Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Alas kaki - sepatu. Foto ilustrasi: IST

Alas kaki - sepatu. Foto ilustrasi: IST

Ekspor Alas Kaki Ditargetkan Capai US$ 5,36 Miliar

Eva Fitriani, Senin, 2 Desember 2019 | 21:09 WIB

JAKARTA, investor.id – Ekspor alas kaki Indonesia ditargetkan mencapai US$ 5,36 miliar atau sekitar Rp 75,49 triliun pada tahun 2020, tumbuh 5% dibanding tahun sebelumnya US$ 5,11 miliar. Pertumbuhan ini didorong selesainya relokasi beberapa pabrik dari Banten ke Jawa Tengah (Jateng) dan adanya investasi baru di dalam negeri.

“Kondisi ekonomi global sedang tertekan, jadi memang cukup berat. Ekspor tahun ini bisa sama dengan tahun lalu saja sudah bagus. Tapi kita harapkan di tahun depan masih bisa tumbuh 5%,” kata Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Firman melihat, potensi kenaikan ekspor masih terbuka dari selesainya beberapa relokasi pabrik alas kaki dari Banten ke Jawa Tengah. Relokasi membuat harga produk akan lebih kompetitif, karena upah pekerja yang lebih rendah dibanding lokasi pabrik sebelumnya.

“Dan bisa saja jumlah produk yang diekspor akan semakin banyak, seiring rampungnya proses relokasi,” tambah dia.

Dalam catatan Aprisindo, ada sekitar 25 pabrik alas kaki yang melakukan relokasi dari Banten ke Jateng selama 2-3 tahun terakhir. Relokasi dilakukan karena tidak mampu bertahan dengan tingginya Upah Minimum Kabupaten (UMK) dan kewajiban membayar Upah Minimum Sektoral (UMSK).

“Banten dirasa sudah kurang kompetitif, salah satu yang memberatkan adalah UMK plus UMSK, di mana untuk alas kaki di Banten itu, selain kita diminta memenuhi UMK, kita ditambah lagi beban UMSK yang jumlahnya variatif Rp 50.000-100.000 per orang per bulan. Bayangkan saja kalau ada 50.000 pekerja,” kata Firman.

Firman mengungkapkan, industri sepatu di Banten harus membayar Rp 4,1 juta per orang per bulan untuk memenuhi kewajiban UMK dan UMSK. Sementara di Jawa Tengah, UMK saat ini masih di bawah Rp 2 juta per bulan.

“Jadi, saat ini sudah ada 25 pabrik yang mulai investasi di Jawa Tengah dan sebagian besar berasal dari Banten. Mereka menanamkan investasinya ke berbagai daerah seperti Majalengka, Cirebon, Brebes, hingga Temanggung dan Salatiga,” ungkap Firman.

Dia menambahkan, pabrik-pabrik tersebut memasuki masa transisi, di mana pabrik di Jawa Tengah mulai melakukan perekrutan 1.000-2.000 pekerja pada tahap awal, sementara pabrik di Banten mulai dikurangi jumlah karyawannya. Relokasi tersebut diyakini akan membuat industri alas kaki semakin lebih efisien, sehingga ongkos produksi bisa dipangkas.

Pada akhirnya, harga produk yang dihasilkan bisa turun dan lebih kompetitif. Diharapkan, relokasi sejumlah pabrik sudah rampung pada tahun depan, sehingga kinerja ekspor bisa membaik dan mampu mencatatkan pertumbuhan.

Firman mengungkapkan, harapan kenaikan ekspor juga datang dari masuknya beberapa investasi baru ke sektor alas kaki Tanah Air. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sebanyak tujuh perusahaan asing berniat menanamkan investasinya ke sektor alas kaki nasional. Mereka berencana menambah kapasitas produksi alas kaki di Indonesia.

Direktur Industri Tekstil, Kulit & Alas Kaki Kemenperin Muhdori sebelumnya mengatakan, investor tersebut di antaranya berasal dari Korea Selatan, yakni KMK Global, Parkland, dan SMJ (Sumber Masanda Jaya). “Ada 7 yang mau masuk, tetapi sisanya masih belum bisa saya beritahu,” ujar dia.

Muhdori mengungkapkan, ketiga investor Korea bakal meningkatkan kapasitas produksinya di Sukabumi, Jawa Barat; Jepara, Jawa Tengah, dan 3 pabrik di Bumiayu, Jawa Tengah untuk sepatu olahraga. Mereka biasa memproduksi merek terkenal seperti Nike, Adidas, dan Puma. Dengan adanya investasi baru tersebut, dia optimistis, kinerja industri alas kaki pada 2020 akan lebih baik.

“Itu target mengembalikan pertumbuhan, baik dari sisi produksi, maupun ekspor pada 2020,” ujar dia.

Muhdori menegaskan, Indonesia masih menjadi eksportir keenam terbesar dunia untuk alas kaki setelah Tiongkok dan Vietnam, dengan pangsa pasar 2,8% dan pasar terbesar masih Amerika dan Eropa. Indonesia juga menduduki peringat keempat produsen alas kaki dengan 1,271 juta pasang sepatu atau 5,3% dari produksi dunia. Selain itu harga rata-rata ekspor alas kaki Indonesia masih menempati urutan ke 5 dunia dengan harga US$ 16,70, yang menunjukkan Indonesia memproduksi alas kaki dengan kualitas baik.

Muhdori menegaskan, Kemenperin juga membantu pengembangan industri alas kaki di sektor hulu, dengan memberikan insentif investasi khususnya industri pendukung alas kaki seperti industri penyamakan kulit dari hewan dan sintesis. Lalu kemudahan perolehan bahan baku impor kulit dan pembatasan ekspor kulit mentah.

“Kulit hewan kita bagus, terutama sapi jawa. Tetapi itu lebih banyak untuk dibuat kerupuk kulit dibandingkan dijual ke industri alas kaki. Makanya itu yang membuat industri kekurangan bahan baku dan impor,” ujar dia.

Ketua Pengembangan Sport Shoes dan Hubungan Luar Negeri Aprisindo Budiarto Tjandra sebelumnya mengatakan, perjanjian Indonesia- European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) diyakini bisa mendongkrak ekspor alas kaki Indonesia.

“Untuk mengejar Vietnam, ekspor harus naik 10% tahun ini, kemudian tahun ketiga keempat harus tumbuh 10% lebih, sehingga bisa naik dua kali lipat dalam lima tahun. Benchmark kita saat ini adalah per tumbuhan Vietnam,” kata dia.

Budi menilai, langkah Vietnam yang menjalin perdagangan bebas dengan Uni Eropa (UE) membuat sentiment pembeli ke Vietnam sangat bagus.

“Mereka tahu dalam jangka panjang akan memberikan keuntungan. Mereka sudah ancang-ancang untuk beli dari Vietnam, sehingga pertumbuhan ekspor negara itu sangat pesat,” ungkap dia.

Budi menambahkan, Vietnam mengusai pasar sepatu UE sebesar 12%, sedangkan Indonesia baru 4%. Oleh sebab itu, dia berharap perundingan IEU-CEPA bisa selesai secepatnya. Karena tanpa CEPA, tarif bea masuk alas kaki Indonesia di Eropa sebesar 11%. Imbasnya, produk Indonesia kalah bersaing dengan Vietnam.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA