Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu industri TPT. Foto ilustrasi: Joanito de Saojoao

Salah satu industri TPT. Foto ilustrasi: Joanito de Saojoao

Diserbu Impor, Surplus Perdagangan TPT Melorot 37%

Leonard AL Cahyoputra, Kamis, 11 Juli 2019 | 07:00 WIB

JAKARTA, Investor.id - Surplus pedagangan tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional diprediksi anjlok 37% menjadi US$ 2 miliar tahun ini, dibandingkan tahun lalu US$ 3,2 miliar. Dalam 10 tahun terakhir, surplus perdagangan TPT melorot 52% dari US$ 6,7 miliar menjadi US$ 3,2 miliar. 

Penurunan surplus perdagangan TPT dipicu derasnya impor TPT. Bahkan, jika Kementerian Perdagangan (Kemendag) tidak mencabut Permendag No.64 tahun 2017 tentang Ketentuan Impor Tekstil dan Produk Tekstil, sektor TPT bakal mencetak defisit perdagangan dalam tiga tahun ke depan. 

Seiring dengan itu, pemerintah diminta merevisi peraturan tersebut. Permendag itu dinilai sebagai biang keladi keterpurukan industri TPT nasional, khususnya di sektor pembuatan kain.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Serat dan Benang Filament Indonesia (Apsyfi) Redma Gita Wirawasta  mengatakan, saat ini, utilisasi produksi di sektor pertenunan, perajutan, dan pencelupan kain hanya 40%. Sub-sektor TPT antara tersebut dalam lima tahun terakhir memang tidak sehat, karena diserbu barang impor. 

Kehadiran Permendag No. 64/2017 yang memberikan izin impor tanpa pengendalian kepada importir pedagang, kata dia, membuat kondisi semakin kritis. Pertumbuhan impor TPT sepanjang 2018 naik tertinggi dalam lima tahun terakhir, yaitu 13,8%, sedangkan ekspor hanya naik 0,9%, sehingga menggerus surplus neraca perdagangan TPT sebesar 25,5%. 

Semester 1-2019, Redma memperkirakan, impor TPT naik 7% (yoy). Kuartal I lalu impor turun sekitar 4,2%, sedangkan kuartal II naik, didorong momentum Lebaran. Dengan demikian, total impor TPT mencapai US$ 4,4 miliar semester I tahun ini. 

“Jika pemerintah tidak segera mencabut Permendag 64 tahun 2017, impor 2019 bisa US$ 11 miliar lebih.  Kalau tidak dibenahi, bisa terjadi defisit dalam tiga tahun mendatang di industri TPT. Tekstil yang menjadi andalan penghasil devisa bisa berbalik menjadi pesakitan," ujar dia di Jakarta, Rabu (10/7). 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN