Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Aktivitas pariwisata di kampung adat Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Aktivitas pariwisata di kampung adat Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gerakan BISA di Wisata Kampung Adat Wae Rebo

Rabu, 16 September 2020 | 15:32 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

WAE REBO, investor.id - Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo (BOPLBF) Shana Fatina menyatakan tekadnya untuk terus menerapkan protokol kebersihan, kesehatan, keamanan, dan ramah lingkungan (Cleanliness, Health, Safety, Environment/CHSE) secara ketat seiring dimulainya aktivitas pariwisata di kampung adat Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Wae Rebo adalah sebuah desa adat terpencil di Kabupaten Manggarai, yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Di kampung ini hanya terdapat tujuh rumah utama, yang disebut sebagai Mbaru Niang.

“Ini sebagai tindak lanjut dari reaktivasi wisata kampung adat Wae Rebo, yang secara resmi dilakukan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat pada 6 September 2020 lalu,” kata Shana melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, pada Rabu (16/9/2020).

Shana mengatakan, langkah-langkah konkret yang ditempuh BOPLBF adalah menyelenggarakan kegiatan padat karya melalui Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat, dan Aman) di Wae Rebo. Sebelumnya, BOPLBF juga mengadakan gerakan serupa di Kabupaten Sikka, Pulau Komodo, Kabupaten Ende, Kampung Air Labuan Bajo.

Aktivitas pariwisata di kampung adat Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Aktivitas pariwisata di kampung adat Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Program yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif adalah bagian dari upaya pemerintah memulihkan sektor pariwisata melalui penguatan destinasi-destinasi wisata dengan menerapkan protokol CHSE secara ketat.

Ia mengatakan, kegiatan yang berlangsung selama dua hari, yaitu pada 13-14 September 2020 melibatkan masyarakat kampung adat Wae Rebo. Selain mengadakan kegiatan bersih–bersih bersama dan simulasi penerapan protokol kesehatan, pada kesempatan itu Shana juga menyerahkan secara simbolis sejumlah peralatan pendukung untuk kelancaran penerapan normal baru di destinasi wisata adat seperti, alat pengukur suhu tubuh thermo gun, masker, face shield, sapu lidi, dan alat kebersihan lainnya.

“Kami berharap masyarakat Wae Rebo akan menerima kembali kunjungan wisatawan dan sekaligus sebagai upaya kami menyosialisasikan penerapan tatanan normal baru menggunakan standar protokol CHSE di destinasi wisata,” jelas Shana.

Dikatakan, letak geografis Wae Rebo yang cukup jauh dari keramaian dan berada di ketinggian menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi wisatawan untuk mencapai daerah itu.

“Wae Rebo letaknya jauh dan berada di ketinggian. Jadi, penerapan protokol CHSE harus benar-benar disiplin demi keselamatan wisatawan dan masyarakat. Nah, ini yang kita dorong dan kita terus mengedukasi masyarakat agar memahami betapa pentingnya menerapkan protokol kesehatan secara disiplin,” jelas Shana.

Aktivitas pariwisata di kampung adat Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Aktivitas pariwisata di kampung adat Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selain mengedukasi tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan secara ketat, BOPLBF juga mendesain jalur evakuasi di kampung adat Wae Rebo. Hal itu dilakukan untuk menjamin terlaksananya sistem pengamanan keselamatan dan kesehatan bagi wisatawan maupun masyarakat setempat.

“Kedepannya masyarakat Wae Rebo juga akan dilatih tentang bagaimana mengatasi masalah kesehatan yang mendesak. Perlu didesain jalur evakuasi, sehingga bisa menjamin keamanan dan keselamatan masyarakat maupun wisatawan,” jelas Shana.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pelestarian Budaya dan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Alam dan Budaya Wae Rebo, Fransiskus Mudir mengapreasiasi upaya pemerintah pusat dan daerah yang telah memperhatikan masyarakat di kampung adat Wae Rebo.

“Kami berterima kasih atas perhatian yang diberikan oleh Kementerian Pariwisata melalui BOPLBF, yang tak henti-hentinya memberikan dukungan kepada kami. Ini menjadi awal yang baik. Kegiatan seperti ini kami perlukan saat ini, sehingga kami tidak terus-terusan terkurung dalam rasa takut yang berlebihan”, ungkap Fransiskus.

Fransiskus berharap, Gerakan BISA dapat menjadi pemicu bagi masyarakat Wae Rebo untuk menerapkan gaya hidup bersih dan sehat.

“Kiranya ke depannya ini menjadi gaya hidup masyarakat kampung Wae Rebo, selain memberikan keindahan dan kenyamanan kepada semua pihak,” kata Fransiskus.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN