Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki didampingi Wali Kota Bogor Bima Arya di acara Festival Olahan Pangan Lokal Berbasis Kacang Koro, di Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (1/4/2022). (B1/vento).

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki didampingi Wali Kota Bogor Bima Arya di acara Festival Olahan Pangan Lokal Berbasis Kacang Koro, di Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (1/4/2022). (B1/vento).

Alasan Menteri Teten Ajak Perajin Tempe Gunakan Kacang Koro Jadi Bahan Baku

Sabtu, 2 April 2022 | 07:16 WIB
Vento Saudale (redaksi@investor.id)

BOGOR, investor.id - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengajak para pengrajin di Bogor memanfaatkan kacang koro sebagai pengganti kedelai dalam bahan baku tempe.  Teten menyebut, gejolak kebutuhan dan harga kacang kedelai bakal terus berlanjut,  termasuk bagi para perajin tempe dan tahu di Indonesia. 

Kondisi ini perlu  solusi  karena 95% kebutuhan kedelai nasional dipasok dari impor. Dari jumlah itu, 60% di antaranya diserap untuk produksi tempe dan tahu dalam negeri. Diperkirakan, hingga Juli 2022,  harga komoditas kedelai akan terus naik. Tentu saja, hal ini berimplikasi pada ketersediaan tempe dan tahu di pasar. 

"Kita akan kembangkan Kacang Koro sebagai substitusi kedelai impor. Gerakan Koronisasi akan terus kita gaungkan," tegas MenkopUKM Teten pada pembukaan acara Festival Olahan Pangan Lokal Berbasis Kacang Koro, di Kota Bogor, Jumat (1/4/2022).

Menteri Teten juga mengajak para perajin tempe dan tahu untuk kreatif dengan tidak selalu mengandalkan bahan baku produksinya pada kedelai impor. Terlebih lagi, pasokan kedelai dari Amerika Serikat alami kendala karena cuaca di sana. Sehingga, harga kedelai terus merangkak naik.

"Menanam kedelai di Indonesia juga terbilang kurang produktif. Maka, Kacang Koro bisa menjadi alternatif bahan baku bagi para perajin tempe dan tahu," ungkap Menteri Teten.

Menurut Menteri Teten, Kacang Koro berpeluang untuk dikembangkan menjadi salah satu komoditas strategis penunjang ketahanan pangan Indonesia karena memiliki aneka kelebihan. "Yaitu, mudah dibudidayakan secara monokultur maupun tumpang sari dan adaptif pada lahan kering. Sumedang menjadi pilot project pengembangan budidaya Kacang Koro yang dikembangkan bersama Koperasi Paramasera," jelas MenkopUKM.

Lebih dari itu, tingginya harga dan ketergantungan pada impor, patut menjadi momentum komitmen untuk mendorong dan mengembangkan bahan baku lokal nonkedelai. "Ternyata, Kacang Koro tidak hanya untuk pembuatan tempe dan tahu. Ada ratusan lebih menu pangan yang bisa dihasilkan dari bahan baku Kacang Koro," paparnya.

Oleh karena itu, Menteri Teten berharap partisipasi aktif dari pimpinan daerah dan stakeholder untuk mendukung pengembangan budidaya Kacang Koro, sangat dibutuhkan. Misalnya, melalui penyediaan lahan yang cukup. 

Dalam hitungan MenkopUKM, jika konsumsi tempe dan tahu perorang adalah 7 kg pertahun, maka 273,5 juta penduduk Indonesia membutuhkan 1.914 juta ton pertahunnya. Dengan potensi 4 ton produksi Kacang Koro per hektar, maka setiap kabupaten/kota perlu menyediakan lahan sekitar 1.000 hektar.

Disini, koperasi dapat berperan sebagai konsolidator sekaligus agregator para perajin Kacang Koro. "Hilirisasi budidaya Kacang Koro menjadi tugas koperasi untuk menghubungkan anggota dengan para perajin tempe dan tahu yang tergabung dalam Koperasi Produsen Tempe dan Tahu (Kopti), Puskopti, dan Gakoptindo sebagai Induk Koperasi," ulas Menteri Teten.

Sementara, Wali Kota Bogor Bima Arya menegaskan, pihaknya akan terus mempopulerkan pangan lokal berbahan baku Kacang Koro sebagai subtitusi kedelai impor. "Karena keterbatasan lahan di Bogor untuk menanam Kacang Koro, maka kita akan bermain di hilirisasi. Di Bogor akan kita perkuat industri pangan olahan, packaging, hingga promosi," kata Bima.

Oleh karena itu, Bima akan terus mendorong pengembangan koperasi di Bogor, salah satunya Koperasi BUMR Paramasera, untuk mengembangkan sektor hulunya. Yaitu, membangun perkebunan Kacang Koro, meski lahannya berada di luar Bogor. "Bogor akan fokus di hilirisasi," tandas Bima.

Editor : Frans (ftagawai@gmail.com)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN