Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Agus Suparmanto. Sumber: BSTV

Agus Suparmanto. Sumber: BSTV

Di Tengah Pandemi, Ekspor Jamu Indonesia ke Sejumlah Negara Meningkat

Selasa, 15 September 2020 | 16:38 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Di tengah pandemi Covid-19, Kementerian Perdagangan mencatat ekspor jamu Indonesia ke beberapa negara tercatat meningkat.

Demikian dikemukakan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dalam webinar "Jamu Modern untuk Pasar Indonesia, Afrika, Timur Tengah, dan Eropa", Selasa (15/9).

Menurut dia, sepanjang Januari-Juli 2020, ekspor biofarmaka ke Timur Tengah mencapai nilai US$ 38,82 ribu atau naik 511,41% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 6,35 ribu.

Di samping itu, ekspor jamu juga meningkat ke Amerika Serikat sebesar 8,36% dan ke Eropa meningkat 5,26%.

Namun secara keseluruhan ekspor jamu Indonesia pada Januari-Juli 2020 mencapai US$ 5,69 juta atau turun 12,60% dibanding periode yang sama tahun 2019 sebesar US$ 6,51 juta.

Pada 2019, Indonesia baru menempati posisi ke-18 eksportir jamu terbesar di dunia.

Menurut Agus Suparmanto, pemasok produk biofarmaka ke dunia masih didominasi oleh India dengan pangsa pasar 34,88%, Tiongkok sebesar 28,10%, dan Belanda 7,16%.

“Nilai ekspor produk biofarmaka Indonesia memang turun. Namun, dalam kondisi pandemi ini, Indonesia masih berpeluang meningkatkan ekspor jamu dengan mengekspansi pasar ekspor. Hal ini dapat dilakukan dengan terus melakukan promosi,” kata Agus.

Untuk meningkatkan daya saing, Mendag mengatakan, industri jamu harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Penggunaan teknologi dalam proses produksi merupakan hal vital di era industri 4.0.

“Pengusaha jamu juga harus tanggap terhadap kebutuhan dan keinginan konsumen jika tidak mau tertinggal atau ditinggal oleh konsumen,” imbuh Agus.

Menurut dia, untuk mengembangkan penjualan produk jamu, pengusaha dapat meningkatkan akses ke pasar ekspor dan menjaga pasar dalam negeri enggan menerapkan distribusi omnichannel. Menurut Agus, pengusaha jamu bisa menggunakan saluran distribusi online melalui marketplace, media sosial, situs web, dengan tetap menjaga saluran distribusi offline.

“Kami berpesan kepada industri jamu untuk turut bantu daya saing UMKM jamu. Upaya ini dapat dilakukan dengan kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti kementerian, lembaga, dan asosiasi terkait. Keberhasilan UMKM jamu naik kelas akan berdampak positif terhadap perekonomian nasional, dan industri jamu itu sendiri,” kata Agus lagi.

Menurut Agus, untuk memulihkan perekonomian yang tengah terkoreksi akibat pandemi Covid-19, pemerintah mesti menggandeng industri jamu. Pasalnya, pada kuartal II 2020, industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh 8,65% dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

“Kami melihat industri jamu dapat menghadapi tantangan dan menggunakan peluang yang ada. Industri jamu berperan penting untuk pertumbuhan ekonomi nasional dengan menyediakan lapangan kerja untuk 3 juta tenaga kerja, dan tahun lalu tumbuh 6% atau di atas pertumbuhan ekonomi nasional,” ucap Agus.

Kebutuhan Tiongkok

Djauhari Oratmangun. Sumber: BSTV
Djauhari Oratmangun. Sumber: BSTV

Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, mengatakan selama pandemi Covid-19, kebutuhan Tiongkok terhadap obat tradisional atau obat berbahan baku herbal mengalami peningkatan sekitar 32,82%.

Sepanjang Januari-Juli 2020, India menjadi negara eksportir jamu terbesar ke Tiongkok dengan nilai ekspor mencapai US$ 11,15 juta atau 22,02% dari total ekspor jamu ke Tiongkok.

Sementara itu, pada saat yang sama, Indonesia berada di posisi ke-11 dengan nilai ekspor senilai US$ 1,12 juta atau 2,21% dari total ekspor.

“Aneh memang, kita punya semua yang ada di Indonesia, tapi kita masih jauh dari negara-negara lain,” kata Djauhari dalam kesempatan yang sama.

Menurut dia, pihak kedutaan besar terus menginformasikan terkait kiat memasarkan jamu ke Tiongkok. Menurut dia, untuk mengekspor produk ke Tiongkok, pelaku usaha harus memiliki semangat kemitraan jangka panjng, memenuhi regulasi baik di dalam negeri maupun di Tiongkok, terbuka terhadap peluang investasi, dan berfokus mempertahankan mutu produk.

“Di sini juga sudah mulai aktif pameran secara virtual maupun offline. November mendatang akan ada pameran di Shanghai. Pelaku usaha juga harus membuka diri baik dengan Kamar Dagang dan Industri di Indonesia, maupun Kadin Indonesia di Tiongkok, dan juga bisa bekerja sama dengan FTA center, ITPC, maupun Dubes,” imbuh dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN