Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekspor impor Indonesia merosot akibat pandemi Foto: SP/Joanito De Saojoao

Ekspor impor Indonesia merosot akibat pandemi Foto: SP/Joanito De Saojoao

Ekspor Jamu Turun di Tengah Pandemi

Selasa, 15 September 2020 | 19:11 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat, ekspor jamu Indonesia pada Januari-Juli 2020 turun 12,60% menjadi US$ 5,69 juta dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 6,51 juta. Saat ini, Indonesia baru menempati posisi ke-18 eksportir jamu terbesar di dunia.

“Nilai ekspor produk biofarmaka Indonesia memang turun. Namun, dalam kondisi pandemi ini, Indonesia masih berpeluang meningkatkan ekspor jamu dengan mengekspansi pasar ekspor. Hal ini dapat dilakukan dengan terus melakukan promosi,” kata Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto dalam webinar "Jamu Modern untuk Pasar Indonesia, Afrika, Timur Tengah, dan Eropa", Selasa (15/9).

Menurut Mendag, pemasok produk biofarmaka ke dunia masih didominasi oleh India dengan pangsa pasar 34,88%, Tiongkok sebesar 28,10%, dan Belanda 7,16%. “Untuk meningkatkan daya saing, industri jamu harus terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Penggunaan teknologi dalam proses produksi merupakan hal vital di era industri 4.0. Pengusaha jamu juga harus tanggap terhadap kebutuhan dan keinginan konsumen jika tidak mau tertinggal atau ditinggal oleh konsumen,” imbuh Agus.

Mendag mengungkapkan, untuk mengembangkan penjualan produk jamu, pengusaha dapat meningkatkan akses ke pasar ekspor dan menjaga pasar dalam negeri enggan menerapkan distribusi omnichannel. Pengusaha jamu bisa menggunakan saluran distribusi online melalui marketplace, media sosial, situs jaringan (website), dengan tetap menjaga saluran distribusi offline.

“Kami berpesan kepada industri jamu untuk turut membantu daya saing UMKM jamu. Upaya ini dapat dilakukan dengan kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti kementerian, lembaga, dan asosiasi terkait. Keberhasilan UMKM jamu naik kelas akan berdampak positif terhadap perekonomian nasional, dan industri jamu itu sendiri,” terang dia.

Pemerintah, lanjut Agus, akan menggandeng industri jamu untuk memulihkan perekonomian yang tengah terkoreksi akibat pandemi Covid-19. Pasalnya, pada kuartal II-2020, industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh 8,65% dibandingkan yang sama tahun 2019.

“Kami melihat, industri jamu dapat menghadapi tantangan dan menggunakan peluang yang ada. Industri jamu berperan penting untuk pertumbuhan ekonomi nasional dengan menyediakan lapangan kerja untuk 3 juta tenaga kerja, dan tahun lalu tumbuh 6% atau di atas pertumbuhan ekonomi nasional,” ucap Agus.

Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun mengatakan, selama pandemi Covid-19, kebutuhan Tiongkok terhadap obat tradisional atau obat berbahan baku herbal mengalami peningkatan sekitar 32,82%. Sepanjang Januari-Juli 2020, India menjadi negara eksportir jamu terbesar ke Tiongkok dengan nilai ekspor mencapai US$ 11,15 juta atau 22,02% dari total ekspor jamu ke Tiongkok.

Sementara itu, pada saat yang sama, Indonesia berada di posisi ke-11 dengan nilai ekspor US$ 1,12 juta atau 2,21% dari total ekspor. “Aneh memang, kita punya semua yang ada di Indonesia, tapi kita masih jauh dari negara-negara lain,” kata Djauhari dalam kesempatan yang sama.

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN