Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
OVO Bersinergi dengan JNE (Foto: OVO/IST)

OVO Bersinergi dengan JNE (Foto: OVO/IST)

Bisnis JNE Terkerek Geliat Ekonomi Digital

Jumat, 11 Juni 2021 | 19:33 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) mencetak kenaikan pendapatan rata-rata 25% setiap tahun dalam 10 tahun terakhir. Bisnis JNE terkerek geliat ekonomi digital di Tanah Air, sehingga mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19. Meski demikian, ke depannya JNE tidak mau lagi tergantung terhadap ekosistem marketplace yang selama ini menjadi sumber pendapatan.

Bahkan, tahun lalu, pendapatan JNE melambung tinggi di atas rata-rata, lantaran sebagian orang bekerja dari rumah (work from home/WFH). Keadaan itu memicu transaksi di perantara penjual dan pembeli daring (marketplace) melejit, sehingga menguntungkan JNE yang menggarap bisnis pengiriman barang.

VP Marketing JNE Eri Palgunadi mengatakan, pertumbuhan bisnis logistik lebih cepat ketimbang pembangunan infrastruktur. Akibatnya, biaya logistik di Indonesia masih 20-25% lebih mahal ketimbang negara ASEAN lain.

Dia mengungkapkan, permasalahan di bisnis logistik bukan soal pendapatan, melainkan kapasitas dan pola pikir. Ini terlihat pada banyaknya pemain baru bisnis logistik yang bermunculan dalam lima tahun terakhir. Bahkan, saat orang kesulitan berbisnis di masa pandemi, sektor logistik bisa bertahan.

Eri mengatakan, saat ini, 70% pengiriman domestik JNE beredar di Jawa. Dari jumlah itu, 40-50% di Jabodetabek sampai Bandung. Untuk memenuhi permintaan dari daerah tersebut, JNE membangun megahub seluas 40 hektare (ha) dengan sistem robotik di Bandara Mas pintu M1 samping Bandara Soekarno-Hatta.

“Ini untuk mempercepat arus barang dari luar Jabodetabek ke Jakarta dan sebaliknya. Sekarang, kami memiliki 3.000 unit kendaraan berbagai jenis, mulai kontainer, truk, sampai mobil blind van, sedangkan jaringan ada 7.000 lebih titik. Adapun jumlah kabupaten kecamatan di Indonesia sekitar 6.000-an,” ujar dia dalam media visit virtual ke Berita Satu Media Holding (BSMH), Kamis (10/6/2021).

Eri Palgunadi menambahkan, JNE akan terus berinovasi agar tidak terus bergantung pada marketplace. Sebab, saat ini, perusahaan marketplace mulai banyak yang mendirikan perusahaan logistik sendiri untuk memangkas biaya.

Saat ini, segmen marketplace berkontribusi 40% terhadap pendapatan JNE. Hampir semua marketplace besar sudah bekerja sama dengan JNE. Namun, marketplace cenderung membangun ekosistem dengan mendirikan perusahaan logistik sendiri. Hal ini dilakukan pemain marketplace kakap. Keadaan ini membuat JNE tidak bisa menjadi faktor determinant bagi marketplace.

“Teman-teman marketplace mendapat keuntungan, yang salah satunya dari biaya logistik, selain harga barang. Mereka bisa ambil margin dari situ. Makanya tidak heran teman-teman marketplace sekarang berbondong-bondong bikin perusahaan logistik,” ucap dia.

Eri menerangkan, JNE tidak akan mampu bertahan bila hanya tergantung pada marketplace. Untuk itu, JNE sedang serius membangun ekosistem socio-commerce atau orang-orang yang berjualan melalui media sosial.

Mereka, kata dia, biasanya merupakan pemilik merek. Adapun orang yang berjualan melalui marketplace biasanya adalah seller dan reseller. Para pemilik merek biasanya malas masuk marketplace, karena banyak potongan dan barang bisa duplikasi. Saat ini, hanya 7-8% barang-barang pemilik merek dijual di marketplace.

“Kami tidak boleh tergantung 100% pada marketplace,” ujar Eri.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN