga, tetapi juga mendongkrak daya beli masyarakat melalui penciptaan lapangan pekerjaan tanpa perlu subsidi dalam skala besar.

Dari sisi demand, pemerintah perlu melakukan intervensi untuk mengendalikan inflasi dan harga jual pasar. Tidak berarti bahwa pemerintah harus mematok semua harga jual pasar sebab langkah ini akan kontra produktif terhadap pertumbuhan pasar yang sehat, tetapi pemerintah perlu melakukan intervensi dari sisi kecukupan supply dan subsidi harga jual untuk masyarakat kelas menengah bawah.

“Memastikan kelancaran distribusi untuk mencegah kelangkaan atau penimbunan di pasar oleh oknum dan menciptakan sentimen pasar yang positif terhadap konsumsi sambil mencegah potensi panic buying,” ujar Shinta.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN